Bocah 14 Tahun Tembak Kakek-Nenek, Pemerintah Langsung Razia Ketat

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Thailand memerintahkan seluruh sekolah untuk memperketat pengawasan, menyusul tragedi penembakan pada 7 Agustus di dekat Bangkok, di mana seorang remaja berusia 14 tahun membunuh kakek-neneknya, lima staf sekolah, dan seorang murid, sebelum akhirnya menembak dirinya sendiri.

"Insiden seperti ini seharusnya tidak terjadi di sekolah," ujar Kepala Sekolah Sawasdee Witthaya, Suparong Sawangngamwong, kepada AFP, dikutip dari Channel News Asia, Sabtu (15/8/2026).

Ia berharap pemeriksaan ketat ini dapat membuat "orang tua merasa tenang" dan meyakinkan mereka bahwa sekolah adalah tempat yang aman, tempat mereka memercayakan anak-anak untuk menghabiskan waktu sehari-hari.

Sebagai sekolah negeri sederhana yang terletak di tengah kawasan permukiman kelas atas, Sawasdee Witthaya memiliki lebih dari 500 murid berusia 6 hingga 12 tahun serta 30 orang guru.

Pada Jumat pagi, enam guru memeriksa tas punggung para murid dengan teliti saat mereka tiba untuk mengikuti pelajaran, termasuk memeriksa setiap kantong tas.

Saat tas dikembalikan, anak-anak tersebut satu per satu merapatkan kedua telapak tangan dan membungkuk kepada guru. Hal ini merupakan gestur salam khas Thailand (wai) yang diajarkan sebagai bagian dari tata krama sekolah.

Sebelumnya, "kami hanya memeriksa tas siswa secara acak di kelas-kelas tinggi atau anak-anak yang memiliki masalah perilaku," kata Suparong, yang berpengalaman mengajar selama lebih dari dua dekade.

"Namun sekarang, kami melakukannya untuk seluruh siswa."

Menurut keterangan polisi, pelaku penembakan di Thailand tersebut diketahui sering menonton konten kekerasan secara daring (online). Tragedi ini meninggalkan duka mendalam bagi para siswa dan guru yang kehilangan seorang siswi dalam insiden berdarah tersebut.

Pemerintah Kota Bangkok (BMA) pekan ini memerintahkan sekolah-sekolah di bawah naungannya untuk melakukan pemeriksaan senjata, menjaga keamanan selama 24 jam, serta menerapkan protokol ketat bagi setiap pengunjung.

Langkah-langkah tegas tersebut disambut baik oleh para orang tua murid.

"Sekolah seharusnya menjadi zona aman bagi anak-anak," ujar Araya Chanu saat mengantar putrinya yang duduk di kelas lima (berusia 10-11 tahun).

Perempuan berusia 37 tahun itu mengaku bahwa insiden penembakan pada Jumat lalu di Nonthaburi, wilayah yang berdekatan dengan pinggiran ibu kota Thailand, sempat membuatnya cemas. Namun, ia menilai langkah-langkah baru yang diterapkan sekolah sangat membantu. Menurutnya, pencegahan akan jauh lebih efektif jika orang tua bekerja sama dengan pihak sekolah.

Suparong menambahkan bahwa pihak sekolah telah bekerja sama dengan polisi setempat untuk mengadakan latihan tanggap darurat (simulasi darurat) sebanyak satu kali setiap semester. Selain itu, dua petugas keamanan dan enam guru bertugas secara bergantian setiap hari untuk memastikan setiap anak dijemput dengan aman oleh orang tua mereka.

Akan tetapi, Suparong memperingatkan bahwa sekolahnya membutuhkan alokasi dana tambahan untuk melakukan pembenahan yang diperlukan. Meskipun telah terdapat kamera CCTV di keempat lantai sekolah, beberapa unit di antaranya rusak dan sekolah masih membutuhkan lebih banyak kamera pengawas.

Dalam insiden penembakan tersebut, pelaku menggunakan pistol milik kakeknya untuk membunuh kakek dan neneknya sebelum berangkat ke sekolah. Di sana, ia menembak mati lima guru dan staf, serta melukai seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang kemudian meninggal dunia di rumah sakit keesokan harinya.

Insiden berdarah ini kembali memicu perdebatan mengenai pengendalian senjata api di Thailand, negara dengan salah satu tingkat kepemilikan senjata api tertinggi di Asia Tenggara.

Menyusul serangan tersebut, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan Kementerian Dalam Negeri dan Kepolisian untuk menghentikan sementara penerbitan izin kepemilikan, pembelian, dan pembawaan senjata api, serta menyerukan perlunya "pengawasan yang lebih ketat dan hukuman yang tegas".

Meski demikian, publik tetap menyoroti janji-janji pemerintah sebelumnya terkait pengetatan aturan senjata api yang dinilai belum mampu mencegah berulangnya tragedi penembakan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |