Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi konflik di Timur Tengah makin membara setelah militer Iran secara resmi menolak klaim Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai adanya negosiasi untuk mengakhiri perang. Penolakan ini muncul di tengah aksi saling serang jet tempur dan rudal antara Israel dan Iran yang telah mengacaukan pasar energi serta keuangan global.
Pada Rabu, (25/03/2026), komando terpadu Angkatan Bersenjata Iran yang didominasi oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Washington. Pernyataan ini sekaligus membantah laporan mengenai adanya 15 poin rencana perdamaian yang dikirim AS ke Teheran.
Juru bicara utama komando militer gabungan Iran, Ebrahim Zolfaqari, memberikan respons pedas terhadap klaim Trump melalui siaran televisi pemerintah Iran.
"Apakah tingkat pergulatan batin Anda telah mencapai tahap di mana Anda (Trump) bernegosiasi dengan diri Anda sendiri? Orang-orang seperti kami tidak akan pernah bisa akur dengan orang-orang seperti Anda. Seperti yang selalu kami katakan, tidak ada orang seperti kami yang akan membuat kesepakatan dengan Anda. Tidak sekarang. Tidak selamanya," tegas Zolfaqari dikutip Reuters.
Senada dengan pihak militer, Kementerian Luar Negeri Iran juga menutup pintu diplomasi dengan merujuk pada rekam jejak hubungan kedua negara yang buruk. Iran merasa dikhianati karena Washington tercatat pernah menyerang negara tersebut sebanyak dua kali di tengah proses negosiasi tingkat tinggi dalam dua tahun terakhir.
Juru bicara kementerian luar negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan kepada India Today pada Selasa bahwa Iran memiliki pengalaman yang sangat buruk dengan diplomasi AS.
"Tidak ada dialog atau negosiasi dengan Washington, karena angkatan bersenjata Iran fokus pada pertahanan negara," ujar Baghaei.
Memasuki minggu keempat perang yang telah menelan ribuan korban jiwa, situasi di lapangan pada Rabu terpantau tanpa jeda serangan udara. Militer Israel mengonfirmasi melalui unggahan di Telegram bahwa mereka telah meluncurkan gelombang serangan yang menargetkan infrastruktur di seluruh Teheran, termasuk dua situs produksi rudal jelajah angkatan laut.
Di sisi lain, kantor berita semidinas Iran, SNN News Agency, melaporkan bahwa serangan Israel tersebut menghantam kawasan pemukiman warga. Hingga saat ini, petugas penyelamat masih terus melakukan pencarian korban di balik reruntuhan bangunan yang hancur.
Ketegangan meluas setelah Kuwait dan Arab Saudi melaporkan telah menghalau serangan drone baru. Otoritas Penerbangan Sipil Kuwait menyatakan sebuah drone menargetkan tangki bahan bakar di Bandara Internasional Kuwait yang memicu kebakaran hebat, meski dilaporkan tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut.
Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengumumkan telah meluncurkan gelombang serangan baru ke berbagai lokasi di Israel, termasuk Tel Aviv dan Kiryat Shmona. Tak hanya Israel, pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait, Yordania, dan Bahrain juga menjadi sasaran serangan udara Teheran.
Sebelumnya pada Selasa, Donald Trump mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa Amerika Serikat sedang dalam proses negosiasi dengan orang-orang yang tepat di Iran untuk mengakhiri perang.
"Orang-orang Iran sangat ingin mencapai kesepakatan," klaim Trump.
Laporan mengenai upaya gencatan senjata selama satu bulan dan pengiriman 15 poin rencana AS sempat membuat pasar saham menguat dan harga minyak turun pada Rabu. Rencana tersebut kabarnya mencakup pembongkaran program nuklir Iran, penghentian dukungan terhadap kelompok proksi seperti Hizbullah, hingga pembukaan kembali Selat Hormuz.
Namun, di tengah klaim damai tersebut, Pentagon justru diperkirakan akan mengirimkan ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS ke Timur Tengah. Penambahan ini akan memperkuat 50.000 tentara AS yang sudah ada di kawasan tersebut, yang memicu kekhawatiran akan terjadinya konflik yang jauh lebih panjang.
(luc/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
5

















































