Jakarta, CNBC Indonesia - Ukuran ikan raksasa di Sungai Mekong menyusut tajam dalam beberapa tahun terakhir akibat penangkapan berlebih. Studi terbaru menemukan panjang ikan air tawar terbesar dan paling terancam punah di sungai tersebut turun hingga 40% hanya dalam tujuh tahun.
Penurunan paling mencolok terlihat pada lele raksasa Mekong. Dalam 25 tahun terakhir, bobot rata-ratanya anjlok 55%, dari sekitar 180 kilogram menjadi hanya 80 kilogram.
Ahli biologi Ngor Peng Bun, anggota tim penelitian, mengingat pengalaman menangkap lele raksasa seberat 270 kilogram pada tahun 2000 sebelum diberi penanda dan dilepas kembali.
"Ikan itu sangat besar, tak terlupakan," katanya, dikutip dari The Guardian, Rabu (18/2/2026).
Spesies yang dikenal sebagai trey reach atau ikan kerajaan itu kini disebut hanya menjadi bayangan dari kejayaannya.
Tren serupa juga terjadi pada barb raksasa, ikan mas terbesar di dunia sekaligus ikan nasional Kamboja. Kedua spesies tersebut kini berstatus sangat terancam punah.
Para ilmuwan menegaskan ukuran tubuh sangat menentukan kelangsungan populasi. Ikan besar menghasilkan telur jauh lebih banyak dibanding ikan kecil.
Seekor lele seberat 300 kilogram, misalnya, dapat menghasilkan keturunan 10 hingga 20 kali lebih banyak dibandingkan ikan seberat 50 kilogram.
Ikan raksasa Mekong berperan penting dalam ekosistem sungai sekaligus menjadi sumber penghidupan jutaan orang. Meski demikian, ada secercah harapan ketika pada 2022 seorang nelayan menangkap dan melepas kembali pari air tawar seberat 300 kilogram, yang menjadi ikan air tawar terbesar yang pernah tercatat.
Profesor riset asosiasi University of Nevada, Zeb Hogan, menyebut penyusutan cepat ini sebagai fenomena yang mengejutkan.
"Kami telah melihat pola ini pada perikanan kod Atlantik, di mana puluhan tahun penangkapan selektif berdasarkan ukuran menghilangkan ikan terbesar dan paling subur, yang berujung pada keruntuhan dramatis," ujarnya.
"Ketika ukuran tubuh dan kapasitas reproduksi menurun, ikan [Mekong] berisiko memasuki 'spiral kematian'."
Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Biological Conservation tersebut menganalisis data pemantauan selama tujuh tahun di 23 lokasi di kawasan hilir Mekong, mencakup 257 spesies ikan. Peneliti memperkirakan tren penyusutan masih berlanjut.
Selain penangkapan berlebih, populasi ikan raksasa juga tertekan oleh pembangunan bendungan yang menghambat migrasi ke lokasi pemijahan, krisis iklim yang mengganggu siklus musim, serta hilangnya hutan banjir akibat ekspansi pertanian. Hogan menegaskan rekor pari 300 kilogram pada 2022 menunjukkan harapan masih ada.
"Pari seberat 300 kg itu menunjukkan bahwa semuanya belum terlambat. Rekor baru masih tercipta. Namun, itu tidak akan berarti banyak jika kita tidak segera bertindak untuk melindungi spesies ini dan sistem sungai tempat mereka hidup," terangnya.
Meski penangkapan ikan raksasa sudah dilarang di beberapa negara sepanjang Sungai Mekong, penegakan hukum masih menjadi tantangan besar. Peneliti menilai nelayan lokal harus dilibatkan dalam upaya pelestarian.
"Nelayan lokal sangat penting dalam pengumpulan data kami. Mereka berada di garis depan dan harus menjadi bagian dari solusi," kata Sophorn Uy dari Royal University of Agriculture di Phnom Penh.
(dem/dem)
Addsource on Google

2 hours ago
1

















































