Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pemerintah Iran mengancam akan meningkatkan eskalasi perang mereka, menargetkan fasilitas energi, dan bahan bakar di Teluk, yang dapat kembali mengacaukan pasar energi serta keuangan global termasuk berpotensi menciptakan krisis regional.
Pada hari Sabtu (21/3/2026), Trump mengancam akan "menghancurkan" pembangkit listrik Iran jika Teheran tidak sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 48 jam. Iran merespons keesokan harinya, bahwa mereka akan menargetkan infrastruktur AS, termasuk fasilitas energi di Teluk, jika Trump melaksanakan ancamannya.
Lebih dari 2.000 orang telah tewas selama perang yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari, yang telah mengacaukan pasar, meningkatkan biaya bahan bakar, memicu kekhawatiran inflasi global, dan mengguncang aliansi Barat.
Bom Waktu untuk Pasar
"Ancaman Presiden Trump kini telah menempatkan bom waktu 48 jam yang menimbulkan ketidakpastian tinggi di pasar. Jika ultimatum tersebut tidak dicabut, kita kemungkinan akan melihat pembukaan kembali pasar ekuitas global pada Black Monday dengan penurunan drastis dan harga minyak melonjak jauh lebih tinggi," kata analis pasar IG, Tony Sycamore dikutip dari Reuters pada Sabtu (21/3/2026).
Teheran kemungkinan akan menargetkan fasilitas energi Teluk di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
"(Hal tersebut) akan memperdalam dan memperpanjang penderitaan akibat harga energi yang lebih tinggi dan menyeret konflik ke dalam krisis regional yang lebih luas", kata Sycamore.
Harga minyak melonjak pada hari Jumat (20/3/2026) dan menetap pada level tertinggi dalam hampir empat tahun, setelah Irak menyatakan force majeure pada semua ladang minyak yang dikembangkan oleh perusahaan asing. Sementara Israel menyerang ladang gas utama di Iran dan Teheran menanggapi dengan serangan terhadap negara-negara tetangganya, Arab Saudi, Qatar, dan Kuwait.
Serangan Iran secara efektif telah menutup Selat Hormuz, sebuah jalur sempit yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global, menyebabkan krisis minyak terburuk sejak tahun 1970-an.
Hampir tertutupnya selat tersebut menyebabkan harga gas di Eropa melonjak hingga 35% pekan lalu.
"Jika Iran tidak sepenuhnya membuka tanpa ancaman, Selat Hormuz, dalam waktu 48 jam dari saat ini, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai PLTU mereka, dimulai dari yang terbesar terlebih dahulu," mengutip unggahan Trump memposting di media sosial pada Sabtu (21/3/2026).
Beberapa jam kemudian, perwakilan Iran untuk badan maritim PBB mengatakan selat tersebut tetap terbuka untuk semua pengiriman kecuali kapal yang terkait dengan "musuh Iran". Ali Mousavi, perwakilan Teheran untuk Organisasi Maritim Internasional, mengatakan bahwa perjalanan melalui jalur air yang sempit itu dimungkinkan dengan mengkoordinasikan pengaturan keamanan dan keselamatan dengan Teheran.
Data pelacakan kapal menunjukkan beberapa kapal, seperti kapal berbendera India dan kapal tanker minyak Pakistan, telah berhasil melewati selat tersebut dengan aman. Pakistan memiliki hubungan baik dengan Iran sambil mempertahankan hubungan dekat dengan AS dan Arab Saudi.
Foto: Tentara Israel bekerja di lokasi kerusakan setelah serangan rudal Iran menghantam Dimona, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Israel selatan, 21 Maret 2026. (REUTERS/Ilan Assayag)
Tentara Israel bekerja di lokasi kerusakan setelah serangan rudal Iran menghantam Dimona, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Israel selatan, 21 Maret 2026. (REUTERS/Ilan Assayag)
Gagasan Trump dalam menargetkan infrastruktur Iran adalah untuk membuat blokade Hormuz "tidak tertahankan secara ekonomi dan politik bagi Teheran, tanpa menghancurkan ladang minyak Iran yang akan menyebabkan kerusakan pasokan global jangka panjang," kata Sycamore.
Markas komando militer Khatam al-Anbiya Iran mengatakan bahwa jika AS menyerang infrastruktur bahan bakar dan energi Iran, Iran akan menargetkan semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi AS di wilayah tersebut.
Jaringan listrik Republik Islam sangat terkait erat dengan sektor energinya. Serangan terhadap pembangkit listrik utama dapat memicu pemadaman listrik, melumpuhkan segala hal mulai dari pompa dan kilang hingga terminal ekspor dan pusat komando militer.
Pembangkit listrik terbesar Iran termasuk fasilitas Damavand di dekat Teheran, pembangkit Kerman di tenggara, dan Ramin di provinsi Khuzestan, yang semuanya memiliki kapasitas pembangkitan yang jauh lebih besar daripada satu-satunya pembangkit nuklir Iran di Bushehr di pantai selatan.
Iran Perluas Risiko dengan Rudal Jarak Jauh
Teheran menembakkan rudal jarak jauh untuk pertama kalinya pada hari Sabtu, memperluas risiko serangan di luar Timur Tengah, sementara serangan Iran mendarat di dekat reaktor nuklir rahasia Israel sekitar 13 km (8 mil) tenggara Dimona.
Iran meluncurkan dua rudal balistik dengan jangkauan 4.000 km (2.500 mil) ke pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia di Samudra Hindia, kata kepala militer Israel Eyal Zamir.
"Rudal-rudal ini tidak dimaksudkan untuk menyerang Israel. Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa - Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung," kata Zamir dalam sebuah pernyataan dikutip Minggu (22/3/2026).
Militer Israel mengatakan bahwa mereka menyerang Teheran hanya beberapa jam setelah serangan Iran di Israel selatan.
Trump dan pemerintahannya telah mengirimkan pesan yang beragam tentang tujuan AS sepanjang perang, membuat sekutu kesulitan untuk merespons.
Dia menuduh sekutu NATO pengecut karena keengganan mereka untuk membantu membuka Selat Hormuz. Beberapa sekutu mengatakan mereka akan mempertimbangkannya tetapi sebagian besar mengatakan mereka enggan enggan bergabung dalam perang yang dimulai Trump tanpa berkonsultasi dengan mereka.
Jepang dapat mempertimbangkan untuk mengerahkan militernya untuk penyapuan ranjau di wilayah tersebut, jika gencatan senjata tercapai, kata Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi pada hari Minggu.
Sebuah jajak pendapat Reuters/Ipsos baru, yang dilakukan pekan lalu, menemukan bahwa 59% warga Amerika tidak setuju dengan serangan militer AS terhadap Iran, dengan 37% menyetujuinya.
Perang tersebut telah menjadi beban politik utama bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu November untuk Kongres, dengan guncangan harga energi yang memicu inflasi AS dan sangat memukul konsumen dan bisnis.
(ras/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
2
















































