Bikin Sedih! Hampir Sepertiga Pengangguran RI Isinya SMA

2 hours ago 4

Kanthi Malikhah,  CNBC Indonesia

10 February 2026 15:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Pengangguran masih menjadi tantangan serius di Indonesia, terutama jika dilihat dari latar belakang pendidikan.

Secara definisi, pengangguran mencakup penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja namun sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima kerja tetapi belum mulai bekerja, atau bahkan mereka yang merasa putus asa karena menilai peluang kerja sulit didapat.

Jika ditinjau berdasarkan pendidikan tertinggi yang ditamatkan, pola Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) relatif konsisten sejak Februari 2024 hingga November 2025.

Lulusan SMA dan SMK Masih Mendominasi Pengangguran Indonesia

BPS mencatat pada November 2025, lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) memiliki Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tertinggi sebesar 8,45%. Sederhananya, dari semua lulusan SMK di angkatan kerja, sekitar 8,45% nya menganggur.

Kondisi ini menjadi ironi, mengingat pendidikan SMK secara khusus dirancang untuk menyiapkan lulusan yang siap kerja melalui pelatihan vokasi dan keterampilan praktis. Banyak siswa juga memilih jalur ini sebagai alternatif selain melanjutkan kuliah, dengan harapan dapat langsung terserap ke dunia kerja.

Dari sisi distribusi total pengangguran, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) menjadi kelompok terbesar. Pada November 2025, kontribusinya mencapai 29,61% dari total pengangguran nasional. Artinya, dari seluruh penganggur di Indonesia, proporsi terbesar berasal dari lulusan SMA dengan jumlah hampir sepertiga.

Kondisi ini diduga dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni masih adanya kesenjangan antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja, serta jumlah lulusan SMA yang relatif besar sehingga kontribusinya terhadap total pengangguran juga lebih dominan.

Sebaliknya, distribusi pengangguran paling kecil berasal dari lulusan Diploma I/II/III, yakni sekitar 1,95% pada November 2025. Hal ini dapat mencerminkan orientasi pendidikan vokasi yang lebih spesifik terhadap kebutuhan industri, sehingga peluang kerja relatif lebih terbuka dibanding sebagian jenjang pendidikan lainnya.

Namun demikian, angka tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa lulusan diploma terbebas dari tantangan pasar kerja, karena persaingan mendapatkan pekerjaan tetap ketat dan proses transisi dari pendidikan ke dunia kerja masih menjadi tantangan bagi sebagian lulusan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan saja belum otomatis menjamin terserapnya tenaga kerja. Kesesuaian keterampilan, dinamika kebutuhan industri, serta kualitas pelatihan kerja menjadi faktor kunci dalam menekan angka pengangguran ke depan. Selain itu, penyediaan lapangan kerja yang layak dan memadai juga menjadi aspek penting agar peningkatan kualitas pendidikan dapat benar-benar diikuti dengan penyerapan tenaga kerja yang optimal.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |