Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
05 September 2026 11:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah cukup lama Amerika Serikat (AS) menjadi negara yang memimpin dalam persaingan jet tempur generasi kelima.
Mulai dari F-22 Raptor dan F-35 Lightning II yang terkenal dengan kemampuannya dalam siluman dan operasi pertempuran berbasis teknologi. Namun, kini China mulai mengejar dalam produksi jet tempur gen 5.
Tak hanya mampu memproduksi pesawat siluman yang semakin canggih, tapi China juga berhasil memproduksinya dalam kuantitas yang lebih besar.
Hal ini terlihat dari kehadiran jet tempur generasi kelima milik Beijing yakni Chengdu J-20 atau yang dikenal dengan julukan "Mighty Dragon".
Jet Tempur buatan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) J-10 milik Pakistan. (Tangkapan Layar Youtube/Pakistan Air Force) Foto: Jet Tempur buatan Chengdu Aircraft Corporation (CAC) J-10 milik Pakistan. (Tangkapan Layar Youtube/Pakistan Air Force)
Jet tempur bermesin ganda ini menjadi pesawat generasi kelima pertama China dan sekaligus jadi salah satu tanda modernisasi Angkatan Udara Tentar Pembebasan Rakyat China (PLAAF).
Produksi Jet Tempur Gen 5 China Ungguli AS
Pertumbuhan jumlah armada J-20 mampu tumbuh sangat cepat.
Royal United Services Institute (RUSI) memperkirakan China baru memiliki sekitar 50 J-20 pada 2020, dengan produksi sekitar 20 pesawat per tahun.
Lima tahun kemudian, jumlah J-20 yang beroperasi diperkirakan sudah mencapai sekitar 300 unit.
Kapasitas produksinya juga melonjak menjadi sekitar 120 pesawat per tahun pada akhir 2025.
Pengamat penerbangan militer China Andreas Rupprecht bahkan memperkirakan sekitar 500 J-20 telah dikirimkan hingga pertengahan 2026. Namun, angka tersebut masih berupa perkiraan karena China tidak membuka data produksinya secara rinci.
Jet tempur China 'mencegat' pesawat Filipina di atas perairan yang disengketakan. (Reuters) Foto: Jet tempur China 'mencegat' pesawat Filipina di atas perairan yang disengketakan. (Reuters)
Jika laju produksi berlanjut, RUSI memperkirakan China dapat memiliki sekitar 1.000 unit keluarga J-20 pada 2030. Ini bukan target resmi Beijing, melainkan proyeksi berdasarkan perkembangan produksi dalam beberapa tahun terakhir.
Berbeda dengan Amerika Serikat, jumlah produksi F-22 telah dihentikan pada 2011 silam, setelah AS berhasil mengopreasikan 187 pesawat. Pesawat terakhir diserahkan kepada Angkatan Udara AS pada 2012.
Meskipun, lini produksi F-35 masih berjalan sampai sekarang dengan total pengiriman sebanyak 191 unit di sepanjang 2025. Namun, jumlah tersebut dibagi antara militer AS dan juga kepada sejumlah negara pembeli lainnya.
Mengenal Chengdu J-20
J-20 dikembangkan oleh Chengdu Aircraft Corporation, anak usaha Aviation Industry Corporation of China atau AVIC.
Pesawat ini pertama kali terbang pada Januari 2011, diperkenalkan kepada publik dalam Zhuhai Airshow 2016, dan mulai masuk dinas militer pada 2017.
J-20 memiliki badan yang lebih panjang dibandingkan F-22 dan F-35. Ukurannya yang besar memberikan lebih banyak ruang untuk membawa bahan bakar, sensor, serta persenjataan di dalam badan pesawat.
China tidak membuka seluruh data teknis J-20. Karena itu, sebagian besar spesifikasinya masih berupa perkiraan berdasarkan pengamatan dan sumber terbuka.
Sebuah jet tempur siluman J-20 melakukan afterburner selama Pameran Penerbangan dan Antariksa Internasional China ke-14 di Zhuhai di provinsi Guangdong, China selatan, , Selasa (8/11/202).
Dibuat untuk Terbang Jauh
J-20 memiliki badan panjang, sayap berbentuk delta, serta dua sayap kecil atau canard di dekat kokpit.
Bentuk tersebut membantu pesawat bermanuver pada kecepatan tinggi. Ukurannya yang besar juga memungkinkan J-20 membawa lebih banyak bahan bakar sehingga cocok untuk misi jarak jauh.
China menggelar acara pameran alutsista militer bernama Airshow China 2024 di Kota Zhuhai pada Selasa (12/11) siang waktu setempat. (REUTERS/Tingshu Wang) Foto: China menggelar acara pameran alutsista militer bernama Airshow China 2024 di Kota Zhuhai pada Selasa (12/11) siang waktu setempat. (REUTERS/Tingshu Wang)
Namun, badan besar juga membuat pesawat lebih berat. J-20 diperkirakan tidak selincah F-22 dalam pertempuran jarak dekat.
Meski begitu, J-20 memang tidak hanya dirancang untuk berduel langsung dengan jet tempur lain. Jangkauannya yang panjang memungkinkan pesawat ini memburu sasaran penting seperti pesawat tanker, pesawat pengintai, dan pesawat peringatan dini.
Seberapa Baik Kemampuan Siluman J-20?
Bentuk hidung, saluran udara, sambungan panel, serta ruang senjata internal J-20 dibuat untuk memperkecil pantulan radar.
Namun, tingkat kemampuan silumannya belum diketahui secara pasti.
Pada varian awal, bagian depan J-20 diperkirakan cukup sulit dideteksi. Namun, bagian belakangnya masih memiliki pantulan radar dan jejak panas yang lebih besar karena menggunakan mesin Rusia dengan lubang pembuangan berbentuk bulat.
F-22 dan F-35 dinilai masih unggul karena sejak awal dirancang untuk mengurangi pantulan radar dari berbagai arah.
China terus memperbaiki kekurangan tersebut melalui J-20A. Varian ini mendapatkan perubahan bentuk badan, saluran udara, sensor, perangkat lunak, serta mesin baru.
Radar dan Rudal Jadi Andalan
J-20 dilengkapi radar AESA yang dapat melacak banyak sasaran dan lebih tahan terhadap gangguan elektronik.
Pesawat ini juga memiliki sensor inframerah serta sensor elektro-optik di sekeliling badan. Perangkat tersebut membantu penerbang mencari lawan tanpa harus terus menyalakan radar utama yang dapat membocorkan posisi pesawat.
J-20 membawa senjata di dalam tiga ruang tertutup agar tetap sulit dideteksi.
Ruang utama dapat menampung empat rudal jarak jauh PL-15. Sementara itu, dua ruang kecil di bagian samping masing-masing membawa satu rudal jarak dekat PL-10.
China juga mengembangkan PL-16 yang berukuran lebih ramping. Rudal tersebut memungkinkan J-20 membawa hingga enam rudal jarak jauh di ruang utamanya.
China menggelar acara pameran alutsista militer bernama Airshow China 2024 di Kota Zhuhai pada Selasa (12/11) siang waktu setempat. (REUTERS/Tingshu Wang) Foto: China menggelar acara pameran alutsista militer bernama Airshow China 2024 di Kota Zhuhai pada Selasa (12/11) siang waktu setempat. (REUTERS/Tingshu Wang)
RUSI menilai rudal jarak jauh China memiliki jangkauan dan kecepatan yang dapat melampaui AIM-120C/D AMRAAM milik AS. Kemampuan ini membuat J-20 berpeluang menembak lebih dahulu sebelum masuk ke jarak dekat.
Mesin Baru J-20
Mesin memang telah lama menjadi titik kelemahan dalam industri penerbangan China.
J-20 versi awal masih menggunakan AL-31 buatan Rusia. China kemudian menggantinya dengan WS-10C buatan dalam negeri.
Namun sejatinya, mesin yang sejak awal disiapkan untuk J-20 adalah WS-15.
Pada Januari 2026, muncul rekaman beberapa J-20A yang diduga telah menggunakan mesin WS-15. Pesawat tersebut terlihat masih memakai lapisan cat dasar kuning, yang biasanya digunakan dalam tahap pengujian sebelum penyerahan.
WS-15 diperkirakan menghasilkan daya dorong sekitar 181 kilonewton per mesin. Mesin ini diharapkan membuat J-20 lebih cepat, hemat bahan bakar, dan lincah.
Meski demikian, kemampuan dan keandalan WS-15 dalam operasi jangka panjang masih belum dapat dinilai secara terbuka.
China saat ini memiliki tiga varian utama J-20.
- J-20
- J-20A
- J-20S
Perbedaannya hanya berupa jumlah kursi, jenis mesin, dan teknologi di dalamnya. J-20S menjadi jet tempur siluman berkursi ganda pertama yang diketahui masuk ke jajaran militer.
Awak kedua dapat membantu mengatur sensor, komunikasi, peperangan elektronik, hingga pesawat tanpa awak. China sendiri memperlihatkan ketiga varian J-20 tersebut dalam parade militer pada September 2025.
Meski demikian, hingga saat ini belum bisa diketahui apakah J-20 benar-benar mampu menandingi F-22 atau F-35 dalam pertempuran. Ketiga pesawat belum pernah saling berhadapan dan sebagian besar kemampuan teknisnya masih dirahasiakan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

3 hours ago
3

















































