Jakarta, CNBC Indonesia - Penjualan dari pabrikan ke diler atau wholesales BYD pada Mei 2026 mengalami penurunan tajam yakni 895 unit. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan capaian Mei menjadi yang terendah bagi BYD sejak merek asal China itu mulai mencatatkan penjualan di Indonesia pada pertengahan 2024. Angka tersebut juga membuat BYD keluar dari jajaran 10 merek mobil terlaris nasional.
BYD menyebut kondisi tersebut bukan dipicu melemahnya permintaan konsumen, melainkan adanya gangguan terjadi akibat proses peralihan sumber produksi kendaraan yang dipasarkan di Indonesia.
"Itu adalah dampak dari transisi production source kita. Sebelumnya kami kan masih berbasis impor," kata Head of Public & Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan dalam saat peluncuran M6 DM di Senayan, Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026).
Ketika perusahaan mulai mengubah sistem pasokan dari kendaraan impor utuh atau completely built up (CBU) menuju produksi lokal, terjadi jeda distribusi yang berdampak langsung terhadap angka penjualan bulanan.
Perubahan tersebut terjadi seiring persiapan BYD menjalankan fasilitas produksinya di Indonesia. Proses transisi membuat aliran pasokan kendaraan ke dealer tidak berjalan seperti biasanya sehingga angka wholesales mengalami penurunan signifikan.
Mobil listrik melewati ruas jalan Jakarta saat jam sibuk, Selasa (5/5/2026). Mobil listrik dinilai bakal menjadi kendaraan yang tepat untuk dikendarai di dalam kota seperti Jakarta yang selalu memiliki mobilitas padat setiap harinya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo) Foto: Mobil listrik melewati ruas jalan Jakarta saat jam sibuk, Selasa (5/5/2026). Mobil listrik dinilai bakal menjadi kendaraan yang tepat untuk dikendarai di dalam kota seperti Jakarta yang selalu memiliki mobilitas padat setiap harinya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
"Nah tapi kita membenahi sistem supply dengan transisi dari barang CBU ke produksi lokal, sehingga ada sedikit shock di sisi angka," ujarnya.
Fenomena itu juga terlihat pada sejumlah model BYD yang mengalami penurunan distribusi cukup tajam. Salah satu yang paling mencolok adalah Atto 1 yang hanya mencatatkan pengiriman 26 unit pada Mei lalu, anjlok dibanding Februari lalu yang mencatat 3.700 unit.
Luther mengakui penurunan distribusi beberapa model memang berkaitan langsung dengan proses peralihan sumber produksi tersebut. Kondisi itu merupakan dampak yang tidak terhindarkan saat perusahaan memasuki fase baru manufaktur lokal.
"Iya memang itu, itulah dampak dari transisi itu. Mungkin dari situ bisa dibaca kenapa bisa ada shock yang pengurangan yang cukup signifikan tersebut," katanya.
Meski demikian, BYD memastikan kondisi tersebut hanya bersifat sementara. Perusahaan mengklaim pasokan kendaraan ke dealer mulai kembali berjalan normal seiring kesiapan fasilitas produksi dan rantai distribusi yang terus ditingkatkan.
"Tapi itu dia akan kembali normal kembali di bulan ini," kata Luther.
(fys/wur)
Addsource on Google

5 hours ago
1

















































