Jakarta, CNBC Indonesia - Krisis kontaminasi susu formula bayi semakin meluas menyusul serangkaian penarikan produk dalam beberapa pekan terakhir. Pada Jumat (13/2/2026), Jaksa Penuntut Umum Paris mengumumkan telah membuka investigasi terhadap lima perusahaan produsen susu formula yang memicu kekhawatiran besar di kalangan orang tua dan investor.
Penyelidikan tersebut menyasar produk nutrisi bayi yang diduga terkontaminasi dan didistribusikan oleh tiga grup susu terbesar di dunia, yakni Nestle, Danone, dan Lactalis yang merupakan perusahaan tertutup. Selain ketiga raksasa tersebut, merek yang lebih kecil seperti Babybio dan La Marque en Moins juga turut masuk dalam daftar investigasi.
Penarikan produk secara massal ini dipicu oleh potensi kontaminasi cereulide, yaitu toksin tahan panas yang dapat menyebabkan mual, muntah, dan diare jika dikonsumsi. Meskipun gejala biasanya mereda dalam satu hari, racun ini berpotensi menyebabkan komplikasi medis yang lebih parah pada bayi.
Kejaksaan Paris menyatakan bahwa investigasi dibuka atas dasar dugaan penipuan terkait barang yang membahayakan kesehatan manusia. Berdasarkan pernyataan resmi yang dirilis, pelanggaran ini dapat diancam dengan hukuman penjara hingga tujuh tahun dan denda maksimal hingga 3,75 juta euro (Rp 74,25 miliar).
Menanggapi situasi tersebut, CEO Nestle Philipp Navratil telah menyampaikan permohonan maaf pada Januari lalu terkait kekhawatiran dan gangguan yang dialami oleh para orang tua serta pelanggan. Ia menegaskan bahwa pihaknya sangat menyesali kejadian ini.
"Izinkan saya meyakinkan Anda bahwa keselamatan dan kesejahteraan Anda adalah prioritas utama kami," ujar Philipp Navratil dalam pernyataannya.
Kantor kejaksaan memutuskan untuk mengambil alih kasus ini karena banyaknya jumlah keluhan yang masuk dari seluruh penjuru negeri. Selain itu, Kementerian Kesehatan Prancis juga tengah mendalami laporan kematian tiga bayi dalam kasus-kasus di mana konsumsi formula yang terkena dampak penarikan dilaporkan terjadi.
Meski demikian, pihak kementerian memberikan keterangan tambahan pada 11 Februari bahwa sejauh ini belum ada hubungan sebab akibat yang ditetapkan secara pasti. Proses investigasi yudisial masih terus berjalan untuk mengungkap fakta sebenarnya di balik kasus tersebut.
Dalam laporan kronologi yang diterbitkan pada 29 Januari, Nestle mengungkapkan bahwa jejak cereulide ditemukan pada awal Desember di pabrik mereka di Belanda. Perusahaan asal Swiss ini mengklaim telah menemukan residu tersebut pada beberapa batch produk jadi.
Berdasarkan lini masa perusahaan, Nestle telah menginformasikan otoritas Belanda, Komisi Eropa, dan negara-negara yang berpotensi terdampak pada 10 Desember mengenai risiko ini. Pada hari yang sama, Nestle langsung memulai penarikan seluruh batch yang diproduksi, mencakup 25 produk di 16 negara di Eropa.
Langkah ini kemudian diikuti dengan penarikan publik besar-besaran pada Januari untuk merek SMA, Beba, dan Little Steps di seluruh Eropa. Penarikan serupa kemudian menyusul dilakukan oleh kompetitor asal Prancis, Danone, yang memproduksi merek Aptamil dan Cow & Gate, serta oleh grup Lactalis.
Hingga saat ini, aksi penarikan produk telah meluas hingga ke lebih dari 60 negara di seluruh dunia. Nestle menyatakan bahwa sumber kontaminasi telah dilacak dan berasal dari pemasok bahan baku minyak asam arakidonat (ARA), sebuah suplemen yang sering ditambahkan ke dalam susu formula bayi.
Dampak dari kontaminasi ini terus membengkak karena banyak perusahaan dan merek berbeda menggunakan pemasok yang sama, meski identitas pemasok tersebut belum diumumkan secara resmi. Food Standards Agency Inggris mengonfirmasi bahwa pemasok minyak ARA tersebut kini sudah tidak lagi digunakan oleh Nestle maupun Danone.
Otoritas terkait tetap mendesak para orang tua dan pengasuh untuk segera memeriksa apakah produk formula yang mereka miliki di rumah termasuk dalam daftar batch yang ditarik. Di sisi lain, Otoritas Keamanan Pangan Eropa baru menetapkan ambang batas level toksin cereulide pada 2 Februari lalu.
Analis Barclays, Warren Ackerman, menjelaskan bahwa sebelumnya tidak ada standar harmonisasi global untuk racun ini karena sifatnya yang sangat langka. Namun, otoritas Inggris mencatat setidaknya sudah ada 36 laporan klinis mengenai bayi yang menunjukkan gejala konsisten dengan keracunan cereulide.
Dari sisi finansial, investor kini menantikan laporan pendapatan Nestle dan Danone yang akan dirilis akhir pekan ini untuk melihat dampak nyata dari skandal tersebut.
Analis Bernstein, Callum Elliott, menilai risiko terhadap ekuitas merek jauh lebih relevan daripada angka penurunan pendapatan langsung.
"Bagi Danone, formula bayi jauh lebih penting karena mencakup sekitar 21% dari pendapatan grup menurut perkiraan kami, dan porsinya lebih besar lagi dalam hal profitabilitas," kata Callum Elliott.
Performa saham Nestle dan Danone sendiri terpantau tertinggal dibandingkan indeks acuan Eropa sepanjang tahun berjalan ini akibat sentimen negatif penarikan produk. Hingga saat ini, saham Nestle hanya naik 1,7% secara year-to-date, sementara saham Danone justru merosot 5,5% di saat indeks Stoxx 600 mampu menguat 4,6%.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]

13 hours ago
6

















































