Danau Toba Surut, Ikan Mati Massal Bergelimpangan

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Institut Pertanian Bogor menemukan penurunan muka air kawasan Danau Toba. Fenomena ini terjadi karena musim kemarau berkelanjutan dan dapat mengancam berbagai kegiatan termasuk sektor perikanan budi daya.

Data satelit altimetri mencatat muka air dana terus menurun hingga sekitar 1,6 meter pada periode Juni 2025 hingga Maret 2026. Kemungkinan bisa menurun hingga 2 meter jika kemarau terus berkelanjutan.

Bencana ini bisa lebih parah lagi karena BMKG merilis prediksi kemungkinan El Nino dan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif bersamaan pada 2026.

"Kombinasi ini dapat memicu musim kering berkepanjangan di Indonesia, termasuk di kawasan Danau Toba, yang pada akhirnya mempercepat penyusutan volume air danau dan dapat menyebabkan kematian massal ikan di KJA [Keramba Jaring Apung]," jelas Ahli Penginderaan Jauh Satelit IPB, Jonson Lumban Gaol dalam keterangan dari website resmi IPB.

Penurunan muka air danau biasanya berhubungan dengan kejadian kematian massal ikan di KJA. Salah satunya ribuan ton ikan mati saat muka air surut sedalam dua meter pada 2016.

Selama beberapa tahun yakni 2018, 2020, dan 2023 hal serupa juga terjadi saat muka air relatif rendah dan dalam skala lebih kecil.

Namun dia menjelaskan penyebab langsung kematian ikan bukan disebabkan karena penurunan muka air, melainkan karena faktor pemicu campuran massa air saat cuaca ekstrem dan angin kencang terjadi.

Angin kencang akan mengaduk sedimen limbah organik pada perairan yang relatif dangkal. Sedimen yang terangkat ke permukaan bisa membuat insang ikan tersumbat.

"Pada saat yang sama, air dari lapisan bawah yang miskin oksigen naik ke atas, menyebabkan penurunan drastis kadar oksigen terlarut sehingga ikan di KJA mati," jelasnya.

Faktor lainnya adalah penumpukan limbah organik dan rumah tangga di dasar danau. Pada kondisi normal, limbah akan diuraikan oleh bakteri dengan bantuan oksigen.

Namun saat oksigen habis, proses penguraian berlangsung secara anaerobik dan menghasilkan gas beracun seperti hidrogen sulfida dan metana.

Jonson menjelaskan hidrogen sulfida dapat merusak sistem pernapasan ikan. Sementara metana juga ikut menurunkan kualitas air.

Jadi rendahnya oksigen, tingginya kandungan gas beracun, dan meningkatnya keruhan air menyebabkan kematian massal ikan di KJA.

Jonson mengimbau para nelayan bisa meningkatkan kewaspadaan. Misalnya saat ada tanda-tanda cuaca ekstrem, seperti kecepatan angin tinggi dan warna air mulai keruh, sebaiknya memindahkan KJA ke perairah lebih dalam atau langsung memanen ikan.

"Di sisi lain, pemerintah daerah dan pemangku kepentingan perlu bergerak lebih proaktif, tidak hanya dengan imbauan, tetapi juga dengan sistem yang mampu memberikan peringatan dini secara akurat dan cepat," tegasnya.

(dem/dem)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |