Jakarta, CNBC Indonesia - Malaysia berpotensi menghadapi ancaman cuaca panas ekstrem dan kekeringan panjang mulai Januari hingga Mei 2027. Fenomena iklim "Super El Nino" yang diproyeksikan muncul pada akhir tahun ini diperkirakan bakal mendongkrak suhu udara di sejumlah wilayah hingga menyentuh angka 40°C.
Melansir Malay Mail, Direktur Jenderal Departemen Meteorologi Malaysia (MetMalaysia), Dr. Mohd Hisham Mohd Anip, mengonfirmasi bahwa peluang kemunculan fenomena tersebut kini telah mendekati 100 persen. Kepastian ini merujuk pada hasil prakiraan berbagai model iklim dari pusat pengamatan dan penelitian internasional.
Menurut Mohd Hisham, catatan historis menunjukkan bahwa episode El Nino berintensitas tinggi selalu membawa dampak signifikan berupa lonjakan suhu, kemarau, hingga ancaman kabut asap tebal.
"Pengalaman dari episode Super El Nino pada tahun 1997/1998 dan 2015/2016 menunjukkan bahwa suhu maksimum harian negara pada masa itu jauh lebih ekstrem dibandingkan periode lainnya," ujar Mohd Hisham.
Ia mengingatkan, Malaysia pernah mencatatkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah sebesar 40,1°C di Stasiun Meteorologi Chuping, Perlis, pada 9 April 1998. Selain itu, Stasiun Meteorologi Batu Embun di Jerantut, Pahang, juga pernah mencatat suhu mencapai 39,3°C pada 10 April 2016.
Untuk fenomena kali ini, MetMalaysia mengestimasi ada probabilitas sekitar 70 persen bahwa kekuatan El Nino yang akan datang bakal melampaui seluruh rekor intensitas El Nino yang pernah terdata sejak tahun 1950.
Kondisi tersebut diprediksi akan berdampak paling parah pada wilayah utara dan kawasan pedalaman Semenanjung, serta area pedalaman di Sabah dan Sarawak. Wilayah-wilayah ini berisiko mengalami lonjakan suhu di atas rata-rata serta gelombang panas, terutama setelah berakhirnya Monsun Timur Laut mulai Januari hingga Mei 2027.
"Berdasarkan proyeksi terkini, lebih banyak stasiun meteorologi di semenanjung bagian utara diperkirakan akan mencatat suhu hingga 40°C selama puncak musim panas tersebut," jelasnya.
Ia memperingatkan bahwa kenaikan suhu dan cuaca panas yang berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gelombang panas serta berdampak pada kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lansia, dan mereka yang melakukan aktivitas di luar ruangan.
"Berkurangnya curah hujan dan periode kemarau yang lebih panjang dapat membebani sumber daya air, termasuk daerah tangkapan air dan bendungan, sekaligus berdampak pada sektor pertanian dan industri lain yang rentan terhadap kekurangan air.
"Kondisi panas dan kering yang berkepanjangan juga akan membuat vegetasi lebih rentan terbakar, sehingga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan gambut serta kabut asap, baik di tingkat lokal maupun lintas batas," katanya.
(hsy/hsy)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
4
















































