Riyal Tak Melemah 40 Tahun, Apa Rahasia Arab Saudi Jinakkan Dolar?

4 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

02 June 2026 19:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Riyal Arab Saudi menjadi salah satu mata uang paling stabil di dunia terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Saat banyak mata uang global bergerak naik turun melawan greenback, riyal justru nyaris tidak berubah selama hampir empat dekade terakhir.

Melansir data Refinitiv, sejak 1987 hingga 2026 atau hampir 40 tahun, nilai tukar riyal Arab Saudi bergerak sangat stabil di sekitar level 3,75 riyal per dolar AS. Dalam periode tersebut, riyal hanya bergerak di rentang 3,68-3,79 per dolar AS.

Bahkan jika melihat posisi penutupan tahunannya, pergerakan riyal jauh lebih sempit. Sepanjang 1987-2026, kurs penutupan riyal hanya berada di kisaran 3,74 - 3,75 per dolar AS.

Artinya, dalam hampir 40 tahun, riyal praktis tidak mengalami gejolak besar terhadap dolar AS.

Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan banyak mata uang negara lain, termasuk negara berkembang, yang kerap melemah atau menguat tajam mengikuti sentimen global, arus modal asing, inflasi, suku bunga, hingga kondisi neraca perdagangan.

Stabilitas riyal bukan terjadi tanpa sebab. Peran bank sentral Arab Saudi, yakni Saudi Arabian Monetary Agency (SAMA) menjadi pembeda.

Mengutip Bank for International Settlements (BIS), Arab Saudi menerapkan sistem nilai tukar tetap atau fixed exchange rate terhadap dolar AS.

Dengan sistem ini, riyal tidak dibiarkan bergerak bebas mengikuti pasar. Nilainya dijaga secara aktif oleh otoritas moneter Arab Saudi.

Sejarah SAMA Mengamankan Riyal Terhadap Dolar AS

Kebijakan patokan riyal terhadap dolar AS mulai menjadi jangkar dalam stabilitas mata uang Arab Saudi sejak pertengahan 1980-an.

Sejak Juni 1986, riyal dipatok di sekitar 3,75 per dolar AS. Karena itu, mulai 1987, data pergerakan riyal terlihat sangat stabil dari tahun ke tahun.

Mekanismenya cukup mudah. Arab Saudi memperoleh pendapatan valuta asing terutama dari ekspor minyak. Hasil ekspor minyak tersebut masuk dalam bentuk dolar AS dan ditempatkan melalui sistem keuangan yang dikelola SAMA.

Setelah itu, SAMA akan mengkreditkan rekening pemerintah dalam bentuk riyal. Dengan posisi tersebut, SAMA memiliki peran besar dalam memenuhi kebutuhan valuta asing, baik untuk sektor publik maupun swasta.

Ketika bank domestik membutuhkan dolar untuk transaksi perdagangan, pembayaran impor, atau kebutuhan keuangan lain, SAMA dapat menjual dolar kepada bank-bank tersebut dengan menerima riyal.Inilah yang membuat pasokan dolar di dalam negeri dapat dijaga. Ketika kebutuhan dolar meningkat, SAMA memiliki kemampuan untuk masuk dan menjaga agar nilai tukar tetap berada di sekitar level patokan.

Melansir catatan BIS, SAMA terakhir kali melakukan intervensi langsung di pasar valuta asing pada 1998. Intervensi itu dilakukan di pasar forward, karena spekulasi terhadap riyal biasanya muncul di pasar forward.

Spekulasi terhadap riyal pernah terjadi pada 1990-an awal, terutama ketika harga minyak sedang lemah dan cadangan devisa Arab Saudi menurun. Namun, tekanan tersebut tidak membuat Arab Saudi meninggalkan sistem kurs tetapnya.

Pada 2007-2008, kondisinya justru berbalik. Saat itu muncul spekulasi bahwa riyal akan direvaluasi atau dibuat lebih kuat. Pemicunya adalah kondisi neraca pembayaran dan fiskal Arab Saudi yang kuat, dolar AS yang melemah, serta inflasi domestik yang meningkat. Namun, SAMA tetap mempertahankan kurs tetap.

Pada periode itu, SAMA menangani spekulasi dengan menegaskan kembali komitmennya menjaga patokan riyal, tanpa perlu melakukan intervensi aktual di pasar valas.

Mengapa SAMA Mematok Riyal ke Dolar AS?

Alasan utamanya adalah struktur ekonomi Arab Saudi yang sangat bergantung pada minyak. Sebagian besar transaksi minyak dunia menggunakan dolar AS, sehingga perubahan nilai tukar riyal tidak banyak memengaruhi daya saing ekspor minyak Saudi.

Berbeda dengan negara eksportir manufaktur, pelemahan mata uang tidak otomatis membuat ekspor minyak Arab Saudi lebih kompetitif. Harga minyak tetap ditentukan di pasar global dalam dolar AS. Karena itu, menjaga kurs tetap terhadap dolar menjadi pilihan yang lebih rasional.

Kurs tetap juga memberi kepastian bagi anggaran negara. Penerimaan minyak masuk dalam dolar AS, sementara belanja pemerintah dilakukan dalam riyal. Dengan nilai tukar yang stabil, pemerintah lebih mudah menghitung penerimaan, belanja, dan kebutuhan fiskal.

Selain itu, stabilitas kurs membantu menjaga harga barang impor. Ini penting karena Arab Saudi masih banyak mengandalkan impor untuk barang konsumsi dan kebutuhan modal.

Namun, sistem ini punya konsekuensi. Karena riyal dipatok ke dolar AS, arah suku bunga Arab Saudi banyak mengikuti kebijakan The Federal Reserve. Jika The Fed menaikkan suku bunga, SAMA biasanya perlu ikut menyesuaikan agar tekanan terhadap riyal tidak membesar.

Kekuatan sistem ini juga ditopang cadangan devisa besar. BIS mencatat, penerbitan mata uang Arab Saudi didukung oleh prinsip 100% currency backing by foreign exchange reserves, sehingga uang yang beredar tidak boleh melebihi aset valuta asing yang dimiliki.

Namun, kebijakan mengunci riyal terhadap dolar AS juga memiliki konsekuensi, yakni arah suku bunga SAMA harus terus bergerak sejalan dengan suku bunga The Fed agar tekanan terhadap nilai tukar riyal tidak membesar.

Tata Kelola yang Menjaga Kredibilitas

Dalam sistem kurs tetap, kredibilitas adalah segalanya. Pasar harus percaya bahwa bank sentral punya kemampuan dan kemauan untuk mempertahankan nilai tukar.

Arab Saudi menjaga kredibilitas itu melalui tata kelola yang konsisten. Rezim nilai tukar dipilih oleh SAMA melalui konsultasi dengan pemerintah. Namun, keputusan intervensi di pasar valas berada pada diskresi SAMA, selama masih sesuai dengan rezim nilai tukar yang berlaku.

Intervensi juga tidak dilakukan sembarangan. Mengutip BIS, intervensi SAMA bersifat sesekali dan bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar serta stabilitas sistem keuangan.

Intervensi tidak digunakan untuk mengumpulkan cadangan devisa secara strategis atau untuk mengubah keputusan portofolio pelaku pasar. Dengan kata lain, intervensi dilakukan untuk menjaga stabilitas, bukan untuk mengirim sinyal perubahan arah kebijakan.

Ini penting karena pasar valuta asing sangat sensitif terhadap sinyal. Jika bank sentral memberi pesan yang berubah-ubah, spekulasi bisa meningkat.

Dalam kasus Arab Saudi, pesan kebijakannya relatif jelas. Riyal dijaga di sekitar 3,75 per dolar AS, dan SAMA berulang kali menunjukkan komitmen untuk mempertahankan sistem tersebut.

Karena komitmen itu berlangsung lama, pasar menjadi percaya. Kepercayaan inilah yang membuat tekanan spekulatif terhadap riyal lebih mudah diredam.

Devisa Saudi Juga Ditopang Haji dan Umrah

Selain minyak, Arab Saudi juga memiliki sumber pemasukan besar lain dari sektor haji dan umrah. Sektor ini menjadi salah satu penopang penting ekonomi nonmigas Saudi, sekaligus memberi efek berganda ke banyak sektor.

Dampaknya tidak hanya datang dari visa atau layanan ibadah, tetapi juga dari hotel, transportasi, makanan dan minuman, ritel, tenaga kerja, hingga pariwisata. Semakin besar jumlah jemaah yang datang, semakin besar pula perputaran uang di dalam negeri.

Pada 2023, data dari pusat statistik Arab Saudi (GASTAT) mencatat jumlah jemaah haji mencapai sekitar 1,84 juta orang, terdiri dari 1,66 juta jemaah luar negeri dan 184.130 jemaah domestik. Sementara pada 2019, Arab Saudi disebut memperoleh sekitar US$12 miliar dari kedatangan 2,5 juta jemaah haji ke Makkah dan Madinah.

Peran haji dan umrah penting karena Arab Saudi terus mendorong diversifikasi ekonomi. Dalam anggaran 2026, sektor pariwisata Saudi ditargetkan mencatat total belanja pariwisata sebesar SAR 351 miliar. Khusus sektor haji dan umrah, Saudi menargetkan kedatangan lebih dari 20 juta jemaah umrah dari luar negeri pada 2026.

Di bawah agenda Vision 2030, Arab Saudi juga ingin menjadikan pariwisata sebagai kontributor terbesar kedua bagi ekonomi setelah minyak. Pemerintah menargetkan kontribusi sektor pariwisata dapat naik hingga sekitar 10% terhadap PDB pada 2030.

Artinya, stabilitas ekonomi dan devisa Arab Saudi tidak hanya bertumpu pada minyak. Haji dan umrah juga menjadi sumber pemasukan penting yang memperkuat ekonomi nonmigas, menciptakan lapangan kerja, dan menjaga aliran devisa masuk ke negara tersebut.

Pelajaran untuk Indonesia dan Danantara

Strategi Arab Saudi dalam menjaga stabilitas riyal menarik dengan upaya Indonesia membenahi tata kelola ekspor melalui pembentukan PT Danantara Sumber Daya Indonesia sebagai kanal ekspor satu pintu.

Konteks kedua negara memang berbeda. Riyal Saudi dipatok terhadap dolar AS, sementara rupiah bergerak lebih fleksibel mengikuti pasar.

Namun, ada satu pelajaran penting yang bisa diambil, yakni stabilitas mata uang tidak hanya ditentukan oleh besarnya ekspor, tetapi juga oleh seberapa baik devisa hasil ekspor masuk dan dikelola di dalam negeri.

Arab Saudi bisa menjaga riyal karena devisa dari ekspor minyak masuk ke sistem resmi dan menjadi sumber utama pasokan dolar. Dengan begitu, bank sentral Saudi memiliki amunisi untuk memenuhi kebutuhan valuta asing di dalam negeri dan menjaga kepercayaan pasar.

Indonesia juga merupakan eksportir besar komoditas, mulai dari batu bara, sawit, nikel, tembaga, hingga berbagai produk sumber daya alam lainnya. Namun, besarnya nilai ekspor tidak selalu langsung terasa pada penguatan rupiah.

Salah satu penyebabnya adalah praktik underinvoicing dan transfer pricing.

Dalam underinvoicing, nilai ekspor yang dilaporkan bisa lebih rendah dari nilai sebenarnya. Sementara melalui transfer pricing, keuntungan dari transaksi antarperusahaan dalam satu grup bisa lebih banyak tercatat di luar negeri.

Akibatnya, devisa hasil ekspor yang semestinya masuk ke dalam negeri menjadi tidak optimal. Negara kehilangan potensi penerimaan, sementara pasokan dolar di pasar domestik tidak sebesar nilai ekspor yang terlihat di atas kertas.

Dalam konteks ini, ekspor satu pintu melalui Danantara dapat dilihat sebagai upaya memperbaiki tata kelola ekspor sumber daya alam. Dengan sistem yang lebih terpusat, pemerintah dapat memperkuat pengawasan terhadap harga, volume, kontrak, dan aliran devisa hasil ekspor.

Jika berjalan efektif, kebijakan ini dapat membantu memastikan nilai ekspor yang dicatat lebih mendekati nilai transaksi sebenarnya. Devisa hasil ekspor juga berpeluang lebih optimal masuk ke sistem keuangan domestik, sehingga dapat memberi dukungan lebih nyata bagi stabilitas rupiah.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |