Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
21 July 2026 13:30
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank sentral di berbagai negara tengah menghadapi tantangan yang cukup berat. Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang pecah pada akhir Februari 2026 telah mengganggu perdagangan energi di Timur Tengah, mendorong kenaikan harga minyak dunia.
Lonjakan harga energi kemudian merambat ke biaya transportasi, listrik, pupuk, hingga bahan baku industri. Inflasi yang sebelumnya mulai melandai pun kembali meningkat di sejumlah negara.
Ketidakpastian global juga mendorong investor memburu aset aman, terutama dolar AS. Mata uang sejumlah negara berkembang tertekan akibat arus modal keluar dan meningkatnya kebutuhan dolar untuk membayar impor energi.
Kondisi tersebut memaksa bank sentral bekerja lebih keras dalam menjaga inflasi dan meredam gejolak nilai tukar. Tren pemangkasan suku bunga yang berlangsung sepanjang 2024 dan 2025 mulai kehilangan tenaga, bahkan sejumlah bank sentral telah kembali menaikkan bunga.
Bank Sentral Mulai Menaikkan Suku Bunga
Perubahan arah kebijakan mulai terlihat di sejumlah negara.
Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga tiga kali sepanjang 2026 hingga mencapai 4,35%, sebelum mempertahankannya pada Juni.
Sementara itu, bank sentral Norwegia juga menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,25% pada Mei, kemudian menahannya pada Juni.
European Central Bank (ECB) menyusul dengan menaikkan tiga suku bunga utamanya sebesar 25 basis poin pada 11 Juni 2026. Deposit facility rate naik menjadi 2,25%, kenaikan pertama ECB dalam hampir tiga tahun, setelah inflasi Zona Euro kembali menjauh dari sasaran 2%.
Bank of Japan (BOJ) juga menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 1,00% pada 16 Juni 2026. Posisi tersebut merupakan yang tertinggi sejak 1995. Kenaikan dilakukan untuk merespons inflasi, kenaikan harga impor, dan pelemahan yen.
Gelombang kenaikan berlanjut pada Juli. Reserve Bank of New Zealand menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,50%, kenaikan pertama dalam sekitar tiga tahun. RBNZ juga membuka peluang kenaikan lanjutan karena inflasi diperkirakan masih berada di atas sasaran.
Korea Selatan menyusul dengan menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,75% pada 16 Juli. Keputusan tersebut didorong oleh menguatnya ekonomi, tekanan inflasi, pelemahan won, serta risiko dari utang rumah tangga dan kenaikan harga properti.
Di Asia Tenggara, Filipina menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 4,75% pada Juni untuk merespons inflasi energi dan pelemahan peso.
Namun, di tengah kenaikan suku bunga yang mulai dilakukan sejumlah negara, bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), masih mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%-3,75%.
Meski belum menaikkan bunga, The Fed mulai memberikan sinyal lebih hawkish. Risalah pertemuan Juni menunjukkan beberapa pejabat menilai sudah ada alasan untuk menaikkan bunga, sementara sejumlah pejabat lainnya menganggap kebijakan saat ini belum cukup ketat.
Mayoritas pejabat juga menilai risiko inflasi masih cenderung meningkat akibat harga energi, gangguan pasokan, dan kuatnya aktivitas ekonomi. Inflasi AS juga masih berada di atas target The Fed sebesar 2%.
Arah kebijakan berikutnya akan ditentukan dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada Selasa-Rabu (28-29/7/2026). Hasil pertemuan tersebut akan diumumkan pada Kamis (30/7/2026) dini hari WIB.
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia termasuk salah satu negara yang paling agresif menaikkan bunga sepanjang 2026.
Bank Indonesia memulai tahun ini dengan BI Rate sebesar 4,75%. Pada Mei, BI menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%.
Kenaikan berlanjut dalam RDG mingguan pada 9 Juni. BI kembali menaikkan bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%.
Tidak sampai dua pekan kemudian, RDG BI pada 17-18 Juni kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Secara keseluruhan, BI telah menaikkan suku bunga sebesar 100 basis poin hanya dalam waktu sekitar satu bulan.
Pengetatan tersebut terutama diarahkan untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah tingginya ketidakpastian global. BI juga ingin menjaga inflasi 2026 dan 2027 tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%.
Kenaikan harga minyak menjadi tantangan besar karena Indonesia merupakan negara pengimpor minyak. Ketika harga energi dan dolar AS sama-sama naik, kebutuhan devisa untuk membayar impor membesar dan tekanan terhadap rupiah meningkat.
BI juga menghadapi tantangan dari arus modal asing. Selisih tingkat bunga yang menarik dibutuhkan agar investor tetap menempatkan dana pada aset keuangan rupiah, terutama ketika pasar memperhitungkan kemungkinan suku bunga global bertahan tinggi lebih lama.
Arah BI berikutnya akan ditentukan dalam Rapat Dewan Gubernur pada Selasa-Rabu, 21-22 Juli 2026. Jadwal tersebut merupakan RDG bulanan dengan cakupan pembahasan triwulanan.
Keputusan BI juga keluar lebih dahulu dibandingkan pertemuan ECB pada 23 Juli dan The Fed pada 28-29 Juli. Kondisi tersebut membuat BI harus mengambil keputusan di tengah arah kebijakan dua bank sentral terbesar dunia yang belum sepenuhnya pasti.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Addsource on Google

6 hours ago
3

















































