Teknologi Bersih China Makin Digdaya, Ekspor ke ASEAN Rp350 T

1 hour ago 2

Salma Laiqa,  CNBC Indonesia

08 September 2026 17:02

Jakarta, CNBC Indonesia - Asia Tenggara semakin menjadi pasar penting bagi ekspor teknologi bersih China.

Sepanjang 2026, negara-negara ASEAN telah menghabiskan lebih dari US$20 miliar atau sekitar Rp 352 triliun (US$1= Rp 17.625) untuk membeli baterai penyimpanan energi, peralatan jaringan listrik, kendaraan listrik (EV), panel surya, serta teknologi pendingin dan pemanas buatan China.

Nilai tersebut melonjak sekitar 50% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sekaligus menjadikan Asia Tenggara sebagai pasar terbesar di Asia untuk produk teknologi bersih asal China.

Perkembangan ini menjadi semakin penting bagi China karena pasar negara maju, khususnya Eropa dan Amerika Utara, menghadapi tekanan perdagangan yang meningkat. Di sisi lain, kebutuhan energi, industrialisasi, urbanisasi, dan digitalisasi di Asia Tenggara justru terus meningkat.

Nilai ekspor teknologi bersih China ke negara-negara ASEAN, mencakup baterai, kendaraan listrik, komponen jaringan, sistem pendingin dan pemanas, Solar PV, serta teknologi angin. Grafik kiri menunjukkan total ekspor dalam 12-month rolling sum, sementara grafik kanan menunjukkan nilai ekspor bulanan, dalam US$ juta.Nilai ekspor teknologi bersih China ke negara-negara ASEAN, mencakup baterai, kendaraan listrik, komponen jaringan, sistem pendingin dan pemanas, Solar PV, serta teknologi angin. Grafik kiri menunjukkan total ekspor dalam 12-month rolling sum, sementara grafik kanan menunjukkan nilai ekspor bulanan, dalam US$ juta. Foto: EMBER

ASEAN Jadi Pasar Baru Andalan China

Permintaan dari Asia Tenggara tidak hanya datang dari satu jenis produk. Pembelian baterai, komponen jaringan listrik, sistem pendingin dan pemanas, kendaraan listrik, hingga panel surya seluruhnya mencetak rekor pada tahun ini.

Kondisi tersebut menjadi kabar positif bagi produsen China yang selama beberapa tahun terakhir banyak bergantung pada permintaan dari negara maju.

Di Asia Tenggara, prospek permintaan dinilai lebih kuat karena pemerintah di kawasan terus menambah kapasitas energi terbarukan, memperluas jaringan listrik, mendorong adopsi kendaraan listrik, serta memperkuat basis manufaktur domestik.

Panel Surya Menjadi Motor Utama

Sektor tenaga surya menjadi penting bagi ekspor China. 

Sepanjang 2026, negara-negara ASEAN telah mengimpor panel dan sistem tenaga surya buatan China senilai sekitar US$4,1 miliar. Nilainya melonjak hampir 90% dibandingkan periode yang sama pada 2025.

ASEAN bahkan menyumbang sekitar 57% dari seluruh ekspor panel surya China ke Asia.

Filipina, Malaysia, Indonesia, dan Vietnam menjadi pembeli utama. Keempat negara ini tercatat hampir menggandakan nilai belanja panel surya dari China dibandingkan setahun sebelumnya.

Selain tenaga surya, negara-negara Asia Tenggara menghabiskan hampir US$7 miliar untuk baterai penyimpanan energi dan sekitar US$1,6 miliar untuk komponen jaringan listrik.

Impor sistem pendingin dan pemanas mencapai sekitar US$1,2 miliar, sementara nilai kendaraan listrik yang masuk ke kawasan mencapai sekitar US$6,3 miliar.

Indonesia Ikut Dorong Boom Energi Bersih

Indonesia menjadi salah satu negara yang ikut mendorong lonjakan permintaan teknologi bersih China di Asia Tenggara, terutama pada sektor tenaga surya. Nilai impor produk Solar PV Indonesia dari China mencapai sekitar US$1,26 miliar pada Januari-Juli 2026, melonjak hampir 149% secara tahunan (YoY).

Lonjakan tersebut terjadi di tengah target pemerintah membangun PLTS hingga 100 GWp dalam tiga tahun, yang berpotensi memperbesar kebutuhan panel surya, baterai, dan komponen jaringan listrik.

Meski demikian, Indonesia juga mendorong penggunaan komponen dalam negeri dan penguatan industri domestik. Artinya, peningkatan kebutuhan teknologi bersih tidak serta-merta seluruhnya akan dipenuhi dari impor, karena pemerintah juga ingin menangkap nilai tambah dari pengembangan industri energi bersih di dalam negeri.

Secara regional, peluang pertumbuhan masih besar. ASEAN memiliki populasi sekitar 700 juta jiwa dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun, sementara batu bara masih memegang porsi besar dalam bauran listrik kawasan. Kondisi ini membuat Asia Tenggara tidak hanya semakin penting sebagai pasar bagi produsen clean-tech China, tetapi juga sebagai salah satu kawasan kunci dalam transisi energi global.

(slm/slm)

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |