Jakarta, CNBC Indonesia - Harga batu bara anjlok sejalan dengan ambruknya harga minyak.
Harga batu bara pada perdagangan Selasa (16/6/2026) ditutup di posisi US$ 135,5 per ton atau melemah 1,09%. Pelemahan ini memperpanjang derita batu bara yang ambruk 8,8% dalam tiga hari beruntun. Padahal, harga batu bara sempat menyentuh US$ 148,5 pada 12 Juni 2026.
Melemahnya harga batu bara dipicu jatuhnya harga minyak. Batu bara dan minyak adalah komoditas substitusi sehingga harganya saling memengaruhi.
Kontrak berjangka Brent turun 5,06% dan ditutup di US$78,96 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 5,82% ke US$76,05 per barel. Ini merupakan penutupan pertama di bawah US$80 per barel bagi kedua kontrak sejak awal Maret.
Pelemahan harga batu bara juga dipicu faktor dari China.
Pasar impor batu bara termal berkalori rendah di China saat ini menghadapi dua sentimen yang berlawanan.
Dalam jangka pendek, harga tertekan akibat kelebihan pasokan kargo batu bara yang siap kirim dan tingginya stok di pelabuhan-pelabuhan China. Namun, dalam jangka menengah hingga akhir tahun, pelaku pasar masih optimistis karena ada potensi pengetatan pasokan.
SXcoal melaporkan harga batu bara impor kalori rendah asal Indonesia berada di bawah tekanan karena pasokan melimpah dan persediaan di pelabuhan China selatan masih tinggi.
Beberapa penjual bahkan menawarkan kargo dengan diskon untuk mengurangi biaya demurrage (biaya kapal menunggu bongkar muat).
Di sisi lain, harga kontrak pengiriman ke depan masih relatif kuat karena pasar memperkirakan pasokan akan lebih ketat pada paruh kedua 2026.
Permintaan dari pembangkit listrik dan industri di China juga masih lemah sehingga membatasi kenaikan harga batu bara.
Tingginya produksi batu bara domestik China dan stok yang besar membuat kebutuhan impor tidak sekuat tahun lalu.
Dari pasar batu bara kokas, reli harga metalurgical coke di China mulai menghadapi ujian berat karena produsen baja semakin menolak kenaikan harga setelah tujuh putaran kenaikan berturut-turut.
Harga met coke China kembali menguat pada 16 Juni setelah putaran ketujuh kenaikan harga mulai berlaku sehari sebelumnya.
Kenaikan harga didorong oleh pasokan coking coal yang ketat, gangguan produksi tambang, serta tingginya biaya bahan baku bagi pabrik kokas.
Namun, produsen baja mulai menunjukkan resistensi yang semakin kuat karena margin keuntungan mereka tergerus oleh melemahnya harga baja dan permintaan hilir yang belum pulih sepenuhnya.
Banyak pelaku pasar menilai reli harga kokas kini memasuki fase kritis, di mana kemampuan pabrik baja untuk terus menerima kenaikan harga menjadi semakin terbatas.
(mae/mae)
Addsource on Google

9 hours ago
6

















































