China Kritik Kemenangan Dalai Lama di Grammy, Sebut Manipulasi Politik

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China melontarkan kritik keras atas kemenangan Dalai Lama di ajang Grammy Awards. Beijing menilai penghargaan tersebut telah dimanfaatkan sebagai alat "manipulasi politik anti-China".

Dalai Lama meraih Grammy di kategori audiobook untuk karya Meditations: The Reflections of His Holiness the Dalai Lama. Menanggapi kemenangan yang tak lazim itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menegaskan negaranya menolak penggunaan ajang seni dan budaya untuk kepentingan politik.

"Kami dengan tegas menentang pihak-pihak terkait yang menggunakan penghargaan seni sebagai alat manipulasi politik anti-China. Sikap ini konsisten dan jelas," kata Lin Jian dikutip dari BBC, Rabu (4/2/2026).

Dalai Lama sendiri menyambut penghargaan tersebut dengan nada rendah hati. Dalam pernyataan di media sosial, pemimpin spiritual Buddha Tibet berusia 90 tahun itu mengatakan dirinya menerima penghargaan dengan rasa syukur dan kerendahan hati.

"Saya tidak melihatnya sebagai sesuatu yang personal, melainkan sebagai pengakuan atas tanggung jawab universal yang kita miliki bersama," tulisnya.

Penghargaan Grammy tersebut diterima atas nama Dalai Lama oleh musisi Rufus Wainwright, yang turut terlibat dalam proyek audiobook tersebut. Dalai Lama telah hidup di pengasingan di Dharamshala, India, sejak 1959 setelah melarikan diri dari Tibet menyusul penumpasan pemberontakan oleh pasukan China.

Beijing selama ini menyebutnya sebagai separatis, meski Dalai Lama berulang kali menyatakan hanya memperjuangkan otonomi yang lebih besar bagi Tibet, bukan kemerdekaan penuh. Ketegangan antara Dalai Lama dan China kembali menguat sejak tahun lalu, ketika ia mengkonfirmasi rencana penunjukan penerusnya.

Dalam tradisi Buddhisme Tibet, Dalai Lama diyakini bereinkarnasi setelah wafat. Namun Dalai Lama menyatakan reinkarnasinya kelak akan terjadi di "dunia bebas", di luar China yang berhaluan komunis dan ateis.

Pemerintah China dengan cepat menolak pernyataan tersebut. Otoritas Beijing menegaskan, proses suksesi Dalai Lama harus mengikuti hukum China, ritual keagamaan, serta konvensi historis, dan pada akhirnya memerlukan persetujuan pemerintah pusat.

Isu ini memicu kekhawatiran baru di kalangan warga Tibet di pengasingan bahwa China akan menunjuk Dalai Lama versi pemerintah untuk memperkuat kontrol atas Tibet, wilayah yang diduduki sejak 1950 dan berada di bawah kekuasaan Beijing hingga kini.

(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |