Jakarta, CNBC Indonesia - PT Agrinas Pangan Nusantara (Persero) menegaskan rencana impor 105.000 unit kendaraan pikap dari India merupakan inisiatif bisnis perusahaan, bukan arahan pihak tertentu. Di tengah polemik yang berkembang, Direktur Utama Agrinas Joao Angelo De Sousa Mota menyatakan akan menemui Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad untuk memberikan penjelasan langsung sekaligus meminta arahan.
"Saya akan mencari waktu untuk meminta arahan dan petunjuk dari Pak Dasco yang sudah menyampaikan terkait penundaan ini (impor pikap dari India)," katanya dalam keterangannya kepada media dikutip Rabu (25/2/2026).
Joao juga menegaskan bahwa sebagai BUMN, Agrinas akan tunduk pada keputusan pemerintah dan DPR. Ia menepis anggapan bahwa kebijakan tersebut digerakkan kepentingan tertentu, sekaligus menyatakan siap menghentikan impor bila diminta negara. Ia menilai penting untuk memberikan gambaran lengkap agar informasi yang diterima para pemangku kepentingan tidak sepihak.
"Beliau adalah orang yang bijak, saya yakin informasi yang lengkap saya sampaikan beliau akan melihat bahwa itikad baik kami ini perlu diapresiasi. Mungkin selama ini beliau hanya mendengarkan dari satu sisi. Jadi sekarang saya akan mencoba mencari waktu beliau," kata Joao.
"Yang menolak ini siapa? Karena saya ini kan BUMN, saya pasti taat kepada pemerintah dan rakyat. Jadi kami hanya kami setia kepada negara dan rakyat, tidak kepada individu atau kelompok tertentu yang menolak. Selama negara berpihak mendukung apa yang kami lakukan, akan kami laksanakan," tegasnya.
Bahkan jika keputusan penghentian impor berujung pada potensi gugatan dari pemasok, Joao menyatakan siap menanggung konsekuensinya. "Kalau negara dan DPR mengatakan bahwa kami harus hentikan, kami hentikan dengan segala risiko," jelas dia.
Joao mengatakan keputusan impor diambil setelah perusahaan menilai produsen dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan dari sisi harga maupun kapasitas produksi.
"Ini inisiatif karena melihat daripada ketidakmampuan produksi dari produsen [lokal] yang saya katakan, dan selama ini menjual mobil di Indonesia," ujar Joao.
Rencana impor tersebut terdiri dari 35.000 unit pikap 4x4 dari Mahindra & Mahindra, serta masing-masing 35.000 unit pikap 4x4 dan 35.000 unit truk roda enam dari Tata Motors. Seluruh kendaraan akan digunakan sebagai armada operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).
Joao mengungkapkan sebelum memutuskan impor, pihaknya telah mengundang sejumlah produsen otomotif lokal maupun yang memiliki fasilitas produksi di Indonesia. Namun penawaran yang diterima dinilai belum memenuhi aspek keekonomian perusahaan.
"Kami pastikan bahwa semua produsen lokal kami undang. Astra menawarkan. Harga yang mereka tawarkan tidak kami sepakati, dan juga kemampuan produksi mereka," katanya.
Menurutnya, Agrinas berharap mendapatkan skema harga khusus mengingat volume pembelian yang besar dan sifat pengadaan yang diklaim sebagai program khusus. Namun hal itu tidak terwujud dalam negosiasi.
"Tetapi, sampai akhir ternyata produsen-produsen lokal ini sebagian besar, mungkin karena dominasi selama sekian puluh tahun, mereka cenderung merasa bahwa membeli bulk itu tidak ada bagi mereka," tutur Joao.
"Menurut saya ini tidak fair, karena kita untuk Koperasi Merah Putih ini kita pembelian yang bukan menjadi seperti market biasa. Ini kan kegiatan khusus. Jadi harusnya kami diberikan harga khusus."
Foto: Foto kolse mobil pick up Yodha dan Mahindra. (CNBC Indonesia)
Foto kolse mobil pick up Yodha dan Mahindra. (CNBC Indonesia)
(dce)
Addsource on Google

10 hours ago
4

















































