Tok! Taipan Media dan Aktivis Pro-Demokrasi Divonis 20 Tahun Penjara

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Taipan media sekaligus aktivis prodemokrasi Hong Kong, Jimmy Lai, divonis 20 tahun penjara. Ini jadi salah satu hukuman terberat dalam sejarah penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional di Hong Kong, sebuah keputusan yang memicu kecaman luas dari komunitas internasional dan kelompok pembela kebebasan pers.

Lai, pendiri media yang kini telah dibubarkan, Apple Daily, dijatuhi hukuman atas dakwaan pelanggaran keamanan nasional yang menurut para pengkritik mencerminkan perubahan drastis Hong Kong dari kota yang relatif bebas menjadi wilayah dengan ruang perbedaan pendapat yang nyaris tertutup rapat di bawah kendali otoritas yang berpihak pada Partai Komunis China.

Putri Lai, Claire Lai, menyebut hukuman itu "sangat kejam dan memilukan", mengingat kondisi kesehatan ayahnya yang sudah berusia 78 tahun dan terus menurun. Ia mengatakan hukuman tersebut bisa berarti "dia akan mati sebagai martir di balik jeruji besi".

Sementara itu, putranya, Sebastien Lai, menggambarkan vonis itu "keras" dan "merusak".

Jimmy Lai dinyatakan bersalah pada Desember lalu atas tuduhan penghasutan dan konspirasi untuk berkolusi dengan kekuatan asing. Ia membantah seluruh dakwaan tersebut dan mengajukan pembelaan tidak bersalah.

Tuduhan kolusi dengan pihak asing sendiri membawa ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.

Vonis tersebut langsung menuai kecaman dari Taiwan serta berbagai organisasi kebebasan pers dan hak asasi manusia.

"Hari ini, tirai ditutup untuk kebebasan pers di Hong Kong... Keputusan pengadilan ini menggarisbawahi runtuhnya kebebasan pers di Hong Kong dan penghinaan mendalam pihak berwenang terhadap jurnalisme independen," kata pernyataan Reporters Without Borders, dilansir The Guardian, Senin (9/2/2026).

Human Rights Watch juga merilis pernyataan yang menyebut lama hukuman penjara terhadap Lai sebagai "vonis mati yang efektif".

"Hukuman sebesar ini sungguh kejam dan sangat tidak adil. Penindasan yang dialami Lai selama bertahun-tahun menunjukkan tekad pemerintah China untuk menghancurkan jurnalisme independen dan membungkam siapa pun yang berani mengkritik Partai Komunis."

Sementara itu, Amnesty International menilai kasus ini sebagai "Tonggak suram lainnya dalam transformasi Hong Kong dari kota yang diperintah oleh supremasi hukum menjadi kota yang diperintah oleh rasa takut".

Sejumlah kelompok HAM dan pemerintah Inggris menggambarkan proses hukum terhadap Lai sebagai bermuatan politik. Pemerintah Inggris secara terbuka menyerukan pembebasan Lai. Namun, pada Jumat, media pemerintah China justru melabeli Lai, yang merupakan warga negara Inggris dan telah tinggal di Hong Kong sejak melarikan diri dari China sebagai pengungsi anak-anak, sebagai "penghasut antipemerintah dan pengkhianat".

Jimmy Lai dikenal luas sebagai pendiri Apple Daily, surat kabar populer di Hong Kong yang selama bertahun-tahun mendukung gerakan prodemokrasi yang menguat di kota tersebut pada dekade 2010-an.

Gerakan itu akhirnya dipatahkan pada Juni 2020 setelah pemerintah memberlakukan Undang-Undang Keamanan Nasional yang keras, yang mengkriminalisasi sebagian besar bentuk perbedaan pendapat. Lai ditangkap dan didakwa berdasarkan undang-undang tersebut pada Agustus 2020, sementara Apple Daily dipaksa tutup pada 2021.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengungkapkan bahwa ia telah mengangkat kasus Lai saat bertemu Presiden China Xi Jinping di Beijing pada Januari lalu. Namun hingga kini belum jelas sejauh mana, jika ada, kemajuan yang dicapai Inggris untuk membebaskan Lai.

Sebastien Lai bahkan mengatakan baru-baru ini bahwa pemerintah Inggris belum berbuat cukup banyak untuk ayahnya dan menegaskan bahwa waktu menipis".

Presiden Amerika Serikat Donald Trump juga pernah menyatakan bahwa ia akan mengupayakan pembebasan Lai.

Kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan Lai di dalam penjara terus meningkat. Keluarganya menyebut Lai mengalami penurunan berat badan yang drastis dan giginya telah membusuk.

Ia telah mendekam di balik jeruji sejak Desember 2020 dan menghabiskan sebagian besar waktunya dalam sel isolasi. Otoritas Hong Kong menyatakan bahwa Lai telah menerima perawatan medis yang memadai dan bahwa ia sendiri yang meminta untuk dipisahkan dari narapidana lain.

Dalam persidangan yang disebut sebagai salah satu yang paling penting dalam sejarah Undang-Undang Keamanan Nasional, Lai dijatuhi hukuman bersama delapan terdakwa lain, dua aktivis dan enam mantan eksekutif dari perusahaan medianya, yang semuanya mengaku bersalah.

Persidangan dipimpin oleh tiga hakim yang dipilih langsung oleh pemerintah untuk menangani perkara keamanan nasional. Dalam putusan setebal 855 halaman yang menyatakan Lai bersalah, para hakim menyebutnya sebagai "seorang pengusaha yang sangat cerdas", seraya menambahkan bahwa "Sayangnya, kebencian dan dendamnya yang mendalam terhadap Partai Komunis China... membawanya ke jalan yang penuh duri".

Mereka juga mengatakan Lai adalah sosok yang "bertekad untuk menghancurkan PKC".

Lai dituduh menggunakan Apple Daily dan jaringan politiknya, khususnya di Amerika Serikat, untuk melobi pemerintah asing agar menjatuhkan sanksi terhadap China dan Hong Kong setelah penindasan terhadap aksi prodemokrasi pada 2019 dan 2020. Namun, Lai membantah keras tuduhan tersebut. Ia mengatakan tidak pernah menyerukan sanksi setelah Undang-Undang Keamanan Nasional berlaku, karena "ini akan menjadi langkah bunuh diri".

(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
8000hoki online hokikilat online
1000hoki online 5000hoki online
7000hoki online 9000hoki online
800hoki download slot games 2000hoki download slot games
4000hoki download slot games 6000hoki download slot games
Ekonomi Kota | Kalimantan | | |