Bank Raksasa Terseret Kasus Epstein, Danai Persembunyian Maxwell?

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Nama bank raksasa asal Swiss, UBS, terseret dalam pusaran kasus kejahatan seksual yang melibatkan Jeffrey Epstein dan kaki tangannya, Ghislaine Maxwell. Dokumen terbaru Departemen Kehakiman Amerika Serikat mengungkap peran UBS dalam aliran dana yang digunakan Maxwell untuk membeli properti persembunyian sebelum penangkapannya.

Laporan Reuters, Sabtu (28/3/2026), menyebut properti terpencil seluas 156 hektare di New Hampshire yang dijuluki "Tucked Away" itu dibeli secara tunai pada Desember 2019 seharga US$1,1 juta atau sekitar Rp17,05 miliar. Rumah tersebut menjadi lokasi Maxwell bersembunyi hingga akhirnya ditangkap FBI pada Juli 2020.

Berdasarkan dokumen penyelidikan, dana pembelian rumah tersebut berasal dari transfer UBS yang dikirim sebulan sebelumnya melalui jaringan perwalian dan rekening bank. Transfer tetap diproses meski UBS telah menerima surat panggilan pengadilan dari otoritas AS pada Agustus 2019 terkait penyelidikan perdagangan seks anak yang melibatkan Epstein.

UBS bahkan diketahui masih menangani transaksi untuk rekening terkait Maxwell sekitar tiga bulan setelah panggilan tersebut diterbitkan. Dalam komunikasi internal, bank sempat memberi tahu Maxwell bahwa hubungan bisnis akan dihentikan dalam waktu satu bulan, tanpa menjelaskan alasan.

"Bank yang diberitahu tentang penyelidikan kriminal biasanya akan berupaya mencari informasi publik untuk membenarkan pembekuan dana," ujar Tom Kirchmaier, pakar kejahatan keuangan dari London School of Economics.

Dokumen juga mengungkap bahwa UBS mentransfer hampir US$8 juta atau sekitar Rp124 miliar pada November 2019 dari rekening Montpelier Trust, entitas yang didirikan Maxwell, ke rekening investasi yang kemudian digunakan untuk pembelian properti tersebut.

Aliran dana ini terjadi saat UBS masih berdiskusi dengan FBI terkait dokumen yang diminta melalui panggilan dewan juri. Hingga kini, belum jelas apakah transaksi tersebut dilaporkan sebagai aktivitas mencurigakan kepada otoritas, sebagaimana diwajibkan bagi bank yang beroperasi di AS.

Kasus ini kembali menyoroti peran lembaga keuangan dalam menangani nasabah berisiko tinggi. Senator AS Ron Wyden menilai bank kerap mengabaikan tanda bahaya demi mempertahankan klien kaya.

"Pola yang kami lihat adalah bank enutup mata karena klien yang sangat kaya bisa dengan mudah memindahkan uang mereka ke tempat lain," kata Wyden.

Ia juga menegaskan bahwa Maxwell bukan sekadar pihak pinggiran dalam kasus Epstein. "Ghislaine Maxwell bukan hanya sekadar kaki tangan kecil dalam kejahatan Epstein, dia adalah bagian penting dari operasi perdagangan manusia yang menjangkau seluruh dunia," ujarnya.

Dokumen tersebut juga menunjukkan bahwa Epstein tetap memiliki akses ke layanan keuangan besar Wall Street bahkan setelah vonis tahun 2008, menyoroti lemahnya pengawasan terhadap nasabah berprofil tinggi.

Jejak Kekayaan Maxwell

Dalam dokumen pengadilan, kekayaan gabungan Maxwell dan suaminya saat itu, Scott Borgerson, diperkirakan mencapai US$22,5 juta atau sekitar Rp348,75 miliar pada 2020.

Sebagian besar kekayaan tersebut berasal dari penjualan properti di Manhattan senilai US$15 juta (Rp232,5 miliar) pada 2015. Dana itu kemudian mengalir melalui rekening UBS untuk berbagai investasi, termasuk pembelian properti di New Hampshire.

UBS diketahui pernah mengelola dana hingga US$19 juta (Rp294,5 miliar) milik Maxwell. Pada Oktober 2020, ia masih memiliki sekitar US$4,1 juta atau Rp63,55 miliar di bank tersebut.

Selain UBS, bank Inggris Barclays juga disebut menyimpan dana Maxwell di luar AS, dengan saldo mencapai US$2,4 juta atau sekitar Rp37,2 miliar pada 2018.

Maxwell ditangkap FBI di properti "Tucked Away" setelah sempat menggunakan nama samaran "Janet Marshall" dan mengaku sebagai jurnalis untuk menjaga privasinya saat membeli rumah tersebut.

Saat penangkapan, aparat menemukan ponsel yang dibungkus aluminium untuk menghindari pelacakan, serta sistem keamanan yang melibatkan mantan personel militer Inggris.

Maxwell divonis bersalah pada 2021 dan dijatuhi hukuman 20 tahun penjara atas perannya dalam merekrut dan mengeksploitasi gadis di bawah umur dalam jaringan Epstein.

Hingga kini, UBS dan sejumlah pihak terkait menolak memberikan komentar rinci mengenai transaksi dan hubungan mereka dengan Maxwell.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |