Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
21 March 2026 16:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Biaya pinjaman pemerintah Inggris melonjak ke level tertinggi sejak krisis keuangan 2008 atau dalam 18 tahun terakhir pada hari Jumat (20/3/2026).
Imbal hasil obligasi acuan bertenor 10 tahun menembus angka 5% seiring langkah investor yang secara cepat memperhitungkan risiko kenaikan inflasi dan meningkatnya probabilitas kenaikan suku bunga pada akhir tahun ini.
Obligasi pemerintah Inggris (dikenal sebagai gilts) telah mengalami penetapan harga ulang yang tajam di tengah eskalasi perang di Iran. Imbal hasil pada obligasi acuan 10-tahun telah naik sekitar 68 basis poin dalam 15 hari perdagangan sejak konflik dimulai, sementara imbal hasil pada obligasi 2-tahun bertambah sekitar 97 bps.
Harga obligasi dan imbal hasil bergerak ke arah yang berlawanan. Pada hari Jumat, imbal hasil pada obligasi pemerintah Inggris bertenor 10 tahun melonjak sekitar 15 bps menjadi 5,00%, yang merupakan level tertingginya sejak krisis keuangan 2008.
Sementara itu, imbal hasil pada obligasi 2-tahun melompat 19 basis poin menjadi sekitar 4,602%, menandai level tertinggi dalam lebih dari satu tahun terakhir.
Tekanan pada Pasar Obligasi
Pasar obligasi Inggris sangat rentan terhadap kekhawatiran kembali melonjaknya inflasi seiring berlarutnya perang AS-Iran, sebagian karena ketergantungan negara tersebut pada impor energi. Perang tersebut, dan blokade lanjutan di Selat Hormuz - rute pengiriman minyak yang vital - telah memicu lonjakan harga minyak dan gas.
Bahkan sebelum perang pecah, Inggris memiliki biaya pinjaman pemerintah tertinggi di antara negara G7, di mana obligasi jangka panjang 20 dan 30 tahun diperdagangkan jauh di atas ambang batas 5%. Imbal hasil pada obligasi tersebut masing-masing naik sekitar 9 dan 7 basis poin pada hari Jumat.
Foto: Yield Obligasi 2, 10, dan 30 tahun Negara G7
Nigel Green, CEO dari perusahaan penasihat keuangan deVere Group, mengatakan kepada CNBC bahwa pasar dengan cepat menarik kembali ekspektasi pemotongan suku bunga dari Bank of England (BOE).
Pada hari Kamis, Komite Kebijakan Moneter bank sentral menyatakan telah memberikan suara "bulat" untuk mempertahankan suku bunga acuannya, dan menyebutkan inflasi akan lebih tinggi dalam jangka pendek "sebagai akibat dari guncangan baru terhadap perekonomian."
Sebelum perang dimulai, BOE diperkirakan akan memangkas suku bunga utamanya. Saat ini, pasar memperkirakan peluang yang mendekati 0% untuk pemangkasan suku bunga dari bank sentral tahun ini, dengan mayoritas pedagang memproyeksikan kenaikan suku bunga bulan depan, berdasarkan data LSEG.
Pasar juga secara dominan memperkirakan suku bunga utama setidaknya 4,25% pada akhir tahun, yang mengindikasikan minimal dua kali kenaikan suku bunga.
"Pemicunya adalah energi, karena guncangan harga minyak dan gas berdampak langsung pada ekspektasi inflasi, dan obligasi bereaksi tepat seperti yang Anda perkirakan dalam skenario ini," kata Green dari deVere kepada CNBC. "Ini bukanlah aksi jual yang tidak beraturan, melainkan penetapan ulang harga risiko yang dapat dimengerti."
Faktor Politik dan Kebijakan Fiskal
Terdapat "lapisan politik" pada pergerakan yang terjadi di pasar obligasi, menurut Green.
"Menteri Keuangan Rachel Reeves telah membangun kerangka fiskalnya pada stabilitas dan kredibilitas, namun imbal hasil yang lebih tinggi dengan cepat berubah menjadi biaya pinjaman yang lebih tinggi," paparnya.
"Hal ini, tentu saja, mempersempit ruang geraknya tepat ketika tekanan untuk memberikan dukungan tambahan pada energi dan rumah tangga sedang meningkat."
Pasar obligasi secara umum mendukung komitmen Reeves terhadap apa yang disebut "aturan fiskal" selama menjabat sebagai menteri keuangan, di mana spekulasi bahwa ia mungkin diberhentikan tahun lalu sempat memicu aksi jual obligasi.
Menambah tekanan jual pada hari Jumat, angka resmi menunjukkan pemerintah Inggris meminjam sebesar 14,3 miliar poundsterling, jumlah yang lebih tinggi dari perkiraan pada bulan Februari.
Reeves telah berkomitmen untuk membawa pengeluaran harian pemerintah ke tingkat yang dapat didanai oleh penerimaan pajak daripada pinjaman, dengan aturannya yang juga menetapkan bahwa utang publik harus turun sebagai bagian dari proyeksi ekonomi pada 2029-2030.
"Dari perspektif investasi, imbal hasil yang lebih tinggi mulai memulihkan nilai di beberapa bagian kurva," tambah Green. "Namun volatilitas akan tetap tinggi selama pasar energi mendikte prospek inflasi."
George Godber, Manajer Reksa Dana di Polar Capital U.K. Value Opportunities Fund, mengatakan kepada program "Squawk Box Europe" CNBC pada hari Kamis bahwa timnya menghindari reaksi spontan terhadap arus berita seputar konflik tersebut.
"Durasi dampak ini sangat tidak diketahui. Di masa-masa ini, sejarah akan memberi tahu Anda bahwa hal terbaik yang harus dilakukan adalah tetap tenang," katanya. "Apa yang telah kami lakukan sangatlah minim."
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Addsource on Google

3 hours ago
2

















































