Bukan Cuma Minyak, Plastik Kini Jadi Korban Perang Iran

8 hours ago 6

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

05 April 2026 18:45

Jakarta,CNBCIndonesia- Perang di Iran tidak hanya memicu lonjakan harga minyak dan gas dunia. Di balik gejolak energi itu, ada dampak lain yang mulai membesar, yakni gangguan pada rantai pasok plastik yang berisiko mendorong kenaikan harga berbagai barang konsumsi.

Sejak perang pecah pada akhir Februari, harga minyak disebut telah naik lebih dari 40%, bahkan sempat melonjak dari US$67 per barel ke di atas US$100 per barel.

Kenaikan harga ini mungkin tidak langsung terlihat jelas oleh masyarakat. Namun, tekanan biaya sebenarnya mulai terbentuk dari hulu, yakni dari bahan baku dan energi yang menjadi fondasi industri plastik hingga kaca.

Ketika serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran mendorong gangguan di Selat Hormuz, pasar bukan hanya khawatir terhadap pasokan minyak, tetapi juga terhadap kelancaran rantai pasok petrokimia global.

Apalagi selat ini menjadi jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Plastik Jadi Biaya Tersembunyi dari Perang

Plastik bisa dibilang menjadi salah satu biaya tersembunyi dari perang. Sebab, bahan ini dipakai hampir di seluruh rantai pasok, mulai dari kemasan makanan dan minuman, alat rumah tangga, hingga kebutuhan manufaktur.

Masalahnya, kenaikan biaya plastik tidak selalu langsung terlihat di label harga sebuah barang. Konsumen mungkin hanya merasa harga barang di toko makin mahal, tanpa mengetahui bahwa salah satu penyebabnya berasal dari kenaikan biaya bahan plastik di belakang layar.

Produk-produk yang sebagian besar berbahan plastik diperkirakan akan menjadi yang paling cepat terdampak. Barang seperti alat makan sekali pakai, minuman dalam kemasan, dan kantong sampah disebut berpotensi mengalami kenaikan harga lebih dulu dalam beberapa pekan ke depan.

Penyebab Naiknya Harga Plastik

Tekanan pada plastik bermula dari lonjakan harga minyak dan gas alam yang terjadi sejak perang pecah pada akhir Februari. Ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor yang membuat pasar energi bergejolak. Dalam periode yang sama, harga gas acuan di Asia dan Eropa bahkan disebut melonjak lebih dari 60%.

Kondisi ini sangat berdampak pada industri plastik karena lebih dari 99% plastik global berasal dari bahan bakar fosil. Artinya, kenaikan harga energi tidak hanya mengerek ongkos produksi di pabrik, tetapi juga menaikkan harga bahan baku plastik itu sendiri.

Bahan seperti polyethylene dan polypropylene, yang merupakan dua jenis plastik paling luas digunakan di dunia, ikut terkena tekanan. Apalagi Timur Tengah merupakan pemasok utama bahan baku plastik global, dengan kontribusi sekitar seperempat ekspor dunia untuk polyethylene dan polypropylene.

Bahkan, sekitar 84% kapasitas ekspor laut polyethylene dari Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz. Karena itu, ketika rantai distribusi di kawasan tersebut terganggu, dampaknya langsung terasa di pasar. Dalam 30 hari terakhir, harga resin plastik bahkan disebut sudah melonjak dua digit di berbagai kategori manufaktur.

Kaca Juga Kena Imbas

Bukan hanya plastik, industri kaca juga berada dalam posisi rentan. Berbeda dengan plastik yang sangat terkait dengan bahan baku petrokimia, tekanan pada kaca terutama datang dari sisi energi.

Produksi kaca membutuhkan tungku bersuhu sangat tinggi yang harus terus menyala. Artinya, industri ini sangat bergantung pada pasokan gas yang stabil dan murah. Ketika harga gas melonjak, biaya produksi kaca ikut terkerek.

Inilah yang membuat perang di kawasan produsen energi tidak hanya memukul pasar minyak, tetapi juga merambat ke sektor-sektor industri yang terlihat jauh dari medan konflik. Pada akhirnya, tekanan itu bisa berujung pada naiknya biaya produksi dan harga jual barang.

Plastik Masih Sulit Tergantikan

Persoalan lain adalah tidak mudah mengganti plastik dengan bahan lain dalam waktu singkat. Plastik sudah telanjur tertanam di banyak sektor, dari kemasan, konstruksi, otomotif, hingga layanan kesehatan.

Mengalihkan penggunaan ke kertas atau kaca bukan perkara sederhana. Produsen harus mengubah desain, menyesuaikan lini produksi, dan menanggung biaya tambahan lain. Karena itu, dalam jangka pendek pilihan penggantinya sangat terbatas.

Akibatnya, banyak perusahaan kemungkinan lebih memilih menyesuaikan ukuran, spesifikasi, atau harga jual produk ketimbang mengganti bahan baku secara total.

Ujungnya Bisa Sampai ke Harga Barang Sehari-hari

Dampak perang ini pada akhirnya berpotensi sampai ke konsumen. Kenaikan biaya kemasan dapat mendorong harga makanan dalam 2-4 bulan ke depan, seiring perusahaan menghabiskan stok yang sudah ada.

Untuk sektor seperti otomotif, dampaknya mungkin datang lebih lambat karena harga biasanya terikat kontrak dan struktur biayanya lebih kompleks. Namun, jika harga minyak tetap tinggi selama 3-4 bulan, tekanan biaya bisa terus merembet dan bertahan lebih lama, bahkan berpotensi terasa hingga 1-2 tahun.

Bahkan, sekalipun perang berhenti dalam waktu dekat, normalisasi rantai pasok plastik tidak akan langsung terjadi. Artinya, efek dari konflik bisa tetap terasa pada harga barang jauh setelah situasi perang mereda.

CNCBINDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |