- Pasar keuangan Tanah Air kompak ditutup melemah. IHSG-Rupiah terkoreksi, Obligasi dijual investor.
- Wall Street tumbang di tengah kekhawatiran shutdown dan saham Microsoft
- Pelaku pasar menanti kelanjutan langkah otoritas terkait MSCI serta rilis data ekonomi Amerika Serikat diperkirakan menjadi penggerak pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air kompak ditutup melemah pada perdagangan Kamis (29/1/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah sama-sama terkoreksi, sementara obligasi kembali dijual investor.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan mampu bergerak positif pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (30/1/2026). Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 88,35 poin atau melemah 1,06% ke level 8.223,20. Koreksi ini jauh lebih kecil dibanding pergerakan intraday, karena IHSG sempat mengalami tekanan yang cukup dalam hingga memicu trading halt. Bahkan setelah perdagangan dibuka kembali, tekanan sempat berlanjut dan IHSG sempat ambles hingga 10%.
Sebanyak 521 saham turun,214 naik, dan73 tidak bergerak. Nilai transaksi kemarin tergolong jumbo atau mencapai Rp68,18 triliun, melibatkan 99,11 miliar saham dalam 4,93 juta kali transaksi.
Kapitalisasi pasar pun tergerus menjadi Rp14.923 triliun. Investor asing juga masih mencatatkan aksi jual dengan nilai yang besar Rp4,63 triliun di seluruh pasar.
Sejalan dengan itu, hampir seluruh sektor masih bergerak di zona pelemahan. Hanya sektor transportasi dan logistik yang berhasil menguat 0,76%, sementara pelemahan dipimpin oleh sektor konsumer siklikal yang ambles 4,88%.
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham blue chip menjadi pendorong IHSG dalam memangkas pelemahan.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) naik 5,29% dan menyumbang 29,87 indeks poin, sedangkan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menguat 2,49% atau menyumbang 16,58 indeks poin.
Penguatan juga terlihat pada PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menyumbang 13,88 indeks poin, serta PT Astra International Tbk (ASII) naik 4,86% dengan kontribusi 12,29 indeks poin.
Sementara itu, dari sisi pemberat indeks, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menjadi laggard utama setelah turun 4,67% dan menyumbang 16,28 indeks poin. Tekanan juga datang dari PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dengan kontribusi pelemahan 11,42 indeks poin, serta PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) sebesar 11,29 indeks poin.
Beralih ke pasar valuta asing, nilai tukar rupiah gagal melanjutkan momentum penguatannya dengan ditutup melemah dari dolar Amerika Serikat (AS).
Melansir data Refinitiv,rupiah ditutup terdepresiasi 0,27% ke level Rp16.745/US$. Pelemahan ini sekaligus mematahkan tren penguatan rupiah yang sebelumnya berlangsung enam hari perdagangan beruntun.
Sejak pembukaan pagi, rupiah sudah langsung bergerak di zona merah. Rupiah dibuka melemah 0,24% di posisi Rp16.740/US$, lalu tertekan hingga sempat menyentuh Rp16.800/US$ sebelum kembali memangkas pelemahan menjelang penutupan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada saat penutupan rupiah, justru terpantau melemah 0,26% ke level 96,192. Meski demikian, tekanan pada rupiah masih terasa setelah pada sesi sebelumnya DXY sempat menguat 0,24% ke level 96,446, menyusul keputusan bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), yang menahan suku bunga acuan.
Pelemahan rupiah kemarin dinilai masih berkaitan dengan respon pasar atas sikap The Fed yang mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%. Keputusan tersebut diumumkan usai rapat Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari, Rabu waktu AS atau Kamis dini hari waktu Indonesia (30/1/2026), di tengah sorotan terhadap isu independensi bank sentral AS.
Dalam keterangannya, The Fed mengatakan keputusan menahan suku bunga dilakukan karena tiga faktor utama. Di antaranyadampak pemangkasan sebelumnya masih perlu waktu untuk dievaluasi, inflasi yang relatif tinggi, serta pasar tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tanda stabil dan solid.
Sikap The Fed yang cenderung akan menahan suku bunga lebih lama, membuat sebagian pelaku pasar kembali melirik aset berdenominasi dolar karena imbal hasil dinilai masih menarik.
Alhasil, tekanan jual kembali muncul pada sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Tekanan serupa juga terlihat pada beberapa mata uang, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, hingga dolar Singapura yang ikut melemah terhadap greenback.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat kembali mengalami kenaikan sebesar 0,11% ke level 6,374% pada perdagangan kemarin, dari 6,367% pada hari sebelumnya. Imbal hasil yang naik menandai harga SBN sedang turun karena dijual investor.

4 days ago
14

















































