Jakarta, CNBC Indonesia — Penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri saat ini sedang mengusut perkara tindak pidana pasar modal.
Bareskrim Polri telah menggeledah kantor sekuritas PT Shinhan Sekuritas di kawasan SCBD pada 3 Februari 2026 terkait proses IPO PT Multi Makmur Lemindo Tbk (PIPA) yang dijamin emisi efeknya oleh Shinhan Sekuritas.
PIPA bergerak pada sektor industri. Perseroan mempunyai visi untuk membuat produk building material. Perusahaan tersebut berdiri pada tahun 2005 sebagai produsen lem pipa.
Sejak 2012, Perseroan fokus pada kegiatan usaha sebagai produsen dan distributor pipa dengan bahan dasar PVC beserta dengan produk turunan dan produk bahan bangunan lainnya.
Beberapa material produksi Perseroan digunakan pada berbagai proyek infrastruktur, termasuk proyek jalan tol di Jawa dan Sumatra.
Adapun saham PIPA mematok harga IPO Rp 105 pada 10 April 2023. Saham ini sempat menyentuh level tertinggi di Rp 625 pada 6 Oktober 2025. Dalam dua hari perdagangan terakhir, PIPA anjlok hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB). Bila dibandingkan dengan harga tertinggi, saham PIPA telah anjlok 75,36% ke level Rp 154.
Dari sisi kepemilikan saham, struktur pemegang saham Multi Makmur Lemindo menunjukkan komposisi yang cukup terkonsentrasi. Morris Capital menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan sekitar 1,71 miliar saham atau setara dengan 49,92% dari total saham beredar.
Sementara itu, porsi saham yang dimiliki oleh masyarakat non-warkat (scriptless) mencapai sekitar 1,66 miliar saham atau 48,36%, mencerminkan tingkat kepemilikan publik yang cukup signifikan.
Selain itu, terdapat pemegang saham individu bernama Susyanalief A yang memiliki sekitar 59,04 juta saham atau setara dengan 1,72% dari total saham perseroan.
Berdasarkan tipe investor, tercatat ada 8.881.600 pemegang saham institusi dengan kepemilikan masing-masing kurang dari 5%.
Tak berhenti di saham PIPA, kasus berlanjut ke saham lain dengan dugaan adanya insider trading dan perdagangan semu PT Minna Padi Aset Manajemen (MPAM) yang kemudian menyeret saham Sanurhasta Mitra (MINA).
Sanurhasta Mitra didirikan pada 29 Desember 1993, dan melantai di bursa saham pada 28 April 2017. Perusahaan memiliki visi untuk menjadi pengembang properti yang andal dan terpercaya.
Sanurhasta Mitra bergerak pada sektor layanan perdagangan, jasa, dan investasi. Kegiatan utamanya meliputi perdagangan, pembangunan, real estate, industri, percetakan, agrobisnis, pertambangan, jasa dan angkutan.
MINA resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia pada 28 April 2017 dengan harga IPO sebesar Rp105 per saham. Informasi kontak perusahaan ditunjukkan melalui email resmi dan situs web perusahaan.
Berdasarkan struktur kepemilikan saham, jumlah saham beredar MINA tercatat sebanyak 9,84 miliar saham. Pemegang saham terbesar adalah PT Basis Utama Prima dengan kepemilikan sekitar 30,48%, disusul oleh Hapsoro sebesar 19,68%.
Happy Hapsoro merupakan suami dari Puan Maharani. Sementara porsi saham yang dimiliki oleh masyarakat non-warkat scripless mencapai 44,51%, menunjukkan tingkat free float yang relatif besar. Selain itu, terdapat kepemilikan individu atas nama Djoni sebesar 5,33%.
Senasib dengan PIPA, saham MINA ARB dalam dua hari perdagangan terakhir. Dalam setahun terakhir, saham MINA sempat menyentuh level tertinggi Rp 635 pada 15 Januari 2026. Bila dibandingkan dengan harga tertinggi, saham MINA sudah anjlok 60,31% ke level Rp 252.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
4

















































