Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan antara Rusia dan Armenia kembali memasuki fase tegang. Ini setelah Perdana Menteri (PM) Armenia menolak dorongan dari Moskow untuk segera menggelar referendum terkait keanggotaan negaranya di Uni Eropa (UE). Penolakan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan politik dan ekonomi dari Kremlin terhadap sekutu tradisionalnya itu. Armenia kini makin aktif mendekat ke Barat.
Sebenarnya, perselisihan terbaru kedua negata bermula setelah pertemuan puncak Eurasian Economic Union (EAEU) di Kazakhstan pada 29 Mei lalu. Dalam pertemuan tersebut, Putin bersama para pemimpin Belarusia, Kazakhstan, dan Kirgizstan mengeluarkan pernyataan bersama yang mendesak Armenia agar segera menggelar referendum mengenai rencana bergabung dengan Uni Eropa.
Menurut posisi Rusia, Armenia tidak mungkin menjadi anggota UE sekaligus tetap berada di dalam EAEU. Putin juga memberikan peringatan yang dinilai banyak pihak sebagai ancaman terselubung terhadap ambisi Barat Armenia.
Pemimpin Kremlin itu mengingatkan bahwa "skenario Ukraina" bermula dari aspirasi Kyiv untuk bergabung dengan UE. Pernyataan tersebut muncul di tengah memburuknya hubungan Rusia dengan Barat dan masih berlangsungnya perang di Ukraina.
Menanggapi tekanan tersebut, Pashinyan menegaskan pemerintah Armenia belum melihat alasan untuk menggelar referendum dalam waktu dekat. Dalam pidato video yang disiarkan melalui media sosial, ia mengatakan pemerintah di Yerevan akan tetap bekerja di dalam EAEU sampai pilihan antara dua blok tersebut benar-benar tidak dapat dihindari lagi.
Ia juga menilai referendum saat ini masih bersifat teoritis karena Armenia bahkan belum mengajukan status resmi sebagai kandidat anggota UE. "Menempatkan pilihan yang masih bersifat teoritis ke dalam referendum tentu bukan sesuatu yang sangat masuk akal maupun dapat dibenarkan," kata Pashinyan.
Ia juga menggambarkan hubungan Armenia dengan Rusia saat ini berada dalam "fase transformasi". Baik Kremlin maupun pemerintah Armenia menyatakan bahwa pembicaraan telepon antara Putin dan Pashinyan membahas hasil pertemuan puncak EAEU sekaligus ucapan selamat ulang tahun dari pemimpin Rusia tersebut.
Pemilu
Adapun ketegangan politik itu berkembang menjelang pemilihan parlemen Armenia yang dijadwalkan berlangsung pada 7 Juni. Dalam beberapa hari terakhir, Rusia meningkatkan tekanan terhadap Armenia melalui berbagai langkah diplomatik dan ekonomi.
Akhir pekan lalu, Moskow menarik pulang duta besarnya di Armenia untuk konsultasi. Tidak berhenti di situ, pada Senin otoritas pengawas pertanian Rusia menghentikan impor ikan dan produk makanan laut dari Armenia dengan alasan pelanggaran standar kesehatan.
Kebijakan tersebut berdampak signifikan karena sektor perikanan Armenia mengirim sekitar 30% ekspornya ke pasar Rusia. Larangan itu menyusul pembatasan perdagangan sebelumnya terhadap berbagai produk Armenia, termasuk hasil pertanian, bunga, air mineral, dan minuman beralkohol.
Langkah serupa selama ini dikenal sebagai salah satu instrumen tekanan ekonomi yang kerap digunakan Moskow terhadap negara-negara bekas wilayah pengaruh Soviet yang dinilai mengambil kebijakan tidak sejalan dengan Kremlin.
UE pun ikut bereaksi terhadap langkah Rusia tersebut. Pada Senin, blok tersebut menuduh Moskow berupaya melumpuhkan perekonomian Armenia guna memengaruhi hasil pemilu mendatang.
Tuduhan itu menambah dimensi baru dalam persaingan pengaruh antara Rusia dan Eropa di kawasan Kaukasus Selatan.
Sekutu Rusia
Armenia selama puluhan tahun dikenal sebagai sekutu dekat Rusia. Namun arah kebijakan luar negeri Yerevan mulai berubah setelah konflik dengan Azerbaijan terkait wilayah Nagorno-Karabakh.
Perubahan orientasi Armenia semakin terlihat setelah konflik pada 2023 ketika Azerbaijan melancarkan ofensif militer ke wilayah Nagorno-Karabakh. Dalam konflik tersebut, Armenia kehilangan kendali atas wilayah yang selama puluhan tahun menjadi sumber sengketa dengan Azerbaijan.
Banyak pihak di Armenia menilai Rusia gagal memberikan dukungan yang diharapkan kepada sekutunya saat krisis terjadi. Kekecewaan tersebut mendorong Yerevan untuk mulai mendiversifikasi hubungan internasionalnya.
Proses itu makin cepat sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Dalam beberapa bulan terakhir, Armenia secara signifikan memperdalam hubungan dengan Eropa.
Bulan lalu, negara itu menjadi tuan rumah pertemuan puncak resmi pertamanya dengan UE dalam rangkaian pertemuan regional yang juga dihadiri Presiden Ukraina Volodymyr Zelinsky. Armenia juga menerima kunjungan kenegaraan Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sebuah lawatan yang mendapat perhatian luas.
(luc/sef)
Addsource on Google

4 hours ago
1

















































