Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan lembaga pemeringkat kredit Moody's merevisi outlook peringkat utang RI dari stabil menjadi negatif membuat pemerintah akan berbenah, khususnya memastikan pengelolaan anggaran dengan baik untuk menjaga kepercayaan investor.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, salah satu pengelolaan anggaran yang akan diperkuat efektivitasnya ialah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebab, program itu kata Purbaya menjadi salah satu yang disorot Moody's dalam menentukan outlook utang terbaru Indonesia.
"Program MBG kita pastikan berjalan tepat sasaran, efektif dan efisien. Itu yang akan saya lihat nanti. Jangan sampai ada pemborosan yang tidak terkontrol di sana. Itu mungkin Moody juga khawatir di situ. Saya sekarang boleh melihat anggaran Kementerian Lembaga yang lain, kata DPR," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Namun, Purbaya menegaskan, perbaikan pemanfaatan anggaran tidak hanya akan dilakukan untuk program MBG, melainkan terhadap seluruh anggaran supaya tak terjadi pemborosan. Termasuk anggaran yang tersalurkan ke daerah melalui pagu transfer ke daerah atau TKD.
"Saya akan lihat satu-satu. Nanti saya lihat yang MBG seperti apa, kita koreksinya. Yang lain seperti apa, dan yang penting belanja pemerintah akan kita dorong tepat sasaran, tepat waktu, dan sedikit dari kebocoran. Sedikit mengalami kebocoran, termasuk pemerintahan daerah," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Purbaya mengakui, saat memberikan outlook terbaru terhadap utang atau kredit RI, Moody's turut mengungkapkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit APBN Indonesia saat ini.
Namun, ia juga mengklaim bahwa Moody's meyakini dirinya bisa menjaga defisit APBN sesuai batas aman Undang-Undang Keuangan Negara di level bawah 3%.
"Mereka takut defisit melebar, tapi mereka tahu saya bisa kendalikan dengan baik," tutur Purbaya.
Apalagi, pemerintah kata Purbaya mampu mendorong level pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 ke level 5,11% dari sebelumnya pada 2024 sebesar 5,03% dengan ekspansi fiskal yang terkendali, yakni defisit sebesar 2,92% terhadap PDB.
"Karena dari sisi fiscal kita bergerak ke arah yang benar. Pertumbuhan lebih bagus, defisit masih terkendali . Kita berhasil membalikkan arah ekonomi dengan biaya yang relatif minimum," tegas Purbaya.
Sebagaimana diketahui, dalam penilaian terbaru Moody's memang disebutkan bahwa adanya fokus yang lebih besar pada penggunaan belanja publik untuk mendorong pertumbuhan karena berpotensi menimbulkan risiko fiskal, terutama mengingat basis pendapatan Indonesia yang lemah.
Meskipun upaya terus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi pajak dan bea cukai, rekam jejak Indonesia dalam memperluas basis pendapatan meningkatkan risiko defisit fiskal yang lebih besar, dan menunjukkan kelemahan yang muncul dalam perencanaan dan komunikasi kebijakan, dengan implikasi terhadap kredibilitas kebijakan.
"Tekanan ini diperburuk oleh penekanan pemerintah pada perluasan program sosial, termasuk inisiatif Makanan Bergizi Gratis dan Perumahan Terjangkau," kata Moody's Ratings dalam penyesuaian outlook ratingnya.
Moody's menganggap, hingga saat ini, program-program seperti MBG dan Perumahan Rakyat telah didanai oleh pemotongan pengeluaran dan pengalokasian kembali prioritas di berbagai kementerian, termasuk anggaran pemeliharaan infrastruktur.
"Perluasan lebih lanjut dapat membebani kemampuan pemerintah untuk mengarahkan kembali anggaran yang relatif kecil dibandingkan dengan ukuran perekonomian," kata Moody's.
(arj/mij)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































