Mobil China Tak Laku, Ramai-Ramai Pindah ke Mesin Uang Baru

1 hour ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Produsen kendaraan listrik China mulai merambah bisnis lain. Ya, ramai-ramai pabrikan EV kini mencoba peruntungan di robot humanoid, robot yang bentuk dan gerakannya menyerupai manusia), di tengah perlambatan pertumbuhan pasar mobil listrik domestik dan persaingan yang makin ketat.

Sejumlah perusahaan bahkan menyiapkan produksi massal robot untuk mencari sumber pertumbuhan baru. Perlu diketahui, saat ini penjualan EV China diperkirakan mencatat kinerja terburuk sejak 2021.

"Para produsen mobil ini berupaya mengubah narasi valuasi modal, sekaligus memperkuat citra mereka sebagai perusahaan teknologi dan menciptakan sumber pertumbuhan baru," ujar Direktur Asosiasi Counterpoint Research, Kevin Li, seperti dikutip CNBC International, Kamis (10/9/2026).

Diversifikasi itu muncul di tengah tekanan terhadap pertumbuhan dan profitabilitas produsen EV China. Data Asosiasi Produsen Mobil China yang dikutip Counterpoint menunjukkan rata-rata margin keuntungan industri manufaktur kendaraan China hanya 1,5% pada paruh pertama 2026.

"Mengingat melambatnya pertumbuhan dan menurunnya profitabilitas di pasar EV, terutama domestik, diversifikasi ke aplikasi baru seperti robotika merupakan langkah strategis yang wajar," kata Direktur Peringkat Korporasi Asia-Pasifik Fitch Ratings, Jing Yang.

Salah satu perusahaan yang beralih adalah Xpeng. Bulan lalu, produsen mobil dan motor listrik itu menghimpun dana US$900 juta (Rp15,77 triliun) untuk bisnis robotikanya, yang menurut perusahaan menjadi putaran pendanaan tunggal terbesar di industri embodied AI China.

Pendanaan tersebut memberi valuasi lebih dari US$6,3 miliar (Rp110,42 triliun) untuk unit robotika Xpeng. Menurut Citi, ini hampir setara dengan estimasi nilai US$6,5 miliar (Rp113,91 triliun) untuk bisnis EV perusahaan.

Xpeng sendiri memperkirakan dapat memanfaatkan sekitar 85% komponen motor, cip, serta perangkat lunak kemudi cerdas untuk robot humanoid, sementara robot tersebut bisa lebih dulu digunakan di gerai dan pabrik perusahaan. Pada Selasa Xpeng menyatakan akan memulai produksi massal robot humanoid pada akhir 2026, dengan penggunaan awal di gerai dan fasilitas bisnisnya sendiri sebelum dipasarkan secara lebih luas di China dan luar negeri pada 2027.

Xiaomi juga telah menguji robot humanoid di pabriknya tahun ini. Sementara itu, divisi investasi Nio telah menanam modal di sejumlah startup robotika seperti LimX Dynamics dan Acorn Robot.

Meski prospeknya besar, komersialisasi robot humanoid masih menghadapi ketidakpastian. Ini dikatakan analis Jefferies Hong Kong, Xiaoyi Lei, meski membenarkan produsen otomotif China memiliki keunggulan karena dapat menggunakan kembali sebagian besar rantai pasokan dan teknologi yang telah mereka miliki.

"Menurut saya, tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana membuat algoritma dan rangkaian perangkat lunak yang awalnya digunakan untuk sistem kemudi cerdas agar dapat diterapkan pada robot humanoid, yang jauh lebih sulit dan menantang," ujar Lei.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |