Jakarta, CNBC Indonesia - Kanker mulut mungkin bukan jenis kanker yang banyak diketahui masyarakat. Namun, jumlah kasusnya terus meningkat di berbagai belahan dunia dan penyakit ini dapat berakibat fatal jika tidak terdeteksi sejak dini.
Seperti jenis kanker lainnya, deteksi dini menjadi kunci untuk meningkatkan peluang kesembuhan. Sayangnya, proses diagnosis kanker mulut selama ini tergolong rumit dan invasif karena umumnya membutuhkan pengambilan sampel jaringan atau biopsi.
Kini, tim ilmuwan gabungan dari Inggris dan India berhasil mengembangkan metode tes baru yang efektif, cepat, dan tidak invasif untuk mendeteksi kanker mulut pada tahap awal.
Menariknya, hasil pemeriksaan dapat diketahui hanya dalam waktu satu jam. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Biomarker Research.
"Tes ini memberikan cara yang cepat, akurat, dan tidak invasif bagi klinisi untuk melakukan triase pasien, dan yang terpenting, tes ini dapat diulang," kata ahli onkologi mulut dari Queen Mary University of London, Muy-Teck Teh, dikutip dari Science Alert, Kamis (9/7/2026).
"Itu berarti sekarang kami dapat memantau pasien dengan lesi pra-kanker yang menetap secara rutin dan sistematis, serta mendeteksi kanker jauh lebih awal dibandingkan sebelumnya," sambungnya.
Kanker mulut biasanya ditandai dengan luka yang tidak kunjung sembuh atau bercak yang berubah warna pada bibir, gusi, lidah, maupun bagian dalam pipi. Meski banyak lesi tersebut bersifat jinak, pemeriksaan tetap diperlukan untuk memastikan kondisinya.
Tak Perlu Biopsi
Selama ini, pemeriksaan dilakukan melalui biopsi menggunakan pisau bedah untuk mengambil jaringan dari area yang dicurigai. Prosedur tersebut dapat menimbulkan rasa sakit karena dilakukan pada area mulut yang sensitif.
Tak hanya itu, pasien sering kali memerlukan biopsi berulang untuk memantau apakah lesi jinak berkembang menjadi kanker. Karena prosedurnya invasif, banyak pasien akhirnya enggan menjalani pemeriksaan lanjutan.
Sebagai alternatif, para peneliti menguji alat diagnostik baru yang hanya membutuhkan usapan sikat kecil pada bagian mulut yang dicurigai mengalami kelainan.
Metode yang disebut quantitative Malignancy Index Diagnostic System (qMIDS) itu menggunakan sikat untuk mengambil sampel dari lesi yang dicurigai, kemudian menganalisis ekspresi mRNA dari empat gen yang berkaitan dengan kanker mulut.
Pada saat yang sama, peneliti juga mengambil sampel pembanding dari bagian mulut yang sehat untuk dianalisis.
Versi sebelumnya dari qMIDS telah menunjukkan hasil menjanjikan dalam uji coba berskala besar. Dalam penelitian terbaru ini, ilmuwan ingin mengetahui seberapa efektif versi ketiga qMIDS dalam membedakan kanker mulut dengan lesi jinak.
Sebanyak 545 sampel biopsi sikat dikumpulkan dari pasien yang memiliki lesi yang berpotensi menjadi kanker.
Akurasi 95,5%
Hasilnya, tes tersebut memiliki tingkat akurasi keseluruhan mencapai 95,5%. Tingkat hasil positif palsu maupun negatif palsu juga kurang dari 5%. Seluruh hasil pemeriksaan dapat diperoleh dalam waktu kurang dari satu jam.
"Kami benar-benar terkejut karena performa tes usap menggunakan sikat ini sebanding dengan mikrobiopsi," ujar Teh.
"Hal ini menunjukkan bahwa sinyal biologis yang ditangkap oleh keempat gen tersebut cukup kuat dan konsisten sehingga dapat dideteksi bahkan dari sel-sel permukaan yang dikumpulkan melalui biopsi sikat," tambahnya.
Selain menghindarkan pasien berisiko rendah dari prosedur yang tidak nyaman, tes ini juga berpotensi membantu pasien berisiko tinggi memantau kondisi kesehatannya secara berkala. Karena mudah dilakukan berulang kali, qMIDS memungkinkan dokter mendeteksi lebih dini jika lesi mulai berkembang menjadi kanker sehingga penanganan dapat segera diberikan.
Temuan ini dinilai penting karena jumlah kasus kanker mulut di seluruh dunia telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 1990. Angka kematiannya juga mengalami kenaikan serupa.
Para peneliti menyebut sejumlah faktor gaya hidup seperti merokok, konsumsi alkohol, minuman tinggi gula, hingga infeksi human papillomavirus (HPV) diduga berkontribusi terhadap meningkatnya risiko kanker mulut.
Saat ini, tim peneliti tengah berupaya mengomersialkan teknologi tersebut. Mereka memperkirakan tes qMIDS dapat mulai digunakan dalam layanan klinis dalam waktu sekitar dua tahun.
(fab/fab)
Addsource on Google

6 hours ago
1

















































