Jakarta, CNBC Indonesia - Pernyataan kontroversial tentang imigrasi yang dilontarkan miliarder sekaligus pemilik saham Manchester United, Sir Jim Ratcliffe, memicu gelombang kecaman luas di Inggris. Perdana Menteri Keir Starmer secara terbuka menyebut komentar tersebut sebagai sesuatu yang "ofensif dan keliru", serta meminta Ratcliffe untuk menyampaikan permintaan maaf.
Ratcliffe, pendiri perusahaan kimia raksasa Ineos dan pemilik 27,7% saham Manchester United, sebelumnya mengatakan kepada Sky News bahwa Inggris telah "dikolonisasi oleh para imigran". Dalam wawancara itu, ia juga menilai Starmer "terlalu baik" untuk melakukan langkah-langkah "sulit" yang menurutnya diperlukan demi menstabilkan perekonomian negara.
Menanggapi pernyataan itu pada Rabu (11/2/2026) malam waktu setempat, Starmer, sebagaimana dilansir BBC, menegaskan bahwa Inggris adalah "negara yang bangga, toleran, dan beragam", serta secara langsung meminta Ratcliffe untuk meminta maaf atas ucapannya. Kantor Perdana Menteri melalui juru bicara resmi juga mendesak hal yang sama, seraya menyatakan bahwa komentar Ratcliffe "bermain di tangan mereka yang ingin memecah belah negara kita".
Dalam wawancaranya, Ratcliffe mengatakan pesimismenya atas kondisi ekonomi akibat banyaknya imigran di Inggris. "Anda tidak bisa memiliki perekonomian yang berjalan dengan baik jika ada 9 juta orang yang menerima tunjangan dan sejumlah besar imigran yang masuk," ujarnya.
"Maksudku, Inggris Raya telah dijajah. Biayanya terlalu mahal," tambahnya.
Ratcliffe kembali mengulang pandangannya dengan berkata Inggris telah dikolonisasi oleh imigran. "Inggris Raya telah dijajah oleh imigran, sungguh, bukan? Maksud saya, populasi Inggris Raya adalah 58 juta pada tahun 2020, sekarang menjadi 70 juta. Itu berarti 12 juta orang bertambah."
Adapun data dari Office for National Statistics (ONS) menunjukkan bahwa populasi Inggris pada pertengahan 2025 diperkirakan mencapai 69,4 juta jiwa, naik dari 66,7 juta pada pertengahan 2020.
Gelombang reaksi juga datang dari berbagai kelompok suporter Manchester United. Manchester United Supporters Trust (MUST) menulis di platform X: "Tidak ada penggemar yang seharusnya merasa dikucilkan dari mengikuti atau mendukung klub karena ras, agama, kebangsaan, atau latar belakang mereka. Komentar dari pimpinan senior klub seharusnya mempermudah inklusi, bukan mempersulitnya."
"Ini bukan soal politik; ini tentang memastikan bahwa para pengelola Manchester United bertindak dengan cara yang menyatukan para pendukung, bukan meminggirkan bagian mana pun dari basis penggemar kami." tambah MUST.
Kelompok Manchester United Muslim Supporters Club juga menyatakan "sangat prihatin" dengan komentar tersebut. Mereka menilai istilah "kolonisasi" tidaklah netral. "Hal ini menggemakan bahasa yang sering digunakan dalam narasi sayap kanan yang menggambarkan migran sebagai penjajah dan ancaman demografis," tulis mereka.
Organisasi antirasisme Show Racism the Red Card menilai pengaruh budaya klub sepak bola "seharusnya digunakan untuk menantang rasisme, bukan justru tanpa sengaja memperkuat narasi yang merusak keharmonisan komunitas". Sementara itu, Kick It Out menyebut komentar Ratcliffe sebagai "memalukan dan sangat memecah belah".
Kelompok suporter lain, The 1958 Group, menyebut pernyataan tersebut sebagai "sangat tidak bijaksana", serta mengkritik Ratcliffe karena "mengomentari persoalan negara kita sementara ia tinggal di Monako untuk menghindari pajak".
Sementara itu, pemimpin Partai Demokrat Liberal, Sir Ed Davey, menyebut komentar Ratcliffe sebagai "sangat keliru" dan "sangat keluar dari jalur nilai-nilai Inggris", serta ikut meminta agar Ratcliffe meminta maaf.
Anggota parlemen dari Partai Buruh untuk daerah pemilihan Walthamstow, Stella Creasy, juga mengkritik keras. Ia menulis di X bahwa Ratcliffe "tidak tampak memahami kontribusi para imigran" bagi "timnya sendiri, apalagi bagi negara ini".
Ratcliffe sendiri berusia 73 tahun dan menilai para politisi perlu "siap menjadi tidak populer untuk sementara waktu demi menyelesaikan persoalan besar".
Sejak mengakuisisi 27,7% saham Manchester United pada 2024, ia telah melakukan restrukturisasi besar-besaran di klub, termasuk melakukan 450 pemutusan hubungan kerja, merombak manajemen senior, serta memecat dua manajer.
Ia mengakui bahwa langkah-langkah tersebut tidak populer, tetapi menurutnya perlu dilakukan "untuk menyelesaikan masalah-masalah besar".
"Jika Anda melakukan hal-hal sulit, yang menurut kami harus kami lakukan di Manchester United... kami merasa itu adalah hal yang benar untuk dilakukan. Tetapi Anda memang akan menjadi sangat tidak populer untuk sementara waktu," ujar Ratcliffe.
Ia kemudian menarik paralel dengan situasi negara. "Namun, Anda tetap memiliki masalah yang sama dengan negara ini. Jika Anda benar-benar ingin menangani masalah utama imigrasi, seperti orang-orang yang memilih menerima tunjangan daripada bekerja untuk mencari nafkah, jika Anda ingin menangani hal itu, maka Anda harus melakukan beberapa hal yang tidak populer, dan menunjukkan keberanian," katanya.
Tentang Starmer, Ratcliffe mengatakan ia menghadapi tantangan besar dan harus melakukan sejumlah pekerjaan sulit untuk mengembalikan Inggris ke jalur yang benar.
Menurut daftar Rich List versi Sunday Times, Ratcliffe yang merupakan pendukung kampanye Leave dalam referendum Brexit, menempati posisi ketujuh orang terkaya di Inggris pada 2025, dengan kekayaan bersih sekitar 17 miliar poundsterling.
Ia dilaporkan pindah dari Inggris ke Monako pada 2020, wilayah yang tidak memungut pajak penghasilan pribadi maupun pajak keuntungan modal.
Perusahaan miliknya, Ineos, memproduksi bahan baku yang digunakan untuk berbagai produk, mulai dari kemasan kosmetik, obat-obatan, dan makanan, hingga ponsel dan furnitur.
Dalam beberapa tahun terakhir, kepentingan bisnis Ratcliffe juga bergeser dari sektor kimia, termasuk rencana yang dibatalkan untuk membangun kendaraan baru berbasis Land Rover Defender, serta akuisisi merek pakaian sepeda motor mewah Belstaff.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
3

















































