Jakarta, CNBC Indonesia - Lembaga pemeringkat utang atau kredit global Moody's telah mengumumkan rating untuk beberapa negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Bagi Indonesia, Moody's mengumumkan penilaian terbaru terhadap peringkat utang RI sejak Februari 2026. Hasilnya adalah peringkat utang tetap dipertahankan di level Baa2 atau satu tingkat di atas batas investment grade (layak diinvestasi), namun dengan outlook rating direvisi dari stabil menjadi negatif.
Peringkat kredit yang sama juga diberikan untuk Filipina di level Baa2. Namun, untuk outlooknya, dalam pengumumuman 14 April 2026, Moody's masih menganggap Filipina stabil, berbeda dengan Indonesia yang justru negatif.
Sedangkan Thailand, dalam pengumuman 23 April 2026, outlook kreditnya tetap dipertahankan setingkat lebih baik dari Indonesia dan Filipina, yakni Baa1. Hanya saja, untuk outlooknya justru makin baik dari negatif menjadi stabil.
Rating terbaik yang diberikan Moody's untuk negara-negara Asia Tenggara ialah untuk Singapura, dengan peringkat kredit Aaa (kualitas kredit tertinggi) dan outlook stabil. Setelahnya Malaysia, dengan rating A3 (kualitas tinggi) dengan outlook stabil.
Adapun penilaian rating terendah, disematkan untuk Laos dengan peringkat Caa2 (berisiko tinggi) meski outlooknya stabil. Di atasnya adalah Kamboja dengan rating B2 (sangat spekulatif) walaupun outlooknya berubah menjadi stabil dari sebelumnya negatif. Vietnam juga masih berada di level Ba2 (spekulatif) dengan outlook yang masih stabil.
Dengan catatan ini, pemerintah Indonesia sebelumnya telah menyatakan apresiasi terhadap asesmen Moody's yang mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada posisi Baa2, dengan penyesuaian outlook dari stabil menjadi negatif.
Dalam siaran pers Kementerian Keuangan sejak 5 Februari 2026, pemerintah memastikan, akan terus melakukan transformasi ekonomi dan menghidupkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah terus memastikan bahwa setiap potensi risiko dapat dikelola dengan baik. Berbagai upaya debottlenecking yang menghambat aktivitas usaha terus dilakukan.
Selain itu, Pemerintah bersama Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas harga dan nilai tukar serta stabilitas pasar keuangan. Sinergi fiskal dan Danantara akan dioptimalkan.
"Dengan komitmen dan konsistensi kebijakan, Pemerintah optimis dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan kesejahteraan rakyat," sebagaimana tertera dalam rilis Kementerian Keuangan.
Sebagai informasi tambahan, lembaga pemeringkat atau rating agency seperti Moody's adalah institusi independen yang bertugas menilai risiko kredit suatu pihak, baik negara maupun perusahaan.
Secara sederhana, mereka mengukur seberapa kuat kemampuan dan kemauan penerbit utang untuk membayar pokok serta bunga tepat waktu. Hasil penilaian ini kemudian dituangkan dalam dua indikator utama, yakni rating dan outlook.
Khusus untuk negara, penilaian tersebut dikenal sebagai sovereign credit rating.
Rating adalah nilai huruf yang menggambarkan kualitas kredit saat ini. Semakin tinggi rating, semakin rendah risiko gagal bayar di mata pasar.
Rating juga menjadi patokan penting bagi investor global, karena banyak investor institusi, seperti manajer dana pensiun, asuransi, hingga reksa dana obligasi, punya aturan internal yang membatasi mereka hanya boleh membeli aset dengan peringkat tertentu.
Ketika rating sebuah negara kuat dan berada di level investment grade, basis investornya cenderung lebih luas dan biaya pendanaannya lebih murah.
Selain investment grade, ada kategori di bawahnya yang disebut speculative grade. Kelompok ini kerap dijuluki non investment grade atau junk karena risikonya dinilai lebih tinggi. Ketika penerbit berada di level ini, investor cenderung menuntut kompensasi imbal hasil yang lebih besar, sehingga biaya pendanaan meningkat.
Saat ini, ketiga lembaga rating internasional yakni Moody;s, S&P dan Fitch Ratings menempatkan Indonesia dalam status investment grade.
Investment grade adalah peringkat kredit yang menunjukkan bahwa suatu instrumen utang atau penerbit utang memiliki risiko gagal bayar yang relatif rendah, sehingga dianggap layak untuk investasi oleh investor institusi besar.
Di level paling bawah, terdapat kategori default yang menggambarkan kondisi gagal bayar atau sangat dekat dengan itu.
Sementara itu, tidak semua penerbit atau surat utang memiliki peringkat. Ada pula instrumen yang berstatus not rated, yakni belum dinilai atau tidak meminta pemeringkatan, sehingga investor perlu mengandalkan analisis risiko mereka sendiri.
Selain rating, ada outlook yang merupakan arah pandangan lembaga pemeringkat untuk beberapa waktu ke depan, apakah peringkat cenderung stabil atau berisiko berubah. Outlook stabil umumnya berarti faktor penopang peringkat dinilai masih terjaga.
Sementara outlook negatif adalah sinyal bahwa ada tekanan yang jika berlanjut dapat membuka peluang penurunan rating. Karena sifatnya sinyal awal, perubahan outlook sering dipantau ketat oleh pelaku pasar sebagai peringatan dini terhadap perubahan risiko, terutama untuk pergerakan obligasi, arus modal, dan premi risiko suatu negara.
(dce)
Addsource on Google

6 hours ago
1

















































