RI Menanti Fit dan Proper Test Bos BI, Kabar Genting Datang dari Amerika

6 hours ago 1
  • IHSG, rupiah hingga pasar obligasi kompak melemah pada perdagangan Senin sebelum libur Maulid Nabi.
  • Wall Street berakhir di zona hijau menyusul melandainya imbal hasil US Treasury
  • Uji kelayakan calon Gubernur BI, perkembangan bursa mineral OJK, serta rilis inflasi dan pertumbuhan ekonomi AS akan menjadi penggerak pasar hari ini. 

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia kompak melemah pada perdagangan Senin (24/8/2026), sebelum libur nasional Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah berakhir di zona merah. Tekanan juga terjadi di pasar obligasi pemerintah yang ditandai dengan kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN).

Bursa saham dan rupiah diharapkan kompak menguat pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini, Rabu (25/8/2026) dapat dibaca pada halaman tiga artikel ini.

IHSG ditutup melemah 0,37% atau 24,02 poin ke level 6.501,67 pada perdagangan Senin. Indeks berbalik arah setelah pada akhir pekan lalu kembali menembus level psikologis 6.500.

IHSG sebelumnya membuka perdagangan di level 6.544. Sepanjang perdagangan, indeks sempat mencapai posisi tertinggi 6.551 dan menyentuh titik terendah 6.474.

Pelemahan indeks diikuti penurunan 367 saham. Sementara itu, 259 saham menguat dan 166 saham lainnya tidak bergerak.

Nilai transaksi mencapai Rp14,29 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 35,88 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat mencapai 2,19 juta kali.

Investor asing pun kembali mencatatkan aksi jual dengan total net foreign outflow sebesar Rp350,71 miliar. 

Merujuk data Refinitiv, mayoritas sektor ditutup melemah. Sektor kesehatan, utilitas, dan energi mencatat koreksi paling dalam.

Hanya tiga sektor yang berakhir di zona hijau, yakni barang baku, teknologi, dan barang konsumsi primer.

Secara spesifik, saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi pemberat pergerakan indeks.

Beralih ke pasar valuta asing, rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir sebelum libur Maulid Nabi.

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,11% ke posisi Rp17.705/US$ pada Senin (24/8/2026). Pelemahan tersebut sekaligus mengakhiri penguatan rupiah dalam tiga hari perdagangan beruntun.

Rupiah sempat dibuka menguat 0,03% ke level Rp17.680/US$. Namun, mata uang Garuda kemudian berbalik arah dan melemah 25 poin dari posisi pembukaan hingga penutupan.

Pelemahan rupiah terjadi seiring dolar AS yang kembali menguat. Aktivitas jasa AS yang mencatat pertumbuhan terkuat dalam hampir dua tahun menjadi salah satu faktor yang menahan aksi jual terhadap dolar.

Dolar juga mendapat dukungan dari imbal hasil obligasi pemerintah AS yang masih tinggi. Yield obligasi jangka panjang bertahan di sekitar level tertinggi dalam beberapa dekade karena kekhawatiran terhadap utang pemerintah, inflasi, dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan.

Namun, penguatan dolar masih terbatas karena pasar mencermati rencana Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah jangka panjang. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa upaya menekan yield justru dapat membebani dolar.

Sementara itu, tekanan juga terjadi di pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik 8,1 basis poin dari 6,960% menjadi 7,041% pada perdagangan Senin.

Kenaikan imbal hasil menunjukkan harga obligasi pemerintah bergerak turun karena hubungan keduanya berbanding terbalik. Posisi tersebut sekaligus membawa imbal hasil SBN tenor 10 tahun kembali menembus level 7%.

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |