Jakarta, CNBC Indonesia - Media Amerika Serikat (AS) sejak lama kerap menyoroti sosok para pemimpin dunia. Salah satu yang tak luput dari perhatian adalah presiden pertama Indonesia, Soekarno. Dari berbagai liputan tentang dirinya, sejarah mencatat ada satu media asing yang pernah mengangkat sisi unik sekaligus kontroversial, yakni sisi mistis Soekarno dan tudingan atas dukun favorit.
Pada 10 Maret 1958, majalah ternama AS, Time, menerbitkan tulisan panjang berjudul "INDONESIA: Djago, the Rooster". Artikel ini menggambarkan Soekarno sebagai tokoh sentral Indonesia dengan karisma luar biasa. Setiap kunjungannya ke suatu daerah pria kelahiran 1901 ini disebut selalu disambut gelombang manusia. Ratusan ribu orang rela menunggu hanya demi melihat kehadirannya secara langsung.
Aura kepemimpinannya bahkan dianggap nyaris mistis.
"Sejak awal, dia memegang keyakinan mistis bahwa dirinya, dan hanya dirinya, yang mewakili suara rakyat Indonesia. [...] Pesonanya mampu menenangkan kegelisahan, oratorinya membungkam kritik, dan "keberuntungannya" yang termasyhur telah membawanya selamat melewati penjara, pengasingan, pemberontakan, percobaan pembunuhan, dan kudeta yang nyaris terjadi," tulis Time.
Namun, sorotan media asing tersebut tidak berhenti pada pesona dan karisma semata. Media tersebut juga mengangkat sosok misterius yang berada di lingkaran terdekat Soekarno, yakni seorang dukun bernama Madame Suprapto, yang disebut-sebut sebagai peramal favorit sang presiden.
Majalah Time bahkan menulis secara gamblang soal kedekatan itu.
"Dukun favoritnya, seorang perempuan bernama Madame Suprapto, pekan lalu memberinya ramalan yang sangat gamblang," ungkap Time.
Foto: LIFE- Maritimnews
Presiden Soekarno saat Sidang PBB
Kedekatan Soekarno dengan Madame Suprapto disebut begitu besar, hingga perhatian yang diberikan kepadanya hampir menyamai perhatian terhadap para penasihat politiknya. Sosok ini pun diklaim memberikan ramalan besar tentang masa depan dunia. Salah satu ramalan paling kontroversial adalah soal pecahnya Perang Dunia III.
"Bom besar pertama akan jatuh di Indonesia pada bulan Maret. Amerika Serikat akan campur tangan dalam pertikaian antara Padang dan Jakarta, lalu Uni Soviet akan ikut terlibat, dan Perang Dunia III akan terjadi," ungkap Suprapto, dikutip Time.
Dalam versi ramalan tersebut, dunia digambarkan menuju kehancuran besar. Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Eropa runtuh, sementara hanya Cina yang tersisa sebagai kekuatan besar dunia.
Sementara di dalam negeri, sorotan media asing itu langsung memicu reaksi serius. Salah satu respons datang dari koran Istimewa edisi 30 Maret 1958 yang secara tegas membantah tudingan tersebut.
"Berita-berita berkenaan dengan presiden Soekarno mengandung hal-hal yang menyeleweng dan memalukan tokoh besar kita," tulis koran itu.
Menurut Istimewa, ramalan semacam itu bukan hal baru di Indonesia. Kepercayaan masyarakat terhadap dukun dan peramal memang telah lama melekat dalam budaya. Namun di sisi lain, ramalan-ramalan tersebut juga dinilai tidak memiliki dasar yang dapat dibuktikan. Ramalan Suprapto dipandang sulit diverifikasi kebenarannya karena berkaitan dengan masa depan yang penuh ketidakpastian.
Soekarno sendiri menanggapi pemberitaan tersebut dengan sikap tenang. Dia justru menilai sorotan media asing itu membawa dampak positif bagi citra Indonesia di mata dunia.
"Kalau majalah luar negeri mengecam kita, tandanya berjalan di atas rel kebenaran. Sebaliknya, kalau kita dipuja-puji, tandanya kita telah menyeleweng dari batas-batas kenasionalan," ungkap Soekarno.
Secara pribadi, Soekarno juga menolak citra mistis yang kerap dilekatkan pada dirinya. Dia tidak ingin dianggap sakti, dan justru menegaskan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa.
"Bukankah aku bersifat manusia seperti juga setiap manusia lainnya. Bahkan, kalau engkau melukai seorang kepala negara, dia akan lemah," ungkap Soekarno, dikutip dari autobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966).
(luc)
Addsource on Google

3 hours ago
4

















































