Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (6/2/2026) atau jelang akhir pekan.
Merujuk data Refinitiv, rupiah melemah 0,21% ke level Rp16.860/US$ pada penutupan perdagangan hari ini. Pelemahan tersebut melanjutkan tekanan pada perdagangan sebelumnya, ketika rupiah ditutup turun 0,36% di posisi Rp16.825/US$. Level penutupan hari ini juga menjadi yang terlemah dalam dua pekan terakhir atau sejak 22 Januari 2026.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam rentang Rp16.850-Rp16.888/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau masih berada di zona hijau dengan penguatan sebesar 0,02% di level 97,845.
Pelemahan rupiah jelang akhir pekan ini terjadi di tengah sentimen eksternal yang masih dominan. Penguatan dolar dalam beberapa hari terakhir mencerminkan meningkatnya minat pelaku pasar pada aset berdenominasi greenback, yang pada gilirannya dapat menambah tekanan pada mata uang lain, termasuk rupiah.
Dolar AS juga masih mendapat dukungan setelah Presiden AS Donald Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai kandidat ketua Federal Reserve pekan lalu.
Pasar menilai Warsh berpotensi tidak terlalu mendorong pemangkasan suku bunga agresif, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran terhadap independensi bank sentral. Di saat yang sama, meningkatnya sikap risk-off turut menopang dolar, seiring tekanan di pasar saham, khususnya saham teknologi di tengah kekhawatiran besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) dan dampaknya terhadap berbagai sektor.
Sentimen kehati-hatian tersebut muncul meski imbal hasil US Treasury cenderung menurun, setelah sejumlah data mengarah pada pasar tenaga kerja AS yang lebih lemah dari perkiraan menjelang rilis data payrolls Januari pekan depan.
Dari sisi domestik, perhatian pasar juga tertuju pada langkah lembaga pemeringkat. Moody's menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis (5/2/2026).
Penyesuaian ini didorong penilaian Moody's atas menurunnya kepastian dan prediktabilitas kebijakan, khususnya dari sisi tata kelola, yang dinilai berpotensi menekan kredibilitas kebijakan dan kinerja ekonomi jika berlanjut. Moody's juga menilai meningkatnya ketidakpastian kebijakan telah melemahkan kepercayaan investor, tercermin dari volatilitas pasar saham dan nilai tukar.
Menanggapi keputusan tersebut, mengacu pada publikasi Bank Indonesia, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Perry menyampaikan pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 mencapai 5,39% sehingga secara keseluruhan 2025 tumbuh 5,1%. Inflasi tercatat 2,92% dan berada dalam sasaran, sementara stabilitas nilai tukar rupiah terus diperkuat melalui kebijakan Bank Indonesia. Stabilitas sistem keuangan juga terjaga, ditopang likuiditas yang memadai, permodalan perbankan yang kuat, serta risiko kredit yang rendah.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2

















































