Jakarta, CNBC Indonesia - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,6% belum sepenuhnya tergambar nyata dalam kinerja industri pelayaran nasional. Pelaku usaha mengaku masih menghadapi perlambatan permintaan angkutan, khususnya pada segmen kontainer.
Wakil Ketua Umum Koordinator bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Kadin Indonesia Carmelita Hartoto mengatakan, pergerakan sektor pelayaran domestik masih sangat dipengaruhi konsumsi masyarakat.
Daya beli menjadi faktor utama yang menentukan tingkat aktivitas distribusi barang di berbagai daerah. Karena itu, biaya logistik perlu dijaga agar tidak semakin membebani harga barang di tingkat konsumen.
"Angkutan domestik itu kan tergantung juga dari daya beli masyarakat. Makanya saya selalu menyampaikan bahwa kalau bisa tarif-tarif juga di pelabuhan maupun tarif-tarif daripada freight jangan terlalu tinggi karena pada akhirnya juga masyarakat yang akan terkena dampaknya. Dari membeli harga barang mereka juga menjadi tinggi," ujar Carmelita kepada CNBC Indonesia, Selasa (2/6/2026).
Aktivitas logistik yang meningkat membuka peluang bagi sektor pelayaran. Namun, pelaku usaha menilai keberlanjutan permintaan tetap bergantung pada kondisi ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Selama daya beli tetap terjaga dan aktivitas ekonomi berjalan stabil, industri pelayaran masih memiliki ruang untuk bertumbuh.
"Nah selama masih bisa terkontrol perekonomian kita, daya beli masyarakat juga masih ada, ya kita masih bisa berjalan gitu. Nah ini yang menjadi tantangan buat kita pasti," katanya.
Di tengah data pertumbuhan ekonomi nasional yang cukup tinggi, industri pelayaran justru belum merasakan dampak positif secara merata. Pelaku usaha bahkan masih berupaya menahan agar penurunan aktivitas tidak semakin dalam.
"Kalau ditanya sebenarnya, angkutan ini tentunya ada penurunan ya. Kita hanya menjaga supaya penurunan ini tidak drastis turun. Jadi angkutan kontainer juga berkurang," ujar Carmelita.
Ia menjelaskan, lonjakan aktivitas yang sempat terlihat pada awal tahun lebih banyak dipengaruhi momentum libur panjang. Periode Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran yang berdekatan membuat kebutuhan distribusi meningkat dalam waktu bersamaan.
"Pada saat kemarin ini pertumbuhan kelihatannya banyak itu angkutan pada saat Lebaran, Tahun Baru, Tahun Baru Chinese New Year itu waktunya hampir bersamaan. Jadi kelihatannya dampaknya wah itu jadi adanya kemacetan. Kebetulan juga memerlukan lebih banyak kontainer yang diperlukan. Terus ada juga adanya keberhentian daripada angkutan. Jadi sebenarnya itu dampaknya karena hari-hari besar itu berada berdekatan," sebut Carmelita.
(dce)
Addsource on Google

4 hours ago
1

















































