Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mewanti-wanti bank sentral untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga acuan BI Rate merespons kenaikan sejumlah harga barang saat ini yang berpotensi mengerek tekanan inflasi.
Salah satu harga barang yang telah tampak naik pesat ialah plastik. Namun, ia mengingatkan, kenaikan harga plastik itu disebabkan terganggunya pasokan bahan baku (cost push inflation) akibat konflik Iran dengan Israel dan Amerika Serikat di Timur Tengah, bukan karena permintaan yang tinggi (demand pull inflation).
"Kalau cost push kebijakan bank sentral enggak terlalu efektif untuk perlambat ekonomi, fiskal juga kita akan pikir-pikir karena saya perlambat ekonomi juga harganya enggak turun Karena emang costnya naik," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (7/4/2026).
Oleh sebab itu, ia mengatakan, tekanan harga untuk sejumlah komoditas tak bisa asal direspons dengan menaikkan suku bunga acuan untuk meredamnya.
"Jadi bedanya di situ. Jadi anda jangan langsung bilang bahwa kalau inflasi naik, misalnya BI harus naikkan bunga atau saya perlambat ekonomi. Kita harus lihat sumbernya dulu," tegas Purbaya.
Namun, ia mengakui, saat ini bank sentral di berbagai belahan dunia tengah berencana menaikkan suku bunga acuannya masing-masing akibat mulai terindikasinya tekanan inflasi. Ia menganggap, kebijakan itu akan keliru yang malah membuat ekonomi tertekan.
"Sok gaya naikin suku bunga, supaya kelihatan jago mengendalikan inflasi. Tapi kalau saya sih kita monitor terus, kita waspada, kita lihat semuanya," kata Purbaya.
Sebagai informasi, pengusaha di industri makanan dan minuman juga telah buka suara soal dampak kenaikan harga bahan baku plastik imbas ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan, industri makanan dan minuman mulai mengkhawatirkan dampak kenaikan harga bahan baku plastik.
"Kami mulai khawatir dengan ketersediaan bahan bakunya karena beberapa pemasok mengatakan stoknya mulai terbatas, bahkan ada yang tidak bisa memenuhi permintaan," kata Lukman saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (7/4/2026).
Di tengah terbatasnya bahan baku plastik, kenaikan harga juga sudah terjadi hingga sekitar 30%-60%, membuat pelaku industri makanan dan minuman khawatirkan soal ketersediaan dan kenaikan harga bahan baku.
"Di samping itu, mereka mengumumkan ada yang kenaikan harga rata-rata 30-60%. Nah ini yang mengkhawatirkan, yang paling penting adalah ketersediaan," lanjutnya.
Ia menambahkan, jika harga bahan baku sudah mulai mengalami kenaikan, tetapi pasokan juga terbatas, maka hal ini bisa cukup berbahaya bagi industri makanan dan minuman.
"Harga naik tapi barang enggak ada ini juga bahaya bagi industri, oleh sebab itu perlu cari solusi apa gitu. Karena memang ini kondisi darurat semua ya. Di beberapa negara juga menyatakan force majeure, produsen-produsen juga mulai mengurangi produksi, karena tidak ada bahan bakunya," jelasnya.
(arj/haa)
[Gambas:Video CNBC]

8 hours ago
2

















































