Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
23 February 2026 10:20
Jakarta, CNBC Indonesia - Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk membuka data Ultimate Beneficial Owner (UBO) dan konsentrasi pemegang saham pada Februari 2026 mendatang menarik untuk dicermati lebih dalam.
Diskusi pasar sejauh ini banyak berputar pada reaksi psikologis investor ritel, seperti kekhawatiran akan aksi ikut-ikutan investor ternama atas kepemilikan saham tertenu(herding behavior).
Namun, jika kita melihat struktur pasar modal secara lebih teknis, ada implikasi fundamental yang menyentuh pembiayaan institusi. Fokus utamanya bukan pada saham perbankan besar (Big Caps) yang sudah mapan, melainkan pada kelompok saham konglomerasi dan emiten yang kerap disebut sebagai kandidat indeks MSCI (MSCI Play).
Isu utamanya sederhana yaitu bagaimana kebijakan ini mengubah penilaian risiko agunan (collateral) dalam transaksi Repo (Repurchase Agreement).
Ilusi Likuiditas dan Fasilitas Premium
Selama ini, saham-saham dalam kategori High Growth atau konglomerasi tertentu menikmati fasilitas pembiayaan yang cukup longgar. Karena volume transaksi hariannya terlihat besar, institusi keuangan (Bank atau Sekuritas) berani memberikan rasio pinjaman (Loan-to-Value atau LTV) di kisaran 50% hingga 60%.
Artinya, jika seorang pemilik saham menggadaikan asetnya, ia bisa menarik dana tunai hingga 60% dari nilai pasar saham tersebut.
Masalah muncul ketika transparansi data UBO nanti menyingkap struktur kepemilikan yang sebenarnya. Ada potensi bahwa likuiditas yang terlihat di pasar selama ini tidak sepenuhnya murni dari publik (free float), melainkan didominasi oleh akun nominee atau pihak terafiliasi.
Jika hal ini terbukti, profil risiko saham tersebut akan berubah. Aset yang tadinya dianggap likuid, bisa dinilai ulang menjadi aset dengan risiko tinggi atau spekulatif. Konsekuensinya, kreditur akan melakukan penyesuaian batas pinjaman.
Simulasi Hitungan: Dampak Penurunan LTV
Mari kita lakukan simulasi perhitungan sederhana untuk melihat dampak re-rating ini pada neraca keuangan pemegang saham.
Katakanlah ada saham konglomerasi "WXYZ" dengan harga pasar Rp 2.000 per lembar. Pada kondisi awal, institusi memberikan LTV sebesar 60%.
-
Nilai Pinjaman Cair: Rp 1.200 per lembar saham.
Skenario pasca-pembukaan data UBO: Pihak pemberi pinjaman melihat risiko likuiditas meningkat karena konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi. Mereka memutuskan memangkas LTV menjadi standar saham kurang likuid, misalnya 30%.
-
Batas Pinjaman Baru: Rp 2.000 x 30% = Rp 600 per lembar saham.
Di sinilah letak tekanan likuiditasnya.
-
Utang yang sudah ditarik: Rp 1.200.
-
Batas pinjaman baru yang diizinkan: Rp 600.
-
Selisih (Wajib Top-Up): Rp 600 per lembar saham.
Dalam skenario ini, pemegang saham diwajibkan menyetor dana tunai (cash top-up) sebesar Rp 600 per lembar untuk menutup selisih tersebut agar posisinya tidak dilikuidasi.
Tantangan Likuiditas Tunai
Angka Rp 600 mungkin terlihat wajar per lembar. Namun, dampaknya menjadi signifikan jika dikalikan dengan volume kepemilikan institusi.
Jika sebuah entitas memiliki posisi Repo sebanyak 20 juta lot (setara 2 miliar lembar saham) pada emiten tersebut:
-
Total Kewajiban Tunai: 2 Miliar lembar x Rp 600 = Rp 1,2 Triliun.
Menyediakan likuiditas tunai sebesar Rp 1,2 triliun dalam waktu singkat (biasanya T+0 atau T+1) adalah tantangan besar bagi korporasi manapun. Jika kewajiban ini gagal dipenuhi, kreditur memiliki hak kontraktual untuk melakukan eksekusi jaminan alias jual paksa (forced sell).
Foto: Koalse IHSG dan mata uang. (CNBC Indonesia)
Makna Transparansi UBO Sesungguhnya
Analisis ini menunjukkan bahwa transparansi UBO bukan sekadar soal siapa pemilik sahamnya, melainkan bagaimana pasar menilai ulang (re-pricing) risiko aset tersebut.
Risiko volatilitas ke depan tampaknya tidak hanya dipicu oleh kepanikan FOMO ritel, melainkan oleh potensi tekanan likuiditas pada institusi yang harus menyesuaikan neraca keuangannya. Ini adalah mekanisme pasar yang wajar untuk mencari nilai keseimbangan baru yang lebih riil dan transparan.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

1 hour ago
1















































