Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan Selasa (1/9/2026). Pelaku pasar mencermati sejumlah sentimen domestik dan global, termasuk rilis data ekonomi Indonesia serta perkembangan konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG dibuka naik 30,13 poin atau 0,46% ke level 6.555,61 pada pukul 09:00 WIB.
IHSG bergerak di rentang 6.535,80-6.555,64 pada awal perdagangan. Sebanyak 353 saham menguat, 88 saham melemah, dan 522 saham lainnya stagnan.
Nilai transaksi di awal perdagangan mencapai sekitar Rp398,9 miliar, dengan volume perdagangan sebanyak 648,9 juta saham dan frekuensi 55.870 kali.
Penguatan IHSG terjadi setelah indeks pada perdagangan sebelumnya, Senin (31/8/2026), ditutup naik tipis 0,11% ke level 6.525,48. Secara bulanan, IHSG menguat 4,64% sepanjang Agustus 2026.
Adapun pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (1/9/2026) berpotensi dibayangi oleh sejumlah sentimen dari dalam dan luar negeri. Investor akan mencermati rilis data ekonomi domestik, mulai dari inflasi Agustus, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur, hingga neraca perdagangan Juli 2026.
Dari pasar global, eskalasi kembali konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi perhatian utama. Ancaman Presiden AS Donald Trump untuk kembali menyerang Iran meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan, terutama Selat Hormuz yang merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dan gas dunia. Harga minyak kembali mendekati level US$90 per barel sehingga berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.
Sentimen tersebut turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun ke level 4,76%, tertinggi sejak Januari 2025. Kenaikan yield dan harga minyak menjadi kombinasi yang kurang menguntungkan bagi aset berisiko, termasuk saham, karena dapat mempersempit ruang pelonggaran kebijakan moneter global.
Dari dalam negeri, pasar akan menunggu data inflasi Agustus 2026. Konsensus 13 institusi memperkirakan inflasi bulanan sebesar 0,17% dan inflasi tahunan 3,11%, berbalik dari deflasi 0,14% secara bulanan pada Juli.
Kenaikan harga pangan, emas, dan biaya pendidikan diperkirakan menjadi pendorong utama, sementara penurunan tarif pesawat dan harga BBM non-subsidi berpotensi menahan laju inflasi.
Badan Pusat Statistik (BPS) juga akan merilis neraca perdagangan Juli 2026. Sebelumnya, Indonesia mencatat defisit US$450 juta pada Juni akibat ekspor sebesar US$25,46 miliar yang lebih rendah dibandingkan impor US$25,91 miliar. Investor akan mencermati apakah defisit tersebut berlanjut atau neraca perdagangan kembali mencatat surplus.
Sementara itu, mulai hari ini pemerintah menerapkan relaksasi aturan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam sektor pertambangan. Berdasarkan ketentuan baru, eksportir yang memenuhi kriteria dapat menempatkan 30% DHE selama minimal tiga bulan, lebih longgar dibandingkan ketentuan sebelumnya yang mewajibkan penempatan 100% selama minimal 12 bulan. Kebijakan ini berpotensi menjadi sentimen bagi likuiditas valas dan pasar keuangan domestik.
Dari sektor perbankan, Bank Indonesia (BI) juga mulai menerapkan skema baru Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM). Insentif akan lebih diarahkan untuk mendorong kredit ke sektor produktif dan pendalaman pasar uang, dengan tambahan insentif 2% untuk pendalaman pasar uang dan 4% untuk pembiayaan sektor produktif.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
5

















































