Analisis Korporasi
Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
25 February 2026 19:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor telekomunikasi merupakan salah satu industri padat modal yang menuntut investasi berkelanjutan. Infrastruktur seperti perluasan jaringan fiber optik, menara pemancar, hingga pengembangan data center membutuhkan kucuran dana yang tidak sedikit setiap tahunnya.
Apalagi, untuk bertransformasi dari perusahaan telekomunikasi menjadi perusahaan teknologi. Investasi lebih besar dibutuhkan untuk membangun infrastruktur teknologi mulai dari data center hingga pengembangan perangkat lunak.
Oleh karena itu, struktur permodalan perusahaan menjadi indikator krusial. Kemampuan emiten dalam mengelola utang, yang tecermin dari rasio utang terhadap ekuitas (Debt-to-Equity Ratio/DER), menjadi tolak ukur bagi pemangku kepentingan dalam menilai kapasitas ekspansi perusahaan di masa depan.
Berdasarkan publikasi laporan keuangan kuartal III tahun 2025, tiga emiten telekomunikasi raksasa di Indonesia, yakni PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Indosat Tbk (ISAT), dan PT XLSMART Telecom Sejahtera Tbk (EXCL), memperlihatkan strategi pendanaan dan profil risiko keuangan yang berbeda-beda.
Adu Rasio Utang, Siapa Paling Pruden?
Merujuk pada data fundamental perseroan per akhir September 2025, terlihat adanya disparitas yang cukup signifikan terkait tingkat pengungkit keuangan (leverage) dari ketiga emiten tersebut.
Berikut adalah ringkasan rasio utang ketiga emiten berdasarkan laporan keuangan kuartal III 2025:
Dari tabel di atas, TLKM mencatatkan metrik utang yang paling rendah. Dengan rasio DER di level 0,88 kali, proporsi kewajiban (utang) perusahaan masih lebih kecil dibandingkan dengan total ekuitasnya. Tercatat, total utang jangka pendek dan panjang TLKM berada di kisaran Rp136,88 triliun, berbanding dengan total ekuitas yang mencapai Rp155,01 triliun.
Bagi industri yang sangat haus akan belanja modal (Capital Expenditure/Capex) seperti telekomunikasi, memiliki tingkat DER di bawah 1x merupakan posisi yang sangat konservatif dan fundamental yang solid.
Ruang Ekspansi TLKM Terbuka Lebar
Posisi struktur modal tersebut menempatkan TLKM pada titik yang strategis secara finansial. Dengan beban utang yang relatif rendah terhadap ekuitas, TLKM memiliki ruang yang cukup luas apabila sewaktu-waktu membutuhkan pendanaan eksternal.
Artinya, perusahaan masih memiliki kapasitas besar untuk menyerap fasilitas kredit baru dari perbankan atau menerbitkan surat utang (obligasi) guna mendanai proyek-proyek strategis ke depan, tanpa harus mengkhawatirkan stabilitas neraca keuangannya.
Fleksibilitas ini didukung pula oleh rasio utang terhadap EBITDA (Debt/EBITDA) TLKM yang berada di level moderat, yakni 2,52x, yang secara historis dinilai sangat rasional oleh para kreditur.
Tantangan Leverage Kompetitor
Di sisi lain, struktur permodalan ISAT dan EXCL tampak lebih agresif dalam memanfaatkan pinjaman pihak ketiga. ISAT mencatatkan DER sebesar 2,03x, sementara EXCL berada di level 2,43x. Angka yang berada di atas level 2x ini mengindikasikan bahwa komposisi permodalan perusahaan lebih banyak didominasi oleh utang dibandingkan modal sendiri.
Penggunaan utang dalam jumlah besar merupakan hal yang wajar dalam skenario percepatan pertumbuhan pangsa pasar atau konsolidasi bisnis. Namun, dari kacamata kapasitas pendanaan masa depan, tingginya rasio ini membatasi manuver perusahaan.
Apabila ISAT dan EXCL hendak melakukan investasi bernilai masif dalam waktu dekat, ruang penambahan kredit mereka cenderung lebih terbatas. Penambahan utang baru di level leverage saat ini dapat memicu lonjakan beban bunga yang signifikan, yang pada akhirnya dapat menekan margin profitabilitas.
Beban utang yang lebih tinggi pada kedua kompetitor ini juga terkonfirmasi dari rasio Debt/EBITDA ISAT yang berada di posisi 4,58x dan EXCL di angka 6,12x.
Secara keseluruhan, di tengah ketatnya kompetisi industri telekomunikasi nasional, TLKM memegang keunggulan fundamental dari sisi ketahanan neraca. Ruang utang yang masih longgar memberikan TLKM keleluasaan finansial tertinggi untuk mengeksekusi rencana bisnis dan investasi masa depan dengan lebih stabil.
Struktur Utang Masing - Masing Emiten
Mendalami lebih jauh ke dalam neraca keuangan, arsitektur utang dari ketiga emiten ini memperlihatkan instrumen pendanaan yang ditujukan untuk mengakomodasi tingginya kebutuhan belanja modal, khususnya dalam beberapa tahun terakhir pasca-pandemi.
1. PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
Komposisi kewajiban utama TLKM bersumber dari fasilitas pinjaman bank, penerbitan obligasi korporasi, serta liabilitas sewa. Ruang pendanaan ini secara konsisten diarahkan untuk menyokong perluasan infrastruktur fixed broadband, penguatan bisnis menara, investasi pada ekosistem pusat data (data center), hingga inisiatif Fixed Mobile Convergence (FMC).
Berbeda dengan umumnya yang menggunakan pendanaan eksternal masif untuk akuisisi dalam memuluskan agenda FMC, langkah Telkom mengkonsolidasikan IndiHome ke dalam Telkomsel pada pertengahan 2023 dapat tereksekusi secara terukur di dalam ekosistem grup.
Karena posisi leverage-nya yang rendah dan peringkat kredit yang kuat, TLKM cenderung memiliki fleksibilitas tinggi. Sebagai catatan historis, pada awal 2023, manajemen TLKM sempat menyatakan kesiapan mereka untuk mencari pendanaan eksternal baik melalui kredit perbankan maupun opsi penerbitan obligasi dengan memanfaatkan rating perusahaan yang solid (AAA) untuk mendorong bisnis, tanpa khawatir membebani neraca secara berlebihan.
Foto: REUTERS/Beawiharta
Employees of Indonesia's largest telecommunications services company PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) work at Plasa Telkom building in Jakarta, April 30, 2018. REUTERS/Beawiharta
2. PT Indosat Tbk (ISAT)
Postur liabilitas ISAT ditopang oleh kombinasi pinjaman perbankan berskala besar, penerbitan obligasi, sukuk, serta kewajiban sewa pembiayaan. Basis utang ini melonjak pasca-merger yang efektif pada awal 2022 menjadi Indosat Ooredoo Hutchison, di mana perusahaan membutuhkan dana besar untuk membiayai biaya integrasi jaringan.
Dalam perkembangannya hingga 2025, ISAT tetap mempertahankan tingkat leverage yang tinggi seiring gencarnya transformasi menjadi perusahaan teknologi (tech-co).
Untuk mendanai perluasan cakupan 4G ke luar Jawa, inisiasi 5G, serta pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), ISAT aktif mengelola utangnya. Belanja modal perusahaan yang bernilai belasan triliun rupiah tiap tahunnya secara konsisten ditopang oleh fasilitas kredit dari perbankan serta penerbitan surat utang yang diserap pasar secara bertahap.
Foto: Indosat Ooredoo Hutchison. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
3. PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk (EXCL)
Struktur utang EXCL bertumpu pada penerbitan obligasi berkelanjutan, sukuk ijarah, pinjaman bank jangka panjang, dan liabilitas sewa menara. EXCL sangat aktif di pasar surat utang domestik untuk mendanai capex ekspansif, seperti program fiberisasi jaringan, ekspansi ke wilayah luar Jawa, serta inisiatif bisnis fixed broadband (FMC) sejak 2022.
Selain ekspansi operasional, tingginya posisi utang EXCL didorong oleh siklus pembiayaan kembali (refinancing). Sebagai contoh, penerbitan Obligasi dan Sukuk senilai Rp 5 triliun pada 2022 memasuki siklus jatuh tempo di periode 2024-2025, mengharuskan perseroan merencanakan fasilitas utang baru untuk melunasi kewajiban lama guna menjaga arus kas.
Lebih lanjut, profil leverage ini semakin terakselerasi oleh aksi korporasi peleburan menjadi entitas XLSmart pada 2025. Posisi DER yang menyentuh 2,43x di kuartal III-2025 merupakan cerminan dari memuncaknya kebutuhan likuiditas.
Manajemen harus menyerap utang baru untuk membiayai belanja modal dan tingginya biaya integrasi jaringan dua entitas. Tumpukan antara kebutuhan refinancing rutin dan konsolidasi pasca-merger inilah yang membuat beban utang perseroan melonjak melampaui pesaingnya.
Foto: Ilustrasi XLSmart. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Ilustrasi XLSmart. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls)
Addsource on Google

11 hours ago
4

















































