Jakarta, CNBC Indonesia - PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengebut pengembangan hilirisasi bauksit dengan memulai proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase 2 di Mempawah, Kalimantan Barat. SGAR fase 2 sendiri dikelola oleh perusahaan patungan Inalum dan Antam yakni PT Borneo Alumina Indonesia (BAI).
Pabrik yang memiliki nilai investasi mencapai Rp 14,8 triliun tersebut ditargetkan dapat beroperasi pada akhir tahun 2028, tidak lain untuk memperkuat rantai pasok industri aluminium nasional.
Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita menjelaskan bahwa proyek tersebut merupakan upaya dalam mendukung visi Astacita pemerintah dalam mewujudkan kemandirian industri. Jadwal penyelesaian proyek ini akan diselaraskan dengan pembangunan pabrik peleburan atau smelter aluminium baru yang ditargetkan rampung tidak lama setelahnya.
"Kalau SGAR fase 2-nya sendiri targetnya end of 2028, di akhir 2028," ujar Melati kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (9/2/2026).
Proyek itu sendiri sudah masuk dalam tahap groundbreaking dan siap untuk dibangun. SGAR fase 2 tersebut juga dirancang untuk menambah kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta ton, melengkapi fasilitas fase pertama yang sudah ada. Nantinya, total kapasitas SGAR terakumulasi mencapai 2 juta ton produksi alumina.
Tambahan pasokan alumina tersebut dinilai penting untuk memenuhi kebutuhan smelter aluminium kedua Inalum yang memiliki kapasitas produksi 600.000 ton per tahun, sehingga total kapasitas produksi aluminium Inalum nantinya akan meningkat menjadi 900.000 ton per tahun.
"Jadi dengan existing SGAR 1 satu juta saat ini, kami masih memerlukan sekitar 800.000 tambahan lagi. Jadi nantinya dengan SGAR 2 ini, kita akan menambah kapasitas dari existingfasilitas SGAR 1, nambah satu juta lagi," jelas Melati.
Jika SGAR fase 2 beroperasi penuh, Indonesia diproyeksikan akan mengakhiri ketergantungan Indonesia terhadap impor alumina maupun aluminium primer. Dengan total produksi yang mencapai 900.000 ton, angka tersebut sudah melampaui kebutuhan aluminium primer domestik saat ini yang tercatat sebesar 520.000 ton per tahun, bahkan membuka peluang untuk ekspor.
"Dengan adanya aluminium kita yang kedua nanti, begitu beroperasi di 2029, nanti kita bisa memenuhi kebutuhan primary aluminium di Indonesia. Karena kebutuhannya hanya 520 (ribu), nantinya menjadi 900 (ribu). Setelah 900.000 itu nantinya automatically secara aluminium primary kita tidak perlu impor lagi," paparnya.
Selain dampak pada ketahanan industri, proyek jumbo itu juga menjanjikan kontribusi ekonomi yang besar bagi negara dan masyarakat sekitar melalui efek berganda (multiplier effect). Inalum memperkirakan proyek tersebut tidak hanya menyerap tenaga kerja langsung, tetapi juga mendongkrak penerimaan negara dari sisi pajak dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB).
"Yang pasti itu ada kesempatan kerja yang bisa diciptakan lebih dari 65.000. Kemudian pasti ada kenaikan PDB ya. Kemudian juga ada pendapatan tax sendiri untuk pemerintah sekitar 6,6 triliun per tahun," pungkasnya.
Asal tahu saja, Proses groundbreaking SGAR Mempawah Fase 2 ini dilakukan secara bersamaan dengan lima proyek hilirisasi lainnya secara daring. Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin melaporkan langsung dari lokasi SGAR di Mempawah, Kalimantan Barat, kepada CEO Danantara Rosan Roeslani yang meresmikan groundbreaking ini dari Kantor Pusat Danantara di Jakarta.
"Hari ini kita kumpul bukan hanya groundbreaking tapi momentum besar pembangunan nasional. Indonesia memilih sebagai bangsa berdaulat, bukan hanya pengekspor bahan mentah tapi produsen bernilai tambah melalui program hilirisasi," ungkap Maroef ketika memberikan sambutan dan laporan langsung dari lokasi SGAR Mempawah, kepada Danantara di Jakarta yang dilakukan secara daring, Jumat (6/2/2026).
Dia menjelaskan, proyek SGAR Mempawah Fase 2 ini dibangun dengan kolaborasi antar-BUMN dan anak usaha MIND ID, yakni antara PT Inalum bersama dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), dan PT Bukit Asam Tbk (PTBA).
Dia menjelaskan, proyek SGAR Mempawah Fase 2 ini akan menghasilkan 1 juta ton alumina per tahunnya. Digabung dengan SGAR Fase 1 yang telah beroperasi, maka kapasitas produksi alumina ditargetkan naik menjadi 2 juta ton per tahun.
Adapun bijih bauksit yang akan diserap mencapai sekitar 6 juta ton per tahun dari PT Aneka Tambang, khususnya dari wilayah tambang bauksit di Mempawah dan Landak. Sementara pasokan listrik untuk SGAR Mempawah Fase 2 ini akan dipasok oleh PT Bukit Asam.
"Pembangunan dan operasi fasilitas dan peleburan alumina merupakan program strategis nilai investasi Rp 104,55 triliun atau setara dengan US$ 6,23 miliar," ungkapnya.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
2

















































