Jakarta, CNBC Indonesia - Orang Indonesia yang pernah ke Jepang selalu ingin kembali. Ada sesuatu tentang Jepang yang begitu membekas. Mulai dari makanannya yang luar biasa, kebersihan yang terjaga sempurna, perpaduan antara modernitas mutakhir dan tradisi yang sangat kuat, hingga cara masyarakat Jepang memperlakukan setiap interaksi, sekecil apapun, dengan perhatian dan ketelitian yang tulus.
Tak mengherankan jika Jepang secara konsisten menjadi salah satu destinasi wisata internasional teratas bagi wisatawan Indonesia. Ditambah lagi, nilai tukar yen yang masih relatif menguntungkan terhadap rupiah membuat saat ini menjadi salah satu waktu terbaik untuk berkunjung. Baik Anda merencanakan perjalanan pertama maupun yang kelima, berikut panduan lengkap untuk memaksimalkan pengalaman di Jepang - mulai dari kota-kota yang wajib dikunjungi hingga kuliner yang tak boleh dilewatkan.
Tokyo: Tempat Segalanya Terjadi Sekaligus
Bagi sebagian besar wisatawan Indonesia, Tokyo adalah titik awal perjalanan - dan alasannya cukup jelas. Ibu kota Jepang ini merupakan salah satu kota paling dinamis di dunia, yang terasa begitu ramai namun tetap mudah dijelajahi dalam waktu yang sama.
Shibuya dan Shinjuku adalah pusat denyut modern Tokyo. Shibuya Scramble Crossing yang terkenal - tempat ratusan pejalan kaki menyeberang dari berbagai arah secara bersamaan - paling ideal dinikmati pada malam hari saat lampu-lampu neon di sekitarnya menyala terang. Sementara itu, Shinjuku menawarkan berbagai pengalaman, mulai dari department store kelas atas hingga gang-gang sempit di kawasan bar Golden Gai, di mana bar-bar kecilnya hanya menampung tidak lebih dari enam orang dengan suasana yang sulit ditemukan di Jakarta.
Harajuku menjadi destinasi wajib bagi pecinta fashion. Takeshita Street menghadirkan warna-warni yang mencolok, jajanan unik, serta subkultur fashion anak muda yang harus dilihat langsung untuk dipercaya. Tak jauh dari sana, suasana tenang Meiji Shrine menawarkan nuansa yang sepenuhnya berbeda - gerbang torii yang menjulang, jalur hutan yang rindang, dan momen ketenangan di tengah hiruk pikuk kota.
Untuk melihat kota dari ketinggian, dek observasi di Tokyo Skytree atau Tokyo Metropolitan Government Building (yang gratis) menyuguhkan panorama menakjubkan, terutama saat senja ketika cahaya keemasan berubah menjadi lautan lampu yang berkilauan.
Akihabara tak boleh dilewatkan bagi penggemar teknologi dan anime - distrik yang sepenuhnya didedikasikan untuk elektronik, gim, manga, dan budaya pop, tempat Anda bisa menghabiskan waktu berjam-jam tanpa terasa. Bagi wisatawan Indonesia yang mencari pilihan ramah Muslim, Akihabara dan beberapa distrik lain di Tokyo juga memiliki semakin banyak restoran halal serta fasilitas ibadah, sehingga semakin mudah diakses oleh traveler Muslim.
Kyoto: Jiwa Jepang
Jika Tokyo merepresentasikan masa depan Jepang, maka Kyoto adalah jiwanya. Bekas ibu kota kekaisaran ini memiliki lebih dari 1.600 kuil Buddha dan 400 kuil Shinto, dan berjalan di jalan-jalannya terasa seperti melangkah ke abad yang berbeda.
Fushimi Inari Taisha - kuil terkenal dengan ribuan gerbang torii berwarna merah terang yang berkelok menaiki gunung berhutan - merupakan salah satu lokasi yang paling banyak difoto di Jepang. Datanglah pagi-pagi untuk menikmati suasana tanpa keramaian, dan berjalanlah sejauh kemampuan Anda untuk mendapatkan pemandangan yang semakin menakjubkan.
Arashiyama di sisi barat Kyoto juga menjadi sorotan, terutama Arashiyama Bamboo Grove yang memukau, tempat deretan bambu hijau menjulang membentuk lorong alami. Tak jauh dari sana, taman Tenryu-ji termasuk yang terbaik di Jepang, dengan lanskap tertata sempurna yang terpantul indah di permukaan kolam yang tenang.
Gion, distrik geisha bersejarah di Kyoto, paling ideal dijelajahi saat awal malam ketika rumah-rumah kayu machiya diterangi lentera, dan Anda memiliki peluang nyata - meski singkat - untuk melihat geiko dan maiko dengan busana lengkap dalam perjalanan menuju acara mereka.
Saat musim bunga sakura (akhir Maret hingga awal April), Kyoto menjadi bintang utama di Jepang. Maruyama Park serta kanal Philosopher's Path yang dipenuhi ratusan pohon sakura termasuk pemandangan terindah yang ditawarkan negara ini.
Osaka: Dapur Jepang dan Kota yang Gemar Makan Bersama
Sekitar 15 menit perjalanan shinkansen dari Kyoto, Osaka memiliki karakter yang sepenuhnya berbeda - lebih ramai, lebih santai, dan sangat terobsesi dengan makanan dengan cara yang bahkan diakui secara diam-diam oleh warga Tokyo sebagai tak tertandingi.
Ungkapan lokal kuidaore - yang kira-kira berarti "makan sampai tak sanggup lagi" - menggambarkan dengan sempurna hubungan Osaka dengan kuliner. Dotonbori, kawasan hiburan di tepi kanal yang terkenal, adalah pusat budaya makanan ini. Takoyaki (bola-bola gurita), okonomiyaki (pancake gurih), kushikatsu (tusuk goreng), serta sushi segar dari Kuromon Market - yang sering disebut sebagai dapur Osaka - adalah pilihan yang wajib dicoba.
Osaka Castle yang berdiri di tengah taman luas merupakan peninggalan sejarah yang megah, sementara kawasan Shinsekai menawarkan nuansa nostalgia Jepang era 1950-an, lengkap dengan Tsutenkaku Tower yang ikonik dan deretan restoran kushikatsu terjangkau di setiap sudutnya.
Untuk perjalanan sehari dari Osaka, kota kuno Nara dapat dicapai dengan perjalanan kereta sekitar 45 menit dan menjadi rumah bagi ratusan rusa liar yang berkeliaran bebas. Rusa-rusa tersebut bahkan akan menundukkan kepala untuk menerima biskuit dari tangan Anda - pengalaman yang menyenangkan dan khas Jepang.
Kuliner: Alasan Sebenarnya Mengapa Semua Orang Ingin Kembali
Tak ada panduan tentang Jepang yang lengkap tanpa membahas makanannya secara serius. Kuliner Jepang adalah salah satu tradisi gastronomi terbaik di dunia, dan kedalaman serta variasinya - bahkan di minimarket - benar-benar mengagumkan.
Ramen layak memiliki bab tersendiri. Setiap wilayah di Jepang memiliki gaya khasnya: kuah tonkotsu yang kaya rasa di Fukuoka, ramen berbasis miso di Sapporo, ramen shoyu berbasis kecap asin di Tokyo, serta ramen shio (garam) yang lebih ringan dan dapat ditemukan di berbagai daerah. Siapkan anggaran sekitar Rp100.000-Rp150.000 (¥800-¥1.200) untuk semangkuk ramen di kedai lokal, dan jangan heran jika itu menjadi hidangan terbaik selama perjalanan Anda.
Sushi di Jepang menjadi pengalaman yang benar-benar berbeda, bahkan bagi mereka yang sudah sering menikmatinya di Indonesia. Restoran sushi berjalan (kaiten sushi) menawarkan pengalaman yang terjangkau dan menyenangkan, sementara omakase kelas atas menghadirkan salah satu pengalaman bersantap terbaik di dunia.
7-Eleven, FamilyMart, dan Lawson - jaringan minimarket yang tersebar luas di Jepang, atau dikenal sebagai konbini - juga layak mendapat perhatian khusus. Makanan di minimarket Jepang benar-benar berkualitas: onigiri, makanan hangat, sandwich segar, hidangan penutup matcha, hingga kopi yang mengejutkan nikmatnya tersedia 24 jam dengan harga yang tetap ramah di kantong. Banyak wisatawan Indonesia bahkan menjadi sangat menyukai budaya konbini sejak hari kedua perjalanan mereka.
Bagi wisatawan Muslim Indonesia, pilihan makanan halal di Jepang telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Tokyo, Osaka, dan Kyoto kini memiliki semakin banyak restoran bersertifikat halal, dan banyak tempat makan juga mencantumkan informasi alergen serta bahan makanan untuk memudahkan pengunjung dalam memilih.
Tips Praktis untuk Wisatawan Indonesia
Mata Uang: Jepang masih tergolong sebagai negara yang banyak menggunakan uang tunai, terutama di restoran kecil, kuil, dan toko lokal. Bawalah yen Jepang yang cukup - Anda bisa menukarnya di bank-bank Indonesia sebelum berangkat atau menarik uang di ATM 7-Bank yang tersedia di dalam gerai 7-Eleven, yang umumnya menerima kartu internasional.
Transportasi: Japan Rail Pass patut dipertimbangkan bagi wisatawan yang berencana mengunjungi beberapa kota. Tiket ini menawarkan perjalanan tanpa batas di sebagian besar kereta JR, termasuk shinkansen, selama jumlah hari tertentu. Di dalam kota, kartu IC seperti Suica atau Pasmo dapat digunakan di hampir semua jaringan metro dan bus, serta untuk pembayaran kecil di minimarket.
Bahasa: Penunjuk arah berbahasa Inggris telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama di lokasi wisata utama dan pusat transportasi. Namun, mempelajari beberapa frasa dasar bahasa Jepang - sumimasen (permisi), arigatou gozaimasu (terima kasih), dan eigo wa hanasemasu ka? (apakah Anda bisa berbahasa Inggris?) - akan sangat membantu dan selalu dihargai.
Konektivitas: Tetap Terhubung di Jepang Itu Penting, Bukan Sekadar Pilihan
Tetap terhubung di Jepang adalah kebutuhan, bukan sekadar opsi. Mulai dari menavigasi transportasi umum, menerjemahkan menu, mencari restoran halal, hingga tetap berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia, koneksi data seluler yang andal menjadi fondasi seluruh pengalaman perjalanan.
Di sinilah travel eSIM dari BazTel terbukti sangat berguna. Alih-alih membayar Rp150.000-Rp250.000 per hari untuk roaming internasional dari operator Indonesia - yang bisa menambah biaya Rp1.500.000 hingga Rp2.500.000 atau lebih untuk perjalanan 10 hari - paket eSIM BazTel untuk Jepang menawarkan tarif data lokal dengan harga yang jauh lebih terjangkau, dengan paket mulai dari US$1 (sekitar Rp16.900).
Proses pengaturannya pun sangat mudah: beli paket Anda di situs BazTel sebelum berangkat dari Indonesia, klik tombol instal sekali di portal, dan eSIM akan langsung terpasang di ponsel Anda. Tidak perlu memindai kode QR, tidak perlu mengunduh aplikasi, dan tidak perlu antre di konter bandara. Aktivasi dijadwalkan otomatis saat Anda mendarat, sehingga Anda bisa turun dari pesawat di Narita atau Kansai dalam keadaan sudah terhubung dan siap bernavigasi.
Bagi keluarga yang bepergian bersama, setiap orang dapat memiliki paket BazTel masing-masing - tidak perlu lagi bergantian menggunakan satu perangkat pocket Wi-Fi untuk lima orang yang sama-sama ingin membuka Google Maps secara bersamaan.
Waktu Terbaik untuk Berkunjung
Musim semi (Maret-April) adalah puncak musim bunga sakura dan bisa dibilang waktu terindah untuk mengunjungi Jepang. Pesan tiket pesawat dan hotel jauh-jauh hari karena harga biasanya naik tajam.
Musim gugur (Oktober-November) menghadirkan koyo - dedaunan musim gugur dengan gradasi merah, orange, dan emas - dengan jumlah wisatawan yang sedikit lebih sedikit dibanding musim semi serta suhu yang nyaman untuk berjalan kaki.
Musim panas (Juni-Agustus) terasa panas dan lembap, tetapi menghadirkan berbagai matsuri (festival) yang meriah, termasuk pertunjukan kembang api yang benar-benar spektakuler. Gion Matsuri di Kyoto pada bulan Juli merupakan salah satu festival tertua dan paling terkenal di Jepang.
Musim dingin (Desember-Februari) ideal untuk menikmati pengalaman salju di Hokkaido, berbagai acara iluminasi di seluruh negeri, serta mengunjungi destinasi populer dengan jumlah pengunjung paling sedikit sepanjang tahun.
Selama ini, Jepang dianggap memberi pengalaman istimewa bagi wisatawan yang rasa ingin tahunya tinggi, lebih dari banyak destinasi lain di dunia. Semakin banyak Anda menjelajah - masuk ke gang kecil, mencoba hidangan yang menunya tidak Anda pahami, atau memulai percakapan di meja ramen - semakin banyak pula pengalaman yang Anda dapatkan. Jepang adalah negara yang tetap mampu menghadirkan kejutan bahkan pada kunjungan berikutnya, dan memiliki kedekatan tersendiri dengan wisatawan Indonesia: kesamaan dalam kecintaan pada kuliner lezat, tradisi budaya yang kuat, serta keramahan yang tulus.
Datang sekali saja, dan Anda akan mengerti mengapa begitu banyak wisatawan Indonesia sudah merencanakan perjalanan berikutnya bahkan sebelum mereka kembali dari kunjungan pertama.
(rah/rah)
Addsource on Google

7 hours ago
6

















































