Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
05 February 2026 15:35
Jakarta, CNBC Indonesia- Jakarta menghadapi tekanan struktural pada sektor air perkotaan. Di tengah persoalan tersebut, Perumda Air Minum Jaya (PAM JAYA) tetap menjamin akses air minum tanpa meninggalkan prinsip keberlanjutan.
Atas upaya PAM JAYA dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai fondasi transformasi layanan air minum di DKI Jakarta, CNBC Indonesia menganugerahkan ESG Award kepada PAM JAYA.
Penghargaan ini juga diberikan karena PAM JAYA serta menjalankan tata kelola BUMD yang transparan dan profesional.
Acara penghargaan sudah digelar dalam ESG Sustainability Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Foto: PAM Jaya meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)
PAM Jaya meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)
Diberikan kepada Perumda Air Minum Jaya (PAM JAYA) atas komitmen kuat dalam penerapan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai fondasi transformasi layanan air minum di DKI Jakarta.
Di tengah tantangan krisis air perkotaan dan penurunan muka tanah, PAM Menjamin akses air minum aman dan berkelanjutan, melindungi lingkungan perkotaan Jakarta, serta menjalankan tata kelola BUMD yang transparan dan profesional.
Melansir Badan Pusat Statistik menunjukkan kebutuhan air bersih di DKI Jakarta terus meningkat sepanjang 2020-2022, tercermin dari kenaikan volume air yang disalurkan serta bertambahnya jumlah pelanggan layanan perpipaan.
Pada saat yang sama, kapasitas sistem air bersih bergerak lebih terbatas, sehingga ruang penyangga antara produksi dan konsumsi semakin menyempit.
Melansir Badan Pusat Statistik (BPS), kapasitas produksi air bersih Jakarta sangat bergantung pada ketersediaan air baku. Hingga saat ini, sebagian besar pasokan air baku masih berasal dari luar wilayah DKI Jakarta.
Waduk Jatiluhur menjadi sumber utama dengan kemampuan memasok air baku hingga 18.000 liter per detik. Selain itu, Jakarta juga memanfaatkan air curah yang dipasok oleh PDAM Tangerang sebagai sumber tambahan.
Sebaliknya, pemanfaatan sumber air baku dari dalam wilayah Jakarta masih terbatas. Dari sejumlah sungai yang mengalir di ibu kota, baru lima sungai yang dinilai memiliki potensi sebagai sumber air baku, yakni Sungai Ciliwung, Sungai Sekretaris, Sungai Krukut, Sungai Pesanggrahan, dan Kanal Banjir Barat.
Keterbatasan pemanfaatan sungai-sungai tersebut membuat struktur pasokan air Jakarta tetap bergantung pada sumber eksternal.
Kondisi ini menempatkan pengelolaan air perkotaan Jakarta pada tekanan berlapis, ketika pertumbuhan kebutuhan berjalan lebih cepat dibanding kemampuan sistem dan daya dukung lingkungan untuk mengimbanginya.
Dengan tren tersebut, sistem air bersih Jakarta bergerak di bawah tekanan struktural yang bersifat berulang, bukan temporer.
Ketergantungan pada air baku dari luar wilayah, jaringan pipa tua, serta masifnya penggunaan air tanah memperbesar risiko krisis air dan mempercepat penurunan muka tanah.
Dalam konteks ini, Perumda Air Minum Jaya (PAM JAYA) menempatkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai kerangka kerja utama transformasi layanan air minum di DKI Jakarta.
Secara eksisting, cakupan layanan PAM JAYA per Desember 2025 telah mencapai 80,24% dengan jumlah pelanggan 1.178.022 sambungan. Panjang jaringan pipa tercatat 12.835,21 kilometer dan volume air terdistribusi sebesar 22.583 liter per detik.
Angka ini menempatkan Jakarta di atas rata-rata nasional, namun masih menyisakan sekitar 20% wilayah yang belum terlayani penuh. Konsekuensinya, pemanfaatan air tanah masih berlangsung luas, terutama di sektor niaga.
Dari sisi lingkungan, tantangan utama Jakarta terletak pada struktur pasokan air baku. Sekitar 95% sumber air baku PAM JAYA berasal dari luar wilayah DKI Jakarta. Kondisi ini menciptakan kerentanan sistemik terhadap gangguan pasokan lintas daerah.
Di saat yang sama, kualitas sumber air baku internal Jakarta menghadapi tekanan pencemaran dan belum seluruhnya memenuhi baku mutu PP Nomor 22 Tahun 2021. Untuk merespons risiko tersebut, PAM JAYA mendorong diversifikasi sumber air melalui optimalisasi instalasi pengolahan air (IPA) eksisting seperti Buaran, Ciliwung, Pesanggrahan, dan Muara Karang, serta pengembangan IPA regional Jatiluhur dan Karian-Serpong.
Upaya perlindungan lingkungan juga diarahkan pada pengendalian kehilangan air di jaringan distribusi. Sekitar 53% pipa PAM JAYA berusia di atas 30 tahun, meningkatkan potensi kebocoran dan inefisiensi.
PAM JAYA menerapkan teknologi deteksi kebocoran berbasis helium, kamera inspeksi pipa, hydrophone, serta pelapis internal JD-7. Mekanisme ini diarahkan untuk menekan non-revenue water (NRW), sehingga volume air yang diproduksi benar-benar sampai ke pelanggan dan tekanan terhadap sumber air baku dapat dikendalikan.
Dimensi lingkungan lain yang menjadi perhatian adalah konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK). Data paparan menunjukkan 79,4% rumah tangga Jakarta masih mengandalkan AMDK pada 2023, meningkat dari 76,7% pada 2022.
Pada saat yang sama, timbulan sampah Jakarta mencapai 7.543 ton per hari pada 2022.
Plastik menjadi kontributor signifikan. PAM JAYA merespons melalui pengembangan layanan Water Purifier yang menggunakan teknologi ultraviolet dan reverse osmosis. Sistem ini dirancang untuk mengurangi ketergantungan pada AMDK dan menekan beban limbah plastik perkotaan.
Foto: Pam Jaya. (Instagram/pamjaya_dki)
Pam Jaya. (Instagram/pamjaya_dki)
Pada pilar sosial, fokus utama PAM JAYA diarahkan pada pemenuhan hak dasar warga atas air minum aman. Target cakupan layanan 100% pada 2029 disertai rencana peningkatan panjang jaringan pipa menjadi 16.234 kilometer dan kapasitas suplai air hingga 31.563 liter per detik.
Konsekuensinya, tekanan terhadap air tanah dapat dikurangi secara bertahap. Data internal PAM Jaya mencatat masih terdapat 4.714 pengguna air tanah, mayoritas berasal dari sektor usaha. Perluasan jaringan perpipaan diposisikan sebagai instrumen utama untuk menggeser konsumsi tersebut.
Kualitas air menjadi bagian tak terpisahkan dari aspek sosial.
PAM JAYA memastikan air yang disalurkan, termasuk melalui layanan Water Purifier, memenuhi standar Permenkes Nomor 2 Tahun 2023. Parameter kualitas seperti pH, total dissolved solids (TDS), klorin, dan trihalometana dipantau secara berkala melalui laboratorium internal.
Pendekatan ini diarahkan untuk menekan risiko kesehatan, termasuk paparan mikroplastik yang dalam paparan disebut telah terdeteksi pada lingkungan perairan dan air tanah di sekitar kawasan pengelolaan sampah.
Foto: Pam Jaya. (Instagram/pamjaya_dki)
Pam Jaya. (Instagram/pamjaya_dki)
Transformasi ESG PAM JAYA diperkuat melalui reformasi tata kelola.
Mulai 2026, PAM JAYA mengoperasikan sistem ERP Fusion yang terintegrasi dengan billing system C2M, AI Call Center, Super Apps PAM JAYA, serta smart water meter Cyble.
Digitalisasi ini membentuk mekanisme pengelolaan berbasis data, memperkuat transparansi pencatatan konsumsi, akurasi penagihan, dan respons layanan kepada pelanggan. Bagi BUMD, sistem ini mempersempit ruang inefisiensi dan meningkatkan akuntabilitas operasional.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)

2 hours ago
2

















































