Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
05 February 2026 10:40
Jakarta, CNBC Indonesia - Penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Federal Reserve (The Fed) oleh Presiden Donald Trump pada 30 Januari lalu membawa sinyal perubahan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.
Warsh, yang berhasil menyisihkan kandidat lain seperti Kevin Hassett dan Christopher Waller, diperkirakan akan menerapkan strategi ekonomi yang berbeda dari pendahulunya.
Inti dari kebijakan yang dibawa Warsh adalah kombinasi antara pelonggaran suku bunga dan pengetatan neraca keuangan. Di satu sisi, ia mendukung penurunan suku bunga acuan untuk memacu pertumbuhan ekonomi.
Namun di sisi lain, ia berencana menghentikan pembelian aset dan mengurangi jumlah uang Dolar yang beredar di pasar. Pendekatan campuran ini menjadi perhatian utama investor global karena dampaknya yang signifikan terhadap arus modal dunia.
Jejak Masa Lalu sebagai "Elang"
Bagi pelaku pasar lama, sosok Kevin Warsh bukanlah orang asing. Ia pernah duduk di kursi Dewan Gubernur The Fed pada periode 2006 hingga 2011. Pada masa itu, Warsh dikenal dengan julukan "Elang" atau Hawk. Julukan ini diberikan karena sikapnya yang sangat keras dan disiplin terhadap ancaman inflasi.
Bahkan ketika krisis finansial global menghantam pada tahun 2008, Warsh tetap pada pendiriannya.
Saat itu, ketika harga-harga barang sebenarnya stabil atau bahkan turun, Warsh justru sibuk memperingatkan bahaya lonjakan harga di masa depan. Ia dikenal sebagai pejabat yang lebih suka menahan rem ekonomi daripada membiarkan inflasi tumbuh liar.
Berubah Haluan Menjadi Lunak
Namun, Kevin Warsh yang tampil sekarang membawa cerita yang berbeda. Ia kembali ke panggung utama dengan pandangan yang jauh lebih lunak atau Dovish. Warsh kini secara terbuka mendukung rencana penurunan suku bunga, sebuah kebijakan yang sangat diinginkan oleh Presiden Trump untuk memacu pertumbuhan ekonomi AS.
Perubahan sikap ini tentu menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pengamat. Mengapa sosok yang dulunya sangat takut inflasi, kini justru mendukung pelonggaran kebijakan? Jawabannya ternyata terletak pada pandangan barunya mengenai teknologi dan peran pemerintah.
Bertaruh pada Kecerdasan Buatan
Alasan utama di balik perubahan sikap Warsh adalah keyakinannya pada teknologi.
Warsh berpendapat bahwa kombinasi antara kebijakan deregulasi pemerintah dan ledakan teknologi kecerdasan buatan (AI) akan membawa dampak besar. Menurutnya, AI akan membuat proses produksi menjadi sangat efisien dan murah.
Dengan efisiensi tersebut, Warsh yakin harga barang-barang akan turun dengan sendirinya secara alami.
Jika harga barang turun karena teknologi, maka The Fed tidak perlu lagi khawatir soal inflasi. Atas dasar itulah, ia merasa bank sentral bisa dengan aman menurunkan suku bunga untuk membantu ekonomi tumbuh lebih cepat.
Misi Menghentikan Cetak Uang
Meskipun setuju suku bunga diturunkan, Warsh tetap memiliki sisi konservatif. Ia dikenal sangat anti terhadap kebijakan Quantitative Easing (QE) atau pencetakan uang untuk membeli surat utang negara. Ia menilai kebijakan membeli aset dalam jumlah besar membuat kondisi keuangan bank sentral menjadi tidak sehat.
Pandangan ini sejalan dengan Scott Bessent, Menteri Keuangan AS saat ini. Keduanya sepakat bahwa era "uang mudah" dari hasil cetak uang harus diakhiri.
Di bawah kepemimpinan Warsh, pasar memperkirakan The Fed akan berhenti membeli surat utang dan justru mulai menjual aset-aset yang mereka miliki untuk menarik kembali uang yang beredar.
Situasi Canggung dengan Jerome Powell
Tugas Warsh nanti tidak akan berjalan mulus begitu saja karena faktor internal.
Jerome Powell, ketua The Fed saat ini yang memiliki pandangan lebih berhati-hati, diperkirakan tidak akan langsung mundur dari lembaga tersebut. Powell kemungkinan besar akan tetap menjabat sebagai anggota dewan gubernur biasa hingga masa jabatannya habis pada tahun 2028.
Kondisi ini menciptakan situasi yang cukup unik dan mungkin sedikit canggung. Akan ada mantan ketua dan ketua baru yang duduk dalam satu meja rapat yang sama. Mengingat Warsh hanya memiliki satu suara dalam pengambilan keputusan, keberadaan Powell bisa menjadi penyeimbang atau justru penghambat bagi kebijakan-kebijakan agresif yang mungkin direncanakan Warsh.
Ujian Berat Independensi
Selain masalah internal, mata investor dunia juga tertuju pada hubungan antara Warsh dan Gedung Putih. Presiden Trump dikenal sebagai pemimpin yang suka memberikan komentar terbuka tentang kebijakan bank sentral. Padahal, The Fed seharusnya bekerja secara mandiri tanpa campur tangan politik.
Pasar akan menguji apakah Warsh benar-benar bisa bekerja secara profesional berdasarkan data ekonomi. Investor khawatir jika Warsh terlalu menuruti keinginan politik presiden, kredibilitas The Fed sebagai penjaga kestabilan harga bisa terganggu. Kepercayaan pasar global sangat bergantung pada seberapa kuat Warsh menjaga jarak dari tekanan politik.
Dampak Bagi Rupiah dan Investasi
Bagi Indonesia, terpilihnya Kevin Warsh membawa kabar baik sekaligus tantangan. Kabar baiknya adalah rencana penurunan suku bunga AS. Jika bunga di sana turun, biasanya nilai tukar Dolar AS akan sedikit melemah.
Hal ini bisa memberi ruang bagi Rupiah untuk menguat dan menarik dana asing masuk kembali ke pasar saham serta obligasi Indonesia.
Namun, tantangannya ada pada rencana Warsh mengurangi jumlah uang Dolar yang beredar. Jika The Fed menjual aset-asetnya secara besar-besaran, pasokan Dolar di pasar dunia bisa menjadi ketat alias langka.
Hal ini bisa membuat nilai tukar Rupiah tetap bergejolak meskipun suku bunga AS sudah turun. Pemerintah Indonesia perlu waspada menghadapi skenario ekonomi baru ini.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

2 hours ago
2















































