Jakarta, CNBC Indonesia - Dokumen terbaru yang dirilis Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ AS) mengungkap upaya mendiang taipan keuangan Jeffrey Epstein untuk mendekati pejabat tinggi Rusia, termasuk Presiden Vladimir Putin.
Epstein merupakan penjahat seksual dan terdakwa perdagangan anak di bawah umur, yang tewas gantung diri di penjara New York 2019 silam.
Fakta baru ini diungkap CNN International, Senin (9/2/2026). Ini menambah panjang daftar kontroversi seputar Epstein, yang banyak menyeret nama tokoh-tokoh tersohor dunia, dari Presiden AS Donald Trump, miliuner Bill Gates dan Elon Musk, serta sejumlah anggota kerajaan Eropa.
Dokumen tersebut tertanggal Juni 2018. Epstein berusaha membuka jalur komunikasi ke Kremlin, tak lama setelah meninggalnya duta besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin.
Churkin disebut sebagai sosok yang kerap bertemu Epstein di New York. Bahkan, Epstein pernah menawarkan bantuan untuk mencarikan pekerjaan bagi putra Churkin di sebuah perusahaan manajemen kekayaan di AS.
Setelah Churkin wafat, Epstein mengalihkan perhatiannya ke Menteri Luar Negeri (Menlu) Rusia Sergey Lavrov. Dalam sebuah email kepada politisi Norwegia Thorbjørn Jagland-saat itu Sekjen Dewan Eropa-Epstein secara terang-terangan meminta agar Lavrov diberi "wawasan" untuk berbicara dengannya, sekaligus menyebut hubungannya yang sebelumnya dengan Churkin.
"Saya rasa kamu harus memberikan saran ke Putin, bahwa Lavrov, bisa diberi wawasan dengan berbicara kepadaku. Ini dilakukan Vitaly Churkin tapi dia sudah meninggal," kata Epstein dalam dokumen itu.
"Churkin hebat. Dia paham Trump setelah percakapan kami. Ini tidak rumit," tulis Epstein lagi dalam salah satu email.
Sebenarnya ini bukan kali pertama ia meminta dibukakan jalur ke Putin. Pada 2013, Epstein bahkan mengklaim diminta untuk bertemu Putin di sela konferensi ekonomi di St. Petersburg, meski ia mengaku menolaknya karena menginginkan waktu dan privasi khusus.
Dalam korespondensi lain, Epstein menyebut dirinya berada di "posisi unik" untuk membantu Rusia guna menarik investasi Barat. Ia menjual kedekatannya dengan tokoh-tokoh global.
Namun demikian, dokumen tersebut tidak menunjukkan bukti bahwa Epstein pernah benar-benar bertemu atau berbicara langsung dengan Putin. Klaimnya pun tidak dapat diverifikasi secara independen.
Mata-Mata Rusia?
Sementara itu, Perdana Menteri (PM) Polandia Donald Tusk mengatakan dalam rapat kabinet minggu ini bahwa negaranya akan meluncurkan penyelidikan atas kemungkinan hubungan Epstein dengan intelijen Rusia.
"Semakin banyak petunjuk, semakin banyak informasi, dan semakin banyak komentar di pers global semuanya berkaitan dengan kecurigaan bahwa skandal pedofilia yang belum pernah terjadi sebelumnya ini diorganisir bersama oleh dinas intelijen Rusia," kata Tusk, masih dimuat laman yang sama.
"Saya tidak perlu memberi tahu Anda betapa seriusnya kemungkinan yang semakin besar bahwa dinas intelijen Rusia ikut mengorganisir operasi ini bagi keamanan negara Polandia," tambah Tusk.
"Ini hanya bisa berarti bahwa mereka juga memiliki materi yang dapat digunakan untuk menjatuhkan banyak pemimpin yang masih aktif hingga saat ini."
Pernyataan Tusk bukan tak berdasar. Dalam dokumen, Epstein terlihat memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh Rusia, termasuk Sergey Belyakov, mantan pejabat yang memiliki latar belakang dinas keamanan Rusia (FSB).
Epstein bahkan menyebut Belyakov sebagai "teman sangat baik". Ia juga menawarkan bantuan untuk menarik investasi bagi proyek-proyek Rusia.
Selain itu, Epstein tercatat beberapa kali mengunjungi Rusia, termasuk perjalanan pada 2002 bersama pacarnya, Ghislaine Maxwell ke Moskow dan St. Petersburg menggunakan pesawat pribadinya. Ia juga diketahui kembali mengajukan visa Rusia pada 2018, setahun sebelum ditangkap atas tuduhan perdagangan seks anak di AS.
Namun, Kremlin menolak anggapan bahwa Epstein adalah mata-mata Rusia. Hal ini ditegaskan juru bicara Kremlin Dmitry Peskov
"Teori bahwa Epstein dikendalikan oleh dinas intelijen Rusia dapat ditafsirkan dengan cara apa pun, tetapi tidak secara serius," katanya.
"Wartawan seharusnya tidak membuang waktu untuk menyelidiki tuduhan bahwa Epstein memiliki hubungan dengan intelijen Rusia," tegasnya.
Di sisi lain, para analis meyakini bahwa dokumen-dokumen tersebut hanya menunjukkan upaya Epstein untuk bergaul dengan tokoh-tokoh berpengaruh dan memposisikan dirinya sebagai semacam pemain kekuatan geopolitik.
(sef/sef)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
3

















































