Kesehatan Memburuk, Peraih Nobel Perdamaian Ini Dipindah Penjara

15 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Iran memindahkan peraih Nobel Perdamaian 2023, Narges Mohammadi, ke penjara di kota Zanjan, Iran utara, tanpa pemberitahuan kepada keluarga maupun pengacaranya. Pemindahan ini dilakukan di tengah meningkatnya kekhawatiran atas kondisi kesehatan Mohammadi yang dilaporkan memburuk.

Suami Mohammadi, Taghi Rahmani, mengatakan pemindahan tersebut dilakukan secara sepihak. Dalam unggahan di X, Sabtu (14/2/2026), Rahmani mengatakan, "tindakan ini dilakukan tanpa memberi tahu keluarga atau pengacaranya. Ini bertujuan untuk mengasingkan dan menyingkirkan Narges."

Mohammadi ditangkap pada 12 Desember di Mashhad, Iran timur, setelah menyampaikan pidato yang mengkritik otoritas ulama Iran dalam sebuah upacara pemakaman. Setelah penangkapan, ia ditahan di fasilitas Kementerian Intelijen Iran di Mashhad sebelum akhirnya dipindahkan ke penjara Zanjan.

Awal Februari, Mohammadi sempat melakukan mogok makan dan dirawat di rumah sakit sebelum dikembalikan ke penjara. Komite Nobel Norwegia menyatakan pihaknya "sangat terkejut" dengan laporan yang merinci "pelecehan fisik dan perlakuan buruk yang mengancam jiwa" terhadap Mohammadi, baik saat penangkapan maupun selama penahanan.

Pengacara Mohammadi di Iran, Mostafa Nili, mengungkapkan kliennya mengalami kekerasan fisik. Melalui unggahan X, Nili menyebut Mohammadi berbicara tentang kekerasan selama penangkapannya, tekanan interogasi, dan terutama pukulan keras di kepalanya.

"Pukulan-pukulan ini mengakibatkan pusing, penglihatan ganda, dan penglihatan kabur. Memar serta bekas serangan fisik yang parah masih ada di tubuhnya," katanya, seperti dikutip Channel News Asia.

Sementara itu, Rahmani menyebut informasi mengenai kondisi kesehatan istrinya diperoleh dari mantan tahanan yang sempat ditahan bersama Mohammadi di Mashhad.

"Secara kolektif, informasi ini menunjukkan kondisi fisiknya sangat parah akibat pukulan yang diterimanya. Kondisi jantungnya juga memburuk," kata Rahmani.

Ia menambahkan, tiga dari empat arteri koroner Mohammadi mengalami penyempitan dan ia juga menderita gangguan paru-paru.

"Penyakit-penyakit ini didapatnya karena berada di penjara. Saat berada di penjara, tidak mungkin menjaga kesehatannya," ujarnya.

Para pendukung Mohammadi menyebut ia pernah mengalami beberapa serangan jantung selama masa penahanan sebelumnya dan menjalani operasi darurat pada 2022. Pada akhir 2024, dokter juga menemukan lesi tulang yang dikhawatirkan berpotensi kanker dan telah diangkat.

Awal bulan ini, pengadilan Iran menjatuhkan hukuman tambahan enam tahun penjara kepada Mohammadi atas tuduhan membahayakan keamanan nasional, serta 1,5 tahun penjara karena propaganda melawan sistem Islam Iran. Selama lebih dari dua dekade, Mohammadi berulang kali diadili dan dipenjara karena kampanyenya menentang hukuman mati dan aturan berpakaian wajib bagi perempuan.

Pemindahan Mohammadi terjadi di tengah penindakan keras aparat terhadap gelombang protes nasional di Iran. Kelompok hak asasi manusia menyebut lebih dari 7.000 orang tewas, sementara pemerintah Iran mengklaim jumlah korban lebih dari 3.100 orang. Rahmani menyebut penindasan ini sebagai yang paling mematikan sejak Republik Islam Iran berdiri pada 1979.

(tfa/haa)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |