Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman resesi di Amerika Serikat (AS) kembali mencuat di tengah tekanan ekonomi dan lonjakan harga energi. Namun, pertanyaan besarnya tetap sama: kapan resesi benar-benar terjadi?
Sejumlah ekonom menilai risiko resesi saat ini cukup tinggi. Mitra dan direktur asosiasi di Boston Consulting Group, Hady Farag, mengatakan pelaku pasar mulai bersiap menghadapi kemungkinan tersebut.
"Orang-orang mempersiapkan diri untuk kenyataan bahwa kita sudah berada dalam resesi sekarang atau ada kemungkinan besar kita akan segera berada dalam resesi," ujarnya, seperti dikutip CNN International, Selasa (31/3/2026).
Kekhawatiran ini diperparah oleh tingginya harga energi, yang dalam sejarah kerap menjadi indikator awal resesi. Selain itu, kebijakan ekonomi Presiden AS Donald Trump, mulai dari tarif hingga imigrasi, dinilai menambah ketidakpastian.
Ahli strategi portofolio di Richard Bernstein Advisors, Dan Suzuki, menyoroti meningkatnya kecemasan pasar terhadap potensi perlambatan ekonomi. "Pasar keuangan semakin menunjukkan tanda-tanda ketakutan akan resesi," kata dia.
Meski demikian, sejarah menunjukkan bahwa prediksi resesi kerap meleset. Dalam delapan tahun terakhir, para ekonom hampir setiap tahun memperingatkan potensi resesi, tetapi hanya sekali benar-benar terjadi, yakni pada 2020 saat pandemi Covid-19 memicu kontraksi ekonomi global secara singkat namun tajam.
Pada 2022, misalnya, inflasi tinggi, lonjakan harga minyak akibat perang Rusia-Ukraina, serta kenaikan suku bunga agresif oleh bank sentral AS membuat banyak pihak yakin resesi tak terhindarkan. Bahkan, model Bloomberg sempat memproyeksikan peluang resesi mencapai 100% dalam 12 bulan ke depan. Namun, ekonomi AS tetap bertahan hingga 2025.
Fenomena ini memunculkan sejumlah teori. Salah satunya adalah "resesi bergulir", di mana pelemahan hanya terjadi di sektor tertentu, sementara sektor lain tetap tumbuh.
Dekan sekolah bisnis di Universitas Notre Dame de Namur, John M. Veitch, menjelaskan bahwa kondisi ini membuat resesi terasa tidak merata. Padahal, mungkin sudah terjadi beberapa tahun lalu.
"Orang-orang bertanya kapan resesi akan datang. Jika Anda berada di sektor teknologi tinggi, itu terjadi tiga tahun lalu," ujarnya, merujuk pada tekanan di sektor teknologi pada 2022.
Selain itu, teori "berbentuk K" menunjukkan bahwa kelompok masyarakat berpenghasilan tinggi tetap mampu berbelanja, sehingga menopang konsumsi secara keseluruhan meskipun kelompok berpenghasilan rendah tertekan.
Ada pula faktor "pengeluaran di muka", di mana ancaman kebijakan tarif mendorong pelaku usaha dan konsumen mempercepat belanja sebelum kebijakan diterapkan, sehingga menopang pertumbuhan ekonomi dalam jangka pendek.
Sementara itu, Kepala Ekonom EY-Parthenon, Greg Daco, memperkirakan peluang resesi AS saat ini sekitar 40%. Risiko tersebut dapat meningkat signifikan jika konflik geopolitik, terutama di Timur Tengah, semakin memburuk.
"Ada risiko resesi yang nyata," kata Long. "Tetapi Anda tidak ingin menjadi ekonom yang meramalkan bencana."
Dengan berbagai ketidakpastian yang ada, ekonomi AS kini dinilai berada di persimpangan. Meski tanda-tanda perlambatan semakin terlihat, resesi yang telah lama diprediksi itu masih belum benar-benar terjadi.
(sef/sef)
Addsource on Google

5 hours ago
4















































