Rupiah Dibuka Perkasa Pagi ini, Dolar AS Turun ke Rp17.610

3 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia — Mata uang Garuda mengawali perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, pada pembukaan perdagangan Jumat (4/9/2026), rupiah tercatata mengalami apresiasi hingga 0,23% ke posisi Rp17.610/US$.

Penguatan tersebut melanjutkan kinerja positif pada perdagangan Kamis (3/9/2026), ketika rupiah ditutup melesat 0,54% ke level Rp17.655/US$. Posisi itu menjadi penutupan terkuat rupiah sejak 21 Mei 2026 atau sekitar 15 pekan terakhir.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,07% ke posisi 98,981.

Meski berbalik naik pagi ini, DXY baru saja mengalami pelemahan tajam sebesar 0,69% pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini masih mendapat sentimen positif dari pelemahan dolar AS di pasar global. Penurunan tajam DXY pada perdagangan sebelumnya memberikan ruang lebih besar bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.

Tekanan terhadap dolar salah satunya datang dari penguatan tajam yen Jepang. Yen melesat lebih dari 2% terhadap dolar AS hingga mencapai posisi 155,47 yen/US$, mendekati level terkuatnya sejak awal Mei.

Penguatan yen dipicu meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga Bank of Japan (BOJ). Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September mencapai 75%.

Ekspektasi tersebut menguat setelah anggota Dewan Kebijakan BOJ Hajime Takata mengatakan bank sentral perlu menaikkan suku bunga secara lebih cepat untuk menghadapi tekanan inflasi. Menguatnya yen ikut membebani DXY karena mata uang Jepang merupakan salah satu mata uang utama dalam indeks dolar AS.

Tekanan terhadap dolar membesar setelah Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Christopher Waller membuka peluang suku bunga tetap dipertahankan dalam pertemuan bulan ini.

Waller mengatakan dirinya cenderung mendukung keputusan mempertahankan suku bunga apabila data ekonomi berikutnya menunjukkan tekanan inflasi mulai mereda.

Pernyataan tersebut mendorong pelaku pasar mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September. Peluang kenaikan suku bunga turun menjadi 48%, dari 59% sebelum Waller menyampaikan pandangannya.

Menurunnya peluang kenaikan suku bunga membuat aset berdenominasi dolar menjadi relatif kurang menarik. Kondisi tersebut menekan greenback sekaligus memberikan tambahan tenaga bagi rupiah.

Namun, arah dolar berikutnya masih akan ditentukan oleh laporan tenaga kerja AS yang dijadwalkan dirilis pada Jumat waktu setempat.

Ekonom memperkirakan perekonomian AS menciptakan 56.000 lapangan kerja baru pada Agustus, setelah secara mengejutkan kehilangan 23.000 pekerjaan pada Juli.

Data klaim tunjangan pengangguran AS yang dirilis Kamis juga menunjukkan kenaikan tipis pada pekan lalu. Meski demikian, data tersebut belum memperlihatkan perubahan berarti pada kondisi pasar tenaga kerja hingga akhir Agustus.

Laporan tenaga kerja yang lebih lemah dari perkiraan dapat semakin mengurangi peluang kenaikan suku bunga The Fed, menekan dolar, dan membuka ruang penguatan lanjutan bagi rupiah.

Sebaliknya, data yang lebih kuat dapat kembali meningkatkan ekspektasi pengetatan moneter dan membatasi laju penguatan mata uang Garuda.

(evw/evw) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |