Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
28 April 2026 16:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Dolar Amerika Serikat (AS) selama ini menjadi acuan utama dalam melihat pergerakan nilai tukar rupiah. Maklum saja, dolar AS merupakan mata uang utama dunia yang banyak digunakan dalam perdagangan internasional, sekaligus menjadi patokan penting di pasar keuangan global.
Namun, jika dilihat dari nilai tukarnya terhadap rupiah, dolar AS ternyata bukan mata uang paling mahal.
Berdasarkan dari data Refinitiv pada perdagangan Selasa (28/4/2026) pukul 13.45 WIB, ada sejumlah mata uang negara lain yang nilainya sudah berada di atas Rp10.000 per satu unit mata uang.
Bahkan, ada mata uang yang nilainya menembus lebih dari Rp45.000. Posisi teratas ditempati oleh dinar Bahrain (BHD) dengan kurs Rp45.680/BHD terhadap rupiah. Artinya, untuk mendapatkan 1 dinar Bahrain, masyarakat Indonesia perlu menukarkan hampir Rp50.000.
Di posisi berikutnya ada rial Oman dengan kurs Rp44.775/OMR, kemudian dinar Yordania sebesar Rp24.281/JOD. Nilai ketiganya jauh berada di atas dolar AS yang pada waktu yang sama tercatat di level Rp17.240/US$.
terlihat bahwa sebagian besar mata uang dengan nilai tinggi berasal dari negara-negara dengan ekonomi relatif kecil, tetapi memiliki struktur ekonomi dan kebijakan moneter yang membuat nilai mata uangnya terjaga.
Misalnya, Bahrain dan Oman merupakan negara Teluk yang ekonominya banyak ditopang oleh sektor energi. Sementara itu, franc Swiss dikenal sebagai salah satu mata uang safe haven karena Swiss memiliki reputasi stabilitas politik, sistem keuangan kuat, dan tingkat kepercayaan investor yang tinggi.
Ada pula dolar Kepulauan Cayman, yang nilainya tinggi karena wilayah tersebut dikenal sebagai salah satu pusat keuangan internasional dengan aktivitas jasa keuangan yang besar.
Sementara itu, euro dan pound sterling Inggris juga masih bernilai mahal terhadap rupiah.
Apa Artinya Bagi Rupiah?
Daftar ini menunjukkan bahwa rupiah memiliki nilai nominal yang lebih kecil dibandingkan banyak mata uang dunia. Namun, hal ini tidak otomatis berarti ekonomi Indonesia lemah.
Nilai nominal mata uang sangat dipengaruhi oleh sejarah redenominasi, kebijakan moneter, inflasi masa lalu, struktur ekonomi, hingga sistem nilai tukar masing-masing negara.
Sebagai gambaran sederhana, Jepang memiliki yen dengan nilai nominal yang kecil terhadap dolar AS, tetapi Jepang tetap merupakan salah satu ekonomi terbesar dunia. Sebaliknya, ada negara dengan mata uang bernilai tinggi secara nominal, tetapi ukuran ekonominya tidak sebesar Amerika Serikat, China, atau Jepang.
Namun, dari sisi masyarakat Indonesia, ini tetap memberi gambaran sederhana soal biaya ketika bepergian ke luar negeri.
Mata uang yang nilainya jauh lebih tinggi terhadap rupiah bisa membuat perjalanan ke negara-negara tersebut terasa lebih mahal, terutama untuk kebutuhan seperti transportasi, makan, hotel, hingga belanja harian.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

3 hours ago
4

















































