Jakarta, CNBC Indonesia - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. mengandalkan unit bisnis infrastruktur sebagai sumber pertumbuhan baru perusahaan. Unit bisnis Telkom yang bergerak di bidang business-to-business didorong untuk mengejar pendapatan dari perusahaan di luar grup Telkom.
Berdasarkan data yang dipaparkan kepada media, Telkom kini membagi kategori bisnis perusahaan ke dalam 5 bidang usaha yaitu business-to-consumer (Telkomsel), B2B Infra (Infranexia, Mitratel, NeutraDC, Telkomsat), B2B ICT (Telkomsigma, EBIS), internasional (Telin), dan bisnis lainnya (Telkommetra, Finnet).
Sepanjang 2025, kelompok bisnis B2B Infra adalah kontributor kedua terbesar Telkom Group dengan pendapatan senilai Rp 56,6 triliun, setelah Telkomsel yang membukukan pendapatan Rp 109,2 triliun.
Namun, mayoritas pendapatan B2B Infra berasal dari pendapatan non-eksternal yaitu Rp 47,7 triliun dibanding pendapatan dari luar grup Telkom yang hanya Rp 8,9 triliun. Hanya pendapatan eksternal yang kemudian bisa dikonsolidasikan sebagai pendapatan TLKM sepanjang 2025.
Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan pendapatan eksternal dari bisnis B2B Infra merupakan peluang besar bagi Telkom untuk memacu pertumbuhan saat laju pertumbuhan pendapatan dari Telkomsel tidak secepat dulu.
Dia menjelaskan penetrasi layanan mobile di Indonesia sudah sangat tinggi dan merata. Potensi pertumbuhan pengguna yang tinggi masih ada di segmen fixed broadband atau internet kabel lewat bisnis Indihome. Namun di segmen ini, kompetisi yang ketat membuat pendapatan per pengguna justru turun sehingga lajut pertumbuhan pendapatan terbatas.
"Spin-off Infranexia memang tujuannya untuk menghasilkan revenue baru. Jadi ini yang kita dorong," katanya, Rabu (20/5/2026).
Per Desember 2025, Telkom telah menyelesaikan spin-off aset dan bisnis fiber optik perusahaan ke anak usaha yang diberi nama Infranexia. Seluruh proses pengalihan aset dan bisnis ke Infranexia ditargetkan selesai pada Q3 2026.
Direktur Wholesale & International Service Telkom Budi Satria Dharma Purba mengungkapkan bahwa dampak dari spin-off terhadap pertumbuhan pendapatan Infranexia dari luar grup Telkom udah tampak pada awal 2026.
Sebelum spin-off, jelasnya, kontribusi pendapatan eksternal terhadap pendapatan Telkom dari bisnis fiber optik hanya 15 persen. Pada Januari 2025 setelah spin-off, pertumbuhan bisnis eksternal Infranexia sudah tumbuh di atas 15 persen.
"Kita mau dorong [kontribusi eksternal] 25 persen, begitu kita spin-off tahap satu. Efektif pada Januari itu, kita langsung push agar banyak ke pasar eksternal," kata Budi.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji mengatakan bahwa salah satu target utama dari strategi TLKM30 adalah meningkatkan kontribusi bisnis B2B Telkom.
"Sekarang itu proporsi revenue 70 persen B2C. Ini yang ingin kita ubah. Pada 2030, target kita 55-45 atau minimal 60-40," kata Seno.
Telkom melaporkan pendapatan Rp 146,74 triliun selama periode 2025 dengan laba bersih Rp 17,8 triliun.
(dem/dem)
Addsource on Google

10 hours ago
8

















































