Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas terus mengalami kenaikan signifikan dalam beberapa tahun ini. Terakhir, harga emas dunia berhasil menguat pada penutupan terakhir pekan ini ke posisi US$4.960,39 per troy ons. Penguatan ini mempertegas konsistensi emas sebagai aset dengan lindung nilai yang stabil ditengah ketidakpastian ekonomi.
Namun perlu diketahui, secara historis, emas jatuh saat suku bunga riil (Real Rates) naik. Namun, sejak 2022, korelasi ini putus. Emas bahkan mencetak rekor tertinggi meski The Fed mempertahankan suku bunga tinggi.
Lalu apa penyebabnya? Jika Anda belajar ekonomi dasar, Anda pasti tahu rumus: Suku Bunga Naik = Emas Turun. Logikanya sederhana: Emas adalah aset yang tidak memberikan bunga (non-yielding). Jika obligasi pemerintah AS (Treasury) memberikan bunga 5%, mengapa orang mau memegang emas? Uang seharusnya mengalir keluar dari emas menuju Dolar.
Namun, di tahun 2026, pasar menampar wajah teori ini. Suku bunga AS tetap tinggi secara historis, Dolar relatif kuat, namun emas terus mencetak All-Time High (ATH). Fenomena ini disebut oleh analis Wall Street sebagai "The Great Decoupling".
Korelasi terbalik antara US Real Yields dan Harga Emas telah hancur. Ini bukan sekadar anomali sesaat, ini adalah perubahan rezim pasar. Kita sedang beralih dari pasar yang digerakkan oleh spekulan menjadi pasar yang digerakkan oleh kedaulatan.
Artikel ini akan mengupas alasan target harga emas $5.700 masuk akal secara fundamental, dan bagaimana menyesuaikan strategi trading Anda di Pluang untuk realitas baru ini.
Diagnosa Anomali: Siapa Pembeli Misterius Ini?
Dalam pasar normal, harga ditentukan oleh pembeli marjinal. Selama dekade 2010-an, pembeli marjinal emas adalah investor ETF negara-negara Barat. Mereka sangat sensitif terhadap suku bunga. Begitu The Fed menaikkan suku bunga, mereka jual emas.
Namun, data terbaru menunjukkan divergensi ekstrem. Investor ETF negara-negara Barat menjual emas karena suku bunga tinggi, tetapi harga emas tetap naik. Siapa yang menyerap penjualan itu?
Jawabannya: Bank Sentral negara-negara Timur. Bank sentral membeli emas dengan motif yang berbeda total. Mereka tidak peduli dengan yield 5% atau 6%. Mereka peduli dengan sanksi, penyitaan, dan diversifikasi geopolitik. Permintaan mereka bersifat inelastis terhadap harga.
Data menunjukkan pembelian lebih dari 2.300 ton dalam 30 bulan terakhir. Ini adalah kekuatan beli masif yang menelan semua tekanan jual dari pasar ETF negara-negara Barat, menciptakan apa yang disebut analis Bloomberg sebagai kekuatan terbesar dalam secular bull market emas.
Dua Jenis Bull Market
Penting bagi investor Pluang untuk membedakan dua jenis Bull Market:
-
Cyclical (Siklus): Naik turun mengikuti siklus bisnis (3-5 tahun). Didorong oleh inflasi atau suku bunga rendah.
-
Secular (Sekuler): Tren jangka panjang (10-20 tahun) yang didorong oleh perubahan struktural fundamental. Contoh: Saham AS 2009-2021, atau Emas 1971-1980.
Kita sekarang berada dalam Secular Bull Market untuk Emas. Katalisnya bukan inflasi sesaat, melainkan:
-
Hilangnya kepercayaan pada utang AS ($35 Triliun).
-
Weaponisasi Dolar (Sanksi Rusia).
-
Kebangkitan sistem perdagangan non-Dolar (BRICS).
Dalam pasar sekuler, indikator Overbought (seperti RSI) sering kali bertahan lama di zona jenuh beli. Menggunakan strategi Mean Reversion (Short saat tinggi) adalah bunuh diri. Strategi terbaik adalah Trend Following (Buy on Dip).
Morgan Stanley memproyeksikan harga emas bisa mencapai $5.700 pada 2026. Angka ini tampak fantastis, tapi jika disesuaikan dengan inflasi moneter (M2 Money Supply), emas sebenarnya masih jauh dari puncak tahun 1980.
Strategi Trading Menggunakan 'Web Trading' Pluang
Karena korelasi fundamental (Bunga vs Emas) sudah tidak bisa diandalkan, investor harus lebih mengandalkan Price Action dan Data Arus Dana.
1. Identifikasi Tren dengan Moving Averages
Gunakan Web Trading di desktop untuk analisis presisi.
-
Pasang indikator EMA 50 dan EMA 200 pada grafik mingguan (Weekly Chart).
-
Dalam Secular Bull Market, harga jarang turun di bawah EMA 50 Weekly. Setiap kali harga menyentuh garis ini, itu adalah peluang beli institusional.
2. Jangan Melawan 'Central Bank Put'
Sama seperti pasar saham punya "Fed Put" (The Fed akan menyelamatkan pasar saham jika jatuh), pasar emas kini punya "Central Bank Put".
-
Bank sentral China dan lainnya cenderung membeli saat harga turun (Buying on weakness). Ini menciptakan lantai harga yang kuat.
-
Strategi: Jangan melakukan Short Selling agresif pada emas hanya karena The Fed bersikap Hawkish (menaikkan bunga). Narasi bunga sudah tidak relevan.
Memburu 'Alpha' melalui Saham AS Tambang
Jika harga emas naik tinggi, perusahaan tambang mencetak uang tunai dalam jumlah rekor. Namun, harga saham mereka sering kali tertinggal (lagging) dari harga emas fisik. Ini peluang arbitrase.
Cara Screening di Pluang:
Masuk ke menu Smart Screeners dan pilih US Stocks.
-
Preset "Undervalued Opportunities": Cari emiten tambang (seperti Barrick Gold - B atau Newmont - NEM) yang rasio P/E-nya rendah padahal harga emas di ATH.
-
Preset "Momentum Stocks": Cari saham tambang junior yang mulai bergerak agresif. Biasanya saham ini memberikan "Beta" (volatilitas) 2x-3x lipat dari harga emas.
-
Validasi Aura AI: Buka saham pilihan Anda, cek kartu "Fundamental Insight". Pastikan perusahaan memiliki Free Cash Flow positif dan utang terkendali. Hindari jebakan nilai (Value Trap).
Bitcoin sebagai 'High Beta Gold'
Dalam tesis "The Great Decoupling", Bitcoin (BTC) sering kali berperan sebagai Emas dengan leverage. Ketika narasi "Anti-Fiat" menguat, Bitcoin sering kali berlari lebih kencang dari emas.
-
Strategi Crypto di Pluang:
○ Gunakan preset Smart Screeners Crypto "Trend-Following" untuk mengidentifikasi kapan Bitcoin mulai bergerak seirama dengan Emas (Korelasi Positif).
○ Cek "Analyst & Institutional Insight" di Aura AI. Jika institusi (ETF Bitcoin) mulai mengakumulasi bersamaan dengan Bank Sentral mengakumulasi emas, ini adalah konfirmasi ganda (Double Confirmation) dari tesis "Debasement".
Manajemen Likuiditas di Era Decoupling
Dalam pasar yang anomali, likuiditas adalah raja. Anda butuh peluru untuk menembak saat terjadi dislokasi harga.
-
USD Yield:
○ Jangan biarkan kas menganggur. Taruh di USD Yield.
○ Karena suku bunga AS masih tinggi (penyebab Decoupling), Anda sebenarnya diuntungkan. Anda mendapatkan yield tinggi dari Dolar, SEMENTARA emas Anda juga naik harganya.
○ Ini adalah skenario Win-Win yang langka: Dapat bunga tinggi dari USD, dapat capital gain dari Emas. Manfaatkan fitur ini di Pluang untuk memaksimalkan total return.
Buang Buku Pelajaran Lama Anda
Pasar tahun 2026 mengajarkan kita untuk beradaptasi. Model korelasi lama yang bekerja selama 40 tahun terakhir telah usang.
Selama Bank Sentral terus mengakumulasi emas sebagai aset strategis non-politik, harga emas akan terus terputus (decoupled) dari suku bunga riil. Target $5.700 bukanlah mimpi siang bolong, melainkan repricing moneter yang logis.
Sebagai investor di Pluang, Anda memiliki keuntungan unik. Anda bisa memegang Emas untuk pertumbuhan sekuler, Saham Tambang untuk leverage, dan USD Yield untuk menikmati suku bunga tinggi, semuanya dalam satu ekosistem.
Disclaimer: Segala analisis dan rekomendasi dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual aset tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.
(dpu/dpu)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































