Susi Setiawati, CNBC Indonesia
18 February 2026 10:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Jelang akhir Februari 2026, sebentar lagi pemenang tender proyek sampah jadi energi atau waste to energy tahap pertama akan segera diumumkan oleh Danantara.
Sebanyak 24 perusahaan, yang mayoritas berasal dari luar negeri dan bergerak di bidang teknologi, telah lolos tahap seleksi awal.
Seluruh peserta diwajibkan menggandeng mitra domestik, sehingga membuka ruang strategis bagi emiten BEI yang sudah memiliki pijakan di rantai nilai WTE, baik sebagai pengembang proyek, kontraktor EPC, maupun penyedia material dan infrastruktur pendukung.
Lead of Waste-to-Energy BPI Danantara, Fadli Rahman, menjelaskan konsorsium yang nantinya dibentuk oleh peserta tender ini diharapkan bisa memberikan transfer teknologi kepada perusahaan lokal atau pemerintah daerah (pemda). Untuk tahap pertama, Danantara Indonesia memfokuskan pengembangan program WtE di empat kota, yakni Bali, Bogor, Bekasi, dan Yogyakarta.
"Tender ini menunjukkan dalam menjalankan prosesnya Danantara selalu memastikan adanya tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) yang transparan dan berbasis mitigasi risiko," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (16/02/2026).
Adapun dari 24 perusahaan, kami mencatat hanya lima emiten BEI yang kami nilai potensial menang tender tahap pertama dan memang sudah sejak beberapa bulan terakhir rumornya santer terdengat di kalangan pelaku pasar, berikut kami ulas satu per satu:
MHKI
Berbeda dengan pengembang PLTSa, PT Multi Hanna Kreasindo Tbk (MHKI) lebih dahulu membangun basis bisnis di sektor pengelolaan limbah. Perusahaan ini telah lama beroperasi di Bantargebang, Bekasi, dan kini memperluas jangkauan ke daerah lain seperti Lamongan, Jawa Timur.
Meski belum mengoperasikan fasilitas listrik berbasis sampah, posisi MHKI cukup krusial karena berada di sisi hulu rantai pasok-yakni pengumpulan dan pengolahan awal limbah-yang merupakan fondasi utama bagi keberhasilan proyek PSEL.
Untuk memperkuat kapabilitas operasional serta adopsi teknologi pengolahan yang lebih modern, MHKI memperoleh dukungan pembiayaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) senilai sekitar Rp4,95 miliar.
Dengan model bisnis yang sudah menghasilkan arus kas, eksposur MHKI ke sektor sampah cenderung bersifat bertahap dan defensif. Jika terlibat dalam proyek Danantara, perannya kemungkinan lebih sebagai mitra pengelola limbah ketimbang pengembang utama pembangkit.
BIPI
Mulai tahun ini, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) bersiap menjalankan proyek waste-to-energy (WTE) dengan nilai investasi sekitar US$300-350 juta.
Direktur Utama BIPI, Raymond Anthony Gerungan, menjelaskan bahwa proyek ini sebenarnya sudah digarap lebih dari tiga tahun terakhir. Namun dalam perjalanannya, proyek sempat mengalami sejumlah penyesuaian seiring adanya perubahan kebijakan di tingkat pemerintah pusat maupun daerah.
Saat ini, studi kelayakan (feasibility study) dan skema pendanaan sudah memasuki tahap akhir penyelesaian. Jika terealisasi sesuai rencana, proyek WTE ini berpotensi menjadi katalis besar bagi diversifikasi pendapatan BIPI di luar bisnis batu bara.
Langkah ini juga sejalan dengan mandat pemerintah dalam mendorong percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
IMPC
PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) memasuki sektor WTE melalui entitas anaknya, PT Sirkular Karya Indonesia (SKI). SKI telah menjalin kerja sama awal dengan PT CCEPC Indonesia untuk menjajaki pengembangan proyek WTE di Bali.
Dalam skema ini, SKI berperan pada sisi pendanaan dan dukungan investasi, sementara CCEPC menangani aspek teknis sebagai EPC sekaligus operator O&M. Kolaborasi tersebut mencakup studi kelayakan, survei lokasi, hingga analisis karakteristik sampah. CCEPC juga menyatakan kesiapan untuk mendukung SKI secara eksklusif dalam setiap tender WTE yang diikuti.
Dengan rekam jejak lebih dari dua dekade di bidang infrastruktur energi ramah lingkungan, CCEPC memberikan nilai tambah dari sisi teknologi. Walau proyek masih berada di tahap pra-konstruksi, WTE berpotensi menjadi lini bisnis strategis bagi IMPC, melengkapi inisiatif daur ulang dan ekonomi sirkular yang sudah berjalan. Namun demikian, kontribusi laba dari segmen ini masih bersifat jangka menengah hingga panjang.
OASA
PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA) saat ini menjadi emiten WTE yang paling dekat dengan tahap realisasi proyek. Alih-alih sekadar perencanaan, OASA telah berada pada fase persiapan pembangunan dua proyek PSEL, yakni Jakarta Barat dan Tangerang Selatan-keduanya dirancang sebelum Danantara berdiri.
Konstruksi kedua proyek tersebut ditargetkan mulai 2026-2027, dengan operasi komersial bertahap pada 2028 dan kapasitas penuh sekitar 2029. Artinya, kontribusi finansial baru akan terasa dalam 2-3 tahun ke depan.
PSEL Jakarta Barat memiliki kapasitas sekitar 35,3 MW dengan estimasi potensi pendapatan mendekati Rp1 triliun per tahun dan laba usaha sekitar Rp645 miliar. Namun, kebutuhan capex yang besar (sekitar Rp6,6 triliun) membuat periode pengembalian investasi relatif panjang, mendekati satu dekade.
Selain itu, OASA hanya memegang porsi minoritas karena proyek ini dikerjakan bersama WIKA dan Jakpro, sehingga dampaknya ke laporan konsolidasi terbatas.
Sebaliknya, proyek Tangerang Selatan dinilai lebih material bagi OASA. Dengan kapasitas sekitar 19,6 MW, potensi pendapatan diperkirakan sekitar Rp559 miliar per tahun dan laba usaha sekitar Rp444 miliar.
Mengingat kepemilikan OASA mencapai kurang lebih 76%, laba yang berpotensi dikonsolidasikan bisa mencapai sekitar Rp337 miliar per tahun. Dengan capex sekitar Rp2,3 triliun, estimasi payback period berada di kisaran lima tahun, meskipun seluruh angka ini masih berbasis asumsi awal.
Untuk tender Danantara sendiri, OASA diperkirakan membidik proyek PSEL di Bogor dan Denpasar.
SOFA
Terakhir, PT Boston Furniture Industries Tbk (SOFA) saat ini memang belum memiliki aset WTE yang beroperasi maupun proyek PLTSa yang sedang berjalan. Namun, perusahaan ini secara eksplisit memosisikan diri sebagai peserta tender Danantara.
Melalui anak usaha PT Parivarta Energi Nusantara, SOFA telah membentuk konsorsium bersama Hunan Construction Engineering Group Co. dan Kintan Usahasama Sdn. Bhd. Sejak awal, konsorsium ini dirancang khusus untuk mengikuti lelang WTE Danantara, dengan Hunan tercatat sebagai salah satu peserta resmi proyek PSEL.
Hingga saat ini, SOFA belum mencapai tahap konstruksi, belum memiliki COD, dan belum membukukan pendapatan dari segmen WTE. Dengan demikian, prospek saham ini sangat bergantung pada hasil tender. Jika berhasil memenangkan proyek, SOFA berpotensi memperoleh katalis pertumbuhan signifikan. Namun jika tidak, narasi WTE berisiko kembali menjadi sekadar wacana.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

3 hours ago
2

















































