Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pakar seismolog memperingatkan makin berisikonya wilayah Kalimantan terhadap gempa, terutama setelah guncangan gempat M 5,0 yang melanda Kayan Hilir, Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) pada Jumat (13/3/2026) pukul 03:04:04 WIB.
Gempa yang turut dirasakan masyarakat di kawasan Sintang, Sanggau Katingan, Melawi dan beberapa wilayah lain di Kalimantan Barat serta Kalimantan Tengah itu mematahkan anggapan Kalimantan hampir bebas dari gempa.
Sebelum gempa berkekuatan M 5,0 itu, pada 23 Januari 2026, Kalimantan juga sempat diguncang gempa dengan kekuata, M 4,8. Sejak 2019, tepatnya pada 27 Maret, gempa juga pernah terjadi dengan kekuatan yang lebih kecil, yakni M 3,1 dan M,30 pada 22 Februari 2026.
Anggota Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) Daryono mengakui, frekuensi gempa di Kalimantan memang masih lebih rendah di banding pulau-pulau lain yang tersebar di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Tapi, bukan berarti pulau itu steril dari bencana gempa bumi.
"Dibandingkan kawasan lain di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, dan Sulawesi yang berada di sekitar zona subduksi/ megathrust aktif, aktivitas kegempaan di Kalimantan memang jauh lebih rendah. Namun demikian, rendahnya frekuensi gempa tidak berarti wilayah ini sepenuhnya steril dari aktivitas tektonik," tegas Daryono dikutip dari keterangan tertulis, Minggu (22/3/2026).
Daryono dalam kesempatan itu menekankan, walaupun probabilitas gempa besar minim di Kalimantan, prinsip kehati-hatian tetap diperlukan karena gempa kerak dangkal dapat menimbulkan dampak signifikan jika terjadi di dekat kawasan permukiman atau fasilitas vital. Infrastruktur modern, kawasan industri, hingga kota-kota yang berkembang di Kalimantan ia tegaskan tetap memerlukan pendekatan mitigasi berbasis risiko.
Daryono menyebut salah satu sumber gempa di Kalimantan yang perlu diperhatikan adalah Sesar Adang. Sesar ini diduga kuat jadi pemicu gempa pada hari Jumat (13/3/2026) lalu.
Sesar Adang merupakan struktur patahan regional yang memanjang di Pulau Kalimantan dari pesisir timur hingga ke bagian barat laut pulau. Menurut Daryono, terusan Sesar Adang ada di daerah Lupar yang merupakan perbatasan antara Kalimantan Barat dan Sarawak di dekat kota Kuching.
"Status umur Sesar Adang secara umum diinterpretasikan sebagai sesar tua yang berkembang sejak Tersier, bukan sesar Kuarter yang sangat aktif seperti banyak sesar di Jawa atau Sumatra," tegasnya.
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) itu mengungkapkan, jalur Sesar Adabf berawal dari kawasan Teluk Adang di sekitar Kabupaten Paser di Kalimantan Timur.
Dari sana jalurnya menerus ke pedalaman pulau menuju wilayah Sintang, Sekadau, hingga Sanggau. Patahan ini kemudian Daryono perkirakan berlanjut menuju kawasan perbatasan di sekitar Entikong dan tersambung dengan sistem struktur geologi di wilayah Kuching, Sarawak.
Menurut Daryono, ada 2 interpretasi terkait Sesar Adang. Pertama, memuat teori Sesar Adang berupa berupa jalur berkesinambungan terus-menerus tak terputus (kontinu) dari Laut China Selatan sampai Sulawesi.
Sedangkan, teori kedua menyebut Sesar Adang di Kalimantan Timur tidak tersambung dengan Jalur Lupar (Lupar Line) di Kalimantan Barat. Menurut teori yang kedua ini, bukan Adang-Lupar karena tidak ada bukti jejak lapangan maupun data remote sensing.
Terlepas dari itu, Daryono menekankan, karakter gempa yang bersumber dari sesar lokal seperti Sesar Adang biasanya berbeda dengan gempa megathrust di zona subduksi. Misalnya, magnitudonya cenderung lebih kecil, tetapi kedalamannya dangkal sehingga potensi guncangan lokal bisa relatif signifikan.
"Seperti gempa Jumat (13/3/2026) hingga menyebabkan warga terbangun dan lari berhamburan keluar rumah. Dalam konteks ini, ancaman gempa di Kalimantan lebih bersifat lokal dan sporadis, bukan gempa besar yang sering terjadi seperti di wilayah barat Indonesia," paparnya.
Meski aktivitasnya tidak seaktif sesar-sesar besar di wilayah lain Indonesia, keberadaan Sesar Adang menurut Daryono tetap tercermin dari kejadian gempa-gempa kecil hingga menengah yang sesekali terjadi di Kalimantan.
"Beberapa gempa lokal yang tercatat di wilayah Kalimantan Barat, khususnya di sekitar Sintang dan Sekadau, sering dikaitkan dengan aktivitas sesar ini. Gempa-gempa tersebut umumnya memiliki magnitudo kecil hingga sedang, namun karena berasal dari sumber yang dangkal di kerak bumi, sebagai gempa kerak dangkal (shallow crustal earthquake) getarannya dapat terasa cukup kuat di wilayah sekitar episenter," ucapnya.
Dengan catatan ini, Daryono menganggap Sesar Adang menjadi pengingat bahwa stabilitas tektonik Kalimantan bersifat relatif, bukan absolut. Aktivitas gempanya memang jarang dan umumnya kecil, tetapi keberadaannya tetap menandakan bahwa proses dinamika bumi masih berlangsung di bawah pulau yang selama ini dianggap paling stabil di Indonesia.
"Kesadaran terhadap potensi gempa lokal ini menjadi bagian penting dalam membangun Kalimantan yang aman dan tangguh terhadap bencana," tegas Daryono.
Dalam kesempatan itu, Daryono turut menekankan, rendahnya aktivitas gempa di Kalimantan tidak terlepas dari posisi pulau ini yang berada di bagian interior Paparan Sunda, jauh dari batas pertemuan lempeng aktif.
Berbeda dengan Sumatra dan Jawa yang dipengaruhi langsung oleh interaksi antara tumbukan Lempeng Indo-Australia dan Lempeng Eurasia, Kalimantan berada di wilayah kerak yang relatif stabil. Akibatnya, deformasi tektonik yang terjadi lebih lemah dan jarang memicu gempa besar.
"Namun demikian, struktur patahan lama seperti Sesar Adang tetap dapat mengalami reaktivasi akibat tegasan regional yang bekerja di kerak bumi," kata Daryono.
(dce/wur)
Addsource on Google

3 hours ago
1

















































