Jakarta, CNBC Indonesia - PT KAI Commuter buka suara soal penyebab makin padatnya KRL Commuter Line lintas Tanah Abang-Rangkasbitung di jam-jam sibuk yakni pada pagi dan sore hari.
Corporate Secretary Vice President KAI Commuter, Karina Amanda mengatakan, selain adanya kenaikan jumlah penumpang setiap tahunnya yang berimbas semakin padat, jarak antar KRL atau headway yang masih cukup lebar membuat kepadatan penumpang masih sulit terurai. Di jam sibuk yakni pada pukul 07:00 - 08:00 WIB dan 17:00 -18:00 WIB, headway bisa mencapai sekitar 10 - 15 menit.
"Untuk headway perjalanan Tanah Abang-Rangkasbitung, umumnya 10-15 menit, di mana lintas Tanah Abang-Serpong headwaynya mencapai 10 menit, sedangkan Serpong-Rangkasbitung bisa 15 menit pada jam sibuk," kata Karina kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/3/2026).
Karina menjelaskan, alasan headway KRL Tanah Abang-Rangkasbitung yang masih sekitar 10-15 menit di jam sibuk karena prasarananya belum memadai untuk diperpendek headwaynya.
"Headway belum bisa kami perpendek karena prasarana persinyalan di lintas tersebut masih menggunakan sistem otomatis blok tertutup, sehingga perjalanan antar KRL hanya dapat melayani perjalanan KRL dari satu stasiun ke satu stasiun lainnya," jelasnya.
Selain itu, saat ini, KRL yang beroperasi di jalur tersebut masih menggunakan stamformasi 10 kereta atau SF 10, sehingga dengan headway yang masih lebar, kepadatan juga sulit diurai di jam-jam sibuk.
Foto: Penumpang menaiki KRL Commuter Line di Stasiun Jatake, Kabupaten Tangerang, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Penumpang menaiki KRL Commuter Line di Stasiun Jatake, Kabupaten Tangerang, Rabu (28/1/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
KAI Commuter sejatinya telah mengujicobakan KRL SF 12 beberapa kali, di mana salah satunya juga sempat menggunakan KRL baru buatan China. Namun, karena kapasitas listrik aliran atas (LAA) belum memadai, maka hingga kini KRL SF 12 belum dapat dioperasikan secepatnya.
"Kendala kapasitas prasarana yaitu daya listrik aliran atas (LAA) dan peron yang belum dapat menampung KRL SF 12 turut menjadi penyebab pengoperasiAN KRL belum optimal," ujarnya.
Meski begitu, pihaknya tetap menjaga agar headway di jam-jam sibuk bisa terjaga di sekitar 10-15 menit. Upaya lainnya yakni terus berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI, Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dan jajaran terkait agar prasarana di jalur tersebut bisa diperbarui, agar headway dan kapasitas KRL bisa bertambah.
"Belum lama ini, KAI Commuter melakukan ujicoba perjalanan KRL dengan SF12 pada lintas Rangkasbitung sebagai bentuk komitmen kami untuk menambah kapasitas rangkaian. Selain itu, dengan menjaga headways perjalanan pada jam sibuk, kami terus berkoordinasi dengan pemerintah dan KAI untuk pengembangannya," pungkasnya.
(chd/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
2

















































